Israel Memandang Remeh PBB

Israel tak bakal mengurangi serangan ke Lebanon meski PBB bakal segera mengeluarkan resolusi. Israel bahkan menangkap juru bicara Parlemen Palestina Aziz Dweik di kediamannya di Ramallah, Tepi Barat.

oleh Liputan6Diterbitkan 06 Agustus 2006, 13:40 WIB
Liputan6.com, Beirut: Situasi keamanan di Lebanon masih mencekam. Intensitas serangan Israel belum turun. Bahkan Israel memandang sebelah mata rancangan resolusi yang akan dikeluarkan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Draf itu tak akan mengendurkan serangan mereka ke Lebanon. Suasana kian panas setelah Israel menangkap juru bicara Parlemen Palestina Aziz Dweik di kediamannya di Ramallah, Tepi Barat.

Sikap keras itu ditunjukkan dengan pengerahan pasukan cadangan Israel ke Lebanon pada Sabtu (5/8) malam waktu setempat. Langkah ini menyusul terjadinya aksi saling serang Israel dengan pejuang Hizbullah. Sepanjang hari, serangan udara dan darat Israel menggempur Kota Pelabuhan Tyre dan lembah Beeka. Tindakan ini dibalas dengan serangan 170 roket Hizbullah ke wilayah utara Israel.

Meski mengerahkan kekuatan ke Lebanon, serangan Israel ke Palestina tak berkurang. Negara Zionis ini melancarkan serangan udara ke Kota Rafah. Pemboman di waktu dini hari itu menewaskan seorang warga dan mencederai tiga lainnya.

Semakin gencarnya serangan Israel ke Lebanon menuai reaksi keras baik dari dalam maupun luar negeri. Di Tel Aviv, Ibu Kota Israel, ratusan warga turun ke jalan. Mereka menuntut pemerintah segera menghentikan serangan dan memulai negosiasi. Aksi ini sempat diwarnai bentrokan. Sejumlah orang ditahan.

Aksi serupa digelar ribuan umat muslim Afrika Selatan. Jalan-jalan di ibu kota Cape Town dan sejumlah kota besar lainnya dipenuhi warga. Mereka menuntut Afrika Selatan memberikan sanksi diplomatik dan perdagangan terhadap Israel.

Sementara itu, 15 anggota Dewan Keamanan PBB telah memulai konsultasi membahas draf resolusi gencatan senjata Israel dengan Hizbullah di Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat. Draf tersebut mengharuskan kedua kubu segera menghentikan segala bentuk kekerasan.

Namun usulan AS yang didukung Prancis itu ditolak delegasi Lebanon. Mereka menilai draf itu terlalu memihak Israel karena tak memuat keharusan Israel menarik diri dari Lebanon. Termasuk memuat pernyataan bahwa Israel berhak membalas jika diserang [baca: Rumusan Resolusi Damai Menguntungkan Israel].(TOZ)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya