Liputan6.com, Sidoarjo: Dampak luapan lumpur PT Lapindo Brantas di Sidoarjo, Jawa Timur, ternyata tidak hanya merendam kawasan permukiman dan infrastruktur. Persoalan ini juga berimbas pada sosial ekonomi warga yang semakin terpuruk. Contohnya adanya beberapa warga yang terpaksa makan nasi aking karena tidak memiliki uang untuk membeli beras dan lauk pauk. Demikian pantauan SCTV, Senin (15/1).
Salah satunya adalah Nyonya Salukah. Janda berumur 70 tahun ini sebelumnya masih mampu makan nasi meski dengan lauk-pauk seadanya. Namun setelah kediamannya di Dusun Jatianom, Kelurahan Jatirejo, Porong, Sidoarjo, Jatim, terendam lumpur Lapindo, kebutuhan ekonominya makin lama makin terpuruk.
Untuk bertahan hidup, Salukah terpaksa mengambil sisa-sisa nasi bungkus yang ada di pengungsian Pasar Baru, Porong, untuk kemudian dikeringkan menjadi nasi aking. Sudah hampir sebulan ia mengkonsumsi nasi yang dikeringkan itu. Apalagi Salukah sudah kehilangan mata pencaharian sebagai buruh tani.
Keterpurukan ekonomi Salukah dibenarkan para tetangganya sesama korban lumpur. Entah sampai kapan Nyonya Salukah sanggup bertahan dengan kondisi yang cukup memprihatinkan ini. Apalagi, uang ganti tanah dan bangunan yang dijanjikan PT Lapindo Brantas sampai saat ini belum juga terealisasi.(BOG/Eko Yudho)
Salah satunya adalah Nyonya Salukah. Janda berumur 70 tahun ini sebelumnya masih mampu makan nasi meski dengan lauk-pauk seadanya. Namun setelah kediamannya di Dusun Jatianom, Kelurahan Jatirejo, Porong, Sidoarjo, Jatim, terendam lumpur Lapindo, kebutuhan ekonominya makin lama makin terpuruk.
Untuk bertahan hidup, Salukah terpaksa mengambil sisa-sisa nasi bungkus yang ada di pengungsian Pasar Baru, Porong, untuk kemudian dikeringkan menjadi nasi aking. Sudah hampir sebulan ia mengkonsumsi nasi yang dikeringkan itu. Apalagi Salukah sudah kehilangan mata pencaharian sebagai buruh tani.
Keterpurukan ekonomi Salukah dibenarkan para tetangganya sesama korban lumpur. Entah sampai kapan Nyonya Salukah sanggup bertahan dengan kondisi yang cukup memprihatinkan ini. Apalagi, uang ganti tanah dan bangunan yang dijanjikan PT Lapindo Brantas sampai saat ini belum juga terealisasi.(BOG/Eko Yudho)