Namun yang lebih mengagetkan lagi saat warga masuk ke dalam rumah. Mereka mendapati penghuni rumah, yakni Dominikus Doni, 70 tahun, Kristina Bota, 70 tahun, Petronela Prada Sari, 60 tahun, dan Heri Bali Soge, 19 tahun, sudah tewas dengan kepala dan tubuh berlumuran darah. Sementara tiga orang lainnya, yaitu Namu Sare, Pati, dan Agnes Barek Ola, ditemukan masih hidup meski sekujur tubuhnya penuh luka bekas bacokan. Bahkan pergelangan tangan Agnes putus. Kendati begitu Agnes sempat memberitahu pria yang baru kabur dari rumahnya. Dia adalah Philipus Nama Doan [baca: Satu Keluarga Dibantai Secara Sadis di Flores].
Tanpa membuang waktu warga segera memburu Pihlipus. Tapi upaya mengamankan Phlipus sempat menemui kesulitan. Suasana gelap membuat warga kebingungan apalagi pelaku berusaha menebaskan parangnya kepada setiap orang yang berusaha menangkapnya. Menurut Eko, Kepala Desa Manga Alen, Philipus berhasil dilumpuhkan setelah warga melempari batu hingga tak berdaya. Selanjutnya dia diserahkan ke Markas Kepolisian Sektor Adonara Timur.
Advertisement
Kematian tragis satu keluarga ini mengundang pilu warga desa. Hampir sepanjang hari tangisan warga terus menggema mengiringi kepergian empat warganya yang tewas dengan kondisi mengenaskan. Kesedihan juga dirasakan warga desa lain di Pulau Adonara. Namun kematian itu diyakini mereka sebagai karma yang harus diterima oleh keluarga korban. Selama ini memang warga di Pulau Adonara masih mempercayai sebuah mitos bahwa utang nyawa harus dibayar nyawa.
Sehari setelah peristiwa berdarah itu, personel Polsek Adonara Timur melakukan olah tempat kejadian perkara. Tak hanya itu, polisi juga meminta keterangan sejumlah warga yang melihat posisi korban setelah dibantai Philipus.
Sementara tiga korban selamat termasuk Agnes masih dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Larantuka. Nenek ini cacat seumur hidup karena kehilangan tangan kirinya. Salah satu anak kandung Agnes, Ananias Asan adalah salah saksi hidup peristiwa tragis itu. Menurut Ananias, Philipus seperti kerasukan setan. Dia dengan sadis membantai setiap orang yang ditemui. Namun ibunya lolos dari serangan karena berhasil menepis parang dengan tangannya. Sedangkan Pati, bocah berusia 6 tahun ini bisa luput dari maut karena berpura-pura mati saat pelaku akan mendaratkan parangnya ke tubuhnya.
Philipus kini masih ditahan di Polsek Adonara Timur dengan kondisi tangan dan kaki terikat. Polisi khawatir dia mengamuk di dalam sel. Selain itu polisi juga hingga kini belum membuat berita acara pemeriksaan. Alasannya kondisi kejiwaan Philipus masih labil [baca: Pembunuh Satu Keluarga di Flores Dibekuk].
Philipus memang memiliki catatan kesehatan yang buruk. Pada 2001 dia sempat menjalani perawatan di rumah sakit jiwa di Malaysia selama dua pekan. Di negeri ini Philipus dan istrinya sempat bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia. Namun karena kondisi kejiwaannya, majikannya memulangkan Philipus ke kampung halaman. Sementara sang istri masih menetap di Malaysia. "Saya memang pernah gila di perantauan," kata Philipus.
Sejak saat itu Philipus sering melamun. Di malam nahas itu, dia merasa keluarganya berencana akan membunuh dirinya. Ancaman dalam imajinasinya itu selalu datang dan tak kuasa dia tolak. Pikirannya berkecamuk antara membunuh dan tidak. Akhirnya Philipus memilih membunuh demi keselamatan jiwanya. "Saya potong-potong mereka. Jangan dibiarkan hidup bersenang-senang," ujar Philipus.
Meski Philipus diduga mengalami stres, polisi menganggap kasus ini adalah kriminal murni. Menurut Kepala Kepolisian Sektor Adonara Timur Ajun Komisaris Polisi Paulus Sapa, pelaku mengaku nekat membunuh keluarga itu karena merasa sakit hati perintah kepada keponakannya untuk merawat ternak diabaikan. Untuk sementara pelaku dijerat Pasal 338 sub Pasal 351 Ayat 2 dan 3 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). "Ancaman hukumannya penjara selama 20 tahun," kata Paulus.
Sebenarnya perilaku membahayakan Philipus sudah tercium dua hari sebelumnya. Menurut warga dia sempat membakar rumahnya sendiri. Beruntung kebakaran itu bisa dipadamkan dan tidak menimbulkan korban jiwa.
Rentetan peristiwa mengerikan itu masih terus menyelimuti warga desa. Terlebih bagi keluarga korban. Bahkan Amelia Date, anak salah seorang korban tidak menginginkan Philipus kembali ke rumah. "Suruh dia [Phlipus] mati dulu," kata Amelia [baca : Keluarga Korban Pembantaian Flores Merasa Tak Aman].
Sedangkan Karel kerabat korban percaya bahwa pembantaian ini berhubungan dengan arwah nenek moyang mereka. Selama ini Adonara memang dikenal sebagai sebuah pulau yang penduduknya masih memegang kuat adat istiadat.
Bahkan Tuan Doken, salah seorang dukun adat di Desa Manga Alen percaya kejadian ini tidak sepenuhnya kesalahan Philipus. Sang dukun menganjurkan jika tidak ingin terjadi korban berikutnya maka pihak keluarga harus segera mengadakan ritual lewak tapo guna mendamaikan arwah leluhur.
Tuan Doken menambahkan, lewak tapo adalah sebuah upacara adat pembuktian terhadap perbuatan seseorang. Ritual ini dilakukan untuk mengetahui apakah para leluhur korban pernah bersalah atau tidak. "Mungkin nenek moyang si pelaku pernah berbuat kesalahan di masa silam," kata Doken.
Kepercayaan terhadap hukum karma memang masih melekat di daerah itu. Utang darah harus dibalas dengan darah. Menurut Profesor Alo Liliweri, MS, sosiolog Universitas Cendana, Kupang, untuk mengetahui penyebab kematian seseorang, warga di pulau Adonora memang sering menggelar upacara yang disebut lewak tapo. Dalam ritual ini sang dukun membelah buah kelapa. "Dari isi kelapa itu akan diketahui siapa pembunuhnya," kata Alo.
Alo menambahkan, upacara adat tersebut memang bisa memperkaya khasanah budaya Indonesia. Namun di era globalisasi seperti saat ini tujuan upacara adat seharusnya dikaitkan dengan nilai positif yang membangun.(IAN/Tim Derap Hukum)