Liputan6.com, Surabaya: Layang-layang seperti dimaklumi, sekarang bukan hanya milik para bocah. Jenis permainan ini juga menjadi salah satu sumber kesenangan orang dewasa. Tengok saja pemain layangan di Surabaya, Jawa Timur. Bahkan tak sedikit dari mereka yang sudah pantas dipanggil kakek.
Layang-layang memang sudah melekat di hati warga Indonesia. Permainan yang identik dengan anak laki-laki ini pun memiliki beragam nama. Di Jawa Timur, permainan yang sangat tergantung angin ini disebut Bapangan. Orang Aceh mengenalnya dengan nama Geulayang. Dan di Sulawesi Tenggara, warga setempat menyebut permainan yang konon warisan nenek moyang warga Tionghoa itu dengan nama Kaghati. Sementara orang Sunda, menamainya Langlayangan. Ensiklopedi layang-layang ini bisa dijumpai di Museum Layang-layang Indonesia yang terletak di Jalan H Kamang Nomor 38, Pondok Labu, Jakarta Selatan.
Selain di Indonesia, jenis permainan ini juga digemari warga di luar negeri mulai dari Malaysia hingga Prancis. Tak heran jika kemudian sering dijumpai pertandingan layang-layang tingkat internasional. Selain teknik, yang biasa dipertandingkan adalah keelokan layang-layang.
Untuk adu layangan tingkat internasional, tentu ada sejumlah peraturan yang harus diikuti peserta. Sebagai contoh, karena layang-layang bermain di udara, maka layang-layang peserta yang menyentuh tanah langsung dinyatakan kalah meski belum putus. Selain itu, peserta tak boleh melewati garis batas berukuran 2 x 7 meter. "Berhubung kita di Jawa Timur, kita pakai 2 x 2 meter," kata A. Hoed, Ketua Perkumpulan Penggemar Layang-layang di Surabaya, baru-baru ini.
Seperti memancing, bermain layang-layang juga membutuhkan kesabaran dan konsentrasi. Selain itu, peserta juga harus hapal dengan jenis benang atau gelasan dan layangan yang digunakan. "Kalah konsentrasi, kalahlah kita," kata Subagio, salah seorang penggemar layang-layang di Surabaya.
Layang-layang yang baik tentu enak dikendalikan saat mengudara. Untuk mendapatkan layangan ini, ada sejumlah tips yang bisa digunakan. Saat membuat, ketika meraut bambu sebaiknya diserut dari arah bonggol ke pucuk. Ini dilakukan agar rangka layang-layang lurus sehingga mudah dibentuk.
Faktor lain yang menentukan enak tidaknya layangan saat mengudara, adalah tali kama. Jika tali kama terlalu pendek, layangan dipastikan akan gedek di udara. Sebaliknya, jika terlalu panjang pasti benda yang dulunya dipakai untuk mengukur jarak anggota militer yang berperang ini akan berputar-putar di udara.
Terakhir, penggunaan layang-layang juga tergantung pada embusan angin. Jika angin bertiup kencang, tentu pilih layangan yang berat. Untuk mengetahui apakah layangan berat atau ringan adalah dengan mengibas-kibaskan layangan dan merasakan embusan angin di bagian ekornya.
Jika semua persiapan dan perlengkapan telah sip, terbangkanlah si burung kertas ini di tanah lapang. Ketika mengudara, kita mungkin akan mafhum sensasi dan ketegangan permainan yang sering menjamur saat musim kemarau ini digandrungi orang dewasa di berbagai negara.(YAN/Tim Liputan 6 SCTV)
Layang-layang memang sudah melekat di hati warga Indonesia. Permainan yang identik dengan anak laki-laki ini pun memiliki beragam nama. Di Jawa Timur, permainan yang sangat tergantung angin ini disebut Bapangan. Orang Aceh mengenalnya dengan nama Geulayang. Dan di Sulawesi Tenggara, warga setempat menyebut permainan yang konon warisan nenek moyang warga Tionghoa itu dengan nama Kaghati. Sementara orang Sunda, menamainya Langlayangan. Ensiklopedi layang-layang ini bisa dijumpai di Museum Layang-layang Indonesia yang terletak di Jalan H Kamang Nomor 38, Pondok Labu, Jakarta Selatan.
Selain di Indonesia, jenis permainan ini juga digemari warga di luar negeri mulai dari Malaysia hingga Prancis. Tak heran jika kemudian sering dijumpai pertandingan layang-layang tingkat internasional. Selain teknik, yang biasa dipertandingkan adalah keelokan layang-layang.
Untuk adu layangan tingkat internasional, tentu ada sejumlah peraturan yang harus diikuti peserta. Sebagai contoh, karena layang-layang bermain di udara, maka layang-layang peserta yang menyentuh tanah langsung dinyatakan kalah meski belum putus. Selain itu, peserta tak boleh melewati garis batas berukuran 2 x 7 meter. "Berhubung kita di Jawa Timur, kita pakai 2 x 2 meter," kata A. Hoed, Ketua Perkumpulan Penggemar Layang-layang di Surabaya, baru-baru ini.
Seperti memancing, bermain layang-layang juga membutuhkan kesabaran dan konsentrasi. Selain itu, peserta juga harus hapal dengan jenis benang atau gelasan dan layangan yang digunakan. "Kalah konsentrasi, kalahlah kita," kata Subagio, salah seorang penggemar layang-layang di Surabaya.
Layang-layang yang baik tentu enak dikendalikan saat mengudara. Untuk mendapatkan layangan ini, ada sejumlah tips yang bisa digunakan. Saat membuat, ketika meraut bambu sebaiknya diserut dari arah bonggol ke pucuk. Ini dilakukan agar rangka layang-layang lurus sehingga mudah dibentuk.
Faktor lain yang menentukan enak tidaknya layangan saat mengudara, adalah tali kama. Jika tali kama terlalu pendek, layangan dipastikan akan gedek di udara. Sebaliknya, jika terlalu panjang pasti benda yang dulunya dipakai untuk mengukur jarak anggota militer yang berperang ini akan berputar-putar di udara.
Terakhir, penggunaan layang-layang juga tergantung pada embusan angin. Jika angin bertiup kencang, tentu pilih layangan yang berat. Untuk mengetahui apakah layangan berat atau ringan adalah dengan mengibas-kibaskan layangan dan merasakan embusan angin di bagian ekornya.
Jika semua persiapan dan perlengkapan telah sip, terbangkanlah si burung kertas ini di tanah lapang. Ketika mengudara, kita mungkin akan mafhum sensasi dan ketegangan permainan yang sering menjamur saat musim kemarau ini digandrungi orang dewasa di berbagai negara.(YAN/Tim Liputan 6 SCTV)