Liputan6.com, Panarukan: Selama ini, Panarukan terkenal sebagai Kota Daendels. Pengistilahan daerah yang masuk wilayah Situbondo, Jawa Timur, ini berkaitan dengan sejarah pembuatan Jalan Raya Pos (Grote Postweg). Melalui kerja rodi antara Anyer dan Panarukan pada 1808, dibangunlah jalan tersebut. Tapi, Panarukan bukan cuma itu. Ia juga terkenal sebagai pusat pengolahan pindang tongkol berkualitas tinggi. Tongkol Panarukan memang terasa gurih dan lezat. Sampai-sampai, sejumlah turis asal Jepang memesan penganan khas itu dalam jumlah cukup besar, baru-baru ini.
Menurut para perajin penganan laut di sana, pindang ikan adalah produk olahan setengah jadi berbahan baku berbagai jenis ikan laut, seperti tongkol, lemuru, kembung, putihan, bandeng, dan banyar. Namun, hanya tongkol yang ideal dijadikan pindang. Soalnya, ikan ini empuk tapi tak mudah hancur saat dimasak.
Proses pembuatan pindang cukup sederhana. Mula-mula, penyortiran tongkol-tongkol segar. Lalu, ikan pilihan ini direbus dalam tempayan khusus hingga bumbunya meresap. Selesai perebusan, ikan dijemur untuk menghilangkan kandungan uap. Tapi, uap air tersebut masih bermanfaat untuk bahan baku petis. Asal tahu saja, kelezatan penganan ini bertahan sampai dua minggu. Biasanya, sebelum disajikan harus digoreng atau dimasak dengan berbagai jenis masakan.
Sejumlah pengusaha yang bergelut di bisnis ini mendistribusikan produk mereka sejumlah daerah di Jatim, misalmya ke Pasar Situbondo, Probolinggo, Panarukan, dan Banyuwangi. Hasilnya, omzet penjualan mereka rata-rata cukup besar. Para perajin umumnya meraup untung Rp 1 juta per hari. Jangan heran bila seorang produsen ikan pindang mampu menunaikan ibadah haji setiap tahun.(ANS/Hasan Sentot dan Christanto Raharjo)
Menurut para perajin penganan laut di sana, pindang ikan adalah produk olahan setengah jadi berbahan baku berbagai jenis ikan laut, seperti tongkol, lemuru, kembung, putihan, bandeng, dan banyar. Namun, hanya tongkol yang ideal dijadikan pindang. Soalnya, ikan ini empuk tapi tak mudah hancur saat dimasak.
Proses pembuatan pindang cukup sederhana. Mula-mula, penyortiran tongkol-tongkol segar. Lalu, ikan pilihan ini direbus dalam tempayan khusus hingga bumbunya meresap. Selesai perebusan, ikan dijemur untuk menghilangkan kandungan uap. Tapi, uap air tersebut masih bermanfaat untuk bahan baku petis. Asal tahu saja, kelezatan penganan ini bertahan sampai dua minggu. Biasanya, sebelum disajikan harus digoreng atau dimasak dengan berbagai jenis masakan.
Sejumlah pengusaha yang bergelut di bisnis ini mendistribusikan produk mereka sejumlah daerah di Jatim, misalmya ke Pasar Situbondo, Probolinggo, Panarukan, dan Banyuwangi. Hasilnya, omzet penjualan mereka rata-rata cukup besar. Para perajin umumnya meraup untung Rp 1 juta per hari. Jangan heran bila seorang produsen ikan pindang mampu menunaikan ibadah haji setiap tahun.(ANS/Hasan Sentot dan Christanto Raharjo)