Liputan6.com, Ciamis: Kerusakan parah akibat gempa bumi dan tsunami juga dirasakan warga di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Salah satu kawasan yang mengalami kerusakan cukup parah adalah Kecamatan Cipatujah. Melalui pantauan dari udara, Kamis (20/6), SCTV menyaksikan ratusan rumah di dua desa yang terletak di pesisir pantai, Cipatujah dan Ciandum rusak parah serta tidak bisa dihuni lagi.
Berdasarkan catatan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, korban meninggal dan hilang akibat tsunami hingga kini berjumlah 56 orang dan 218 rumah warga hancur. Sedangkan ratusan kepala keluarga yang menjadi korban hingga kini masih tinggal di tenda-tenda pengungsian.
Kerusakan yang hampir sama juga terlihat di Kecamatan Parigi, Ciamis, Jabar. Sebagian besar rumah penduduk rata dengan tanah. Sedikitnya 15 warga tewas dan masih ada tiga warga yang belum ditemukan. Menurut keterangan warga Parigi, saat tsunami datang, air laut naik setinggi lima meter dan menerjang daratan sejauh 700 meter dari bibir pantai.
Akibat bencana ini para petani terpaksa memanen padi lebih awal untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Sementara upaya pencarian korban kini dilakukan oleh anggota TNI karena warga masih trauma.
Di kawasan Kebun Carik, Desa Babakan, Pangandaran, Jabar, tsunami juga tak menyisakan satu pun bangunan utuh. Di lokasi yang sebelumnya dihuni sekitar 160 warga ini tercatat sudah 23 korban tewas, termasuk wanita bernama Batung yang tadi pagi ditemukan di antara puing-puing bangunan [baca: Lagi, Ditemukan Jenazah di Bawah Reruntuhan Bangunan].
Hari ini satu jenazah kembali ditemukan di antara reruntuhan di pesisir pantai barat Pangandaran. Jenazah wanita yang belum diketahui identitasnya ini dibawa ke balai desa setempat. Warga yang selamat dibantu tim penolong masih terus mencari korban tewas karena masih ada warga yang dilaporkan hilang belum ditemukan. Di Desa Legok misalnya, 153 warga dinyatakan hilang dan belum ditemukan.
Reporter SCTV Inka Prawirasastra juga melaporkan, sekitar pukul 15.00 WIB sebanyak 11 jenazah kembali dimakamkan secara massal di Tempat Pemakaman Umum Istana Kuda. Di tempat yang sama kemarin juga telah dimakamkan 20 jenazah secara massal. Sama seperti sebelumnya, seluruh jenazah yang dimakamkan hari ini belum teridentifikasi. Pemakaman terpaksa dilakukan karena kondisi jenazah sudah busuk.
Kendati demikian seluruh jenazah yang dimakamkan telah dicatat ciri-ciri fisiknya. Langkah ini dilakukan agar keluarga korban dapat mengenali anggota keluarga mereka yang hilang. Bagi warga yang ingin mengetahui ciri-ciri jenazah yang telah dimakamkan dapat menghubungi posko bencana alam di wilayah Pangandaran. Delapan jenazah yang belum teridentifikasi saat ini masih berada di balai desa.(ADO/Tim Liputan 6 SCTV)
Berdasarkan catatan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, korban meninggal dan hilang akibat tsunami hingga kini berjumlah 56 orang dan 218 rumah warga hancur. Sedangkan ratusan kepala keluarga yang menjadi korban hingga kini masih tinggal di tenda-tenda pengungsian.
Kerusakan yang hampir sama juga terlihat di Kecamatan Parigi, Ciamis, Jabar. Sebagian besar rumah penduduk rata dengan tanah. Sedikitnya 15 warga tewas dan masih ada tiga warga yang belum ditemukan. Menurut keterangan warga Parigi, saat tsunami datang, air laut naik setinggi lima meter dan menerjang daratan sejauh 700 meter dari bibir pantai.
Akibat bencana ini para petani terpaksa memanen padi lebih awal untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Sementara upaya pencarian korban kini dilakukan oleh anggota TNI karena warga masih trauma.
Di kawasan Kebun Carik, Desa Babakan, Pangandaran, Jabar, tsunami juga tak menyisakan satu pun bangunan utuh. Di lokasi yang sebelumnya dihuni sekitar 160 warga ini tercatat sudah 23 korban tewas, termasuk wanita bernama Batung yang tadi pagi ditemukan di antara puing-puing bangunan [baca: Lagi, Ditemukan Jenazah di Bawah Reruntuhan Bangunan].
Hari ini satu jenazah kembali ditemukan di antara reruntuhan di pesisir pantai barat Pangandaran. Jenazah wanita yang belum diketahui identitasnya ini dibawa ke balai desa setempat. Warga yang selamat dibantu tim penolong masih terus mencari korban tewas karena masih ada warga yang dilaporkan hilang belum ditemukan. Di Desa Legok misalnya, 153 warga dinyatakan hilang dan belum ditemukan.
Reporter SCTV Inka Prawirasastra juga melaporkan, sekitar pukul 15.00 WIB sebanyak 11 jenazah kembali dimakamkan secara massal di Tempat Pemakaman Umum Istana Kuda. Di tempat yang sama kemarin juga telah dimakamkan 20 jenazah secara massal. Sama seperti sebelumnya, seluruh jenazah yang dimakamkan hari ini belum teridentifikasi. Pemakaman terpaksa dilakukan karena kondisi jenazah sudah busuk.
Kendati demikian seluruh jenazah yang dimakamkan telah dicatat ciri-ciri fisiknya. Langkah ini dilakukan agar keluarga korban dapat mengenali anggota keluarga mereka yang hilang. Bagi warga yang ingin mengetahui ciri-ciri jenazah yang telah dimakamkan dapat menghubungi posko bencana alam di wilayah Pangandaran. Delapan jenazah yang belum teridentifikasi saat ini masih berada di balai desa.(ADO/Tim Liputan 6 SCTV)