Konstruksi Bungker Kaliadem Menyulitkan Komunikasi

Konstruksi bangunan bungker Kaliadem, Yogyakarta, dinilai sebagai salah satu penyebab tewasnya dua relawan. Atap yang terbuat dari baja tidak memungkinkan dilakukannya komunikasi dengan pihak luar.

oleh Liputan6Diterbitkan 22 Juni 2006, 18:39 WIB
Liputan6.com, Sleman: Tewasnya dua relawan di dalam bungker yang terdapat di Kaliadem, Sleman, Yogyakarta, pekan lalu masih menyisakan pertanyaan. Bunker yang mestinya menjadi tempat berlindung dari semburan awan panas Gunung Merapi malah menjadi kuburan bagi keduanya [baca: ].

Empat hari setelah kejadian nahas tersebut SCTV berkesempatan memasuki bungker maut itu. Dari konstruksi atap bungker yang terbuat dari baja dan bersentuhan langsung dengan tanah memang tidak memungkinkan dilakukannya komunikasi dengan pihak luar. Hal itu dibuktikan langsung oleh tim Search and Rescue. Telepon genggam dari berbagai jenis dan operator serta radio komunikasi tidak mendapat sinyal apa pun. Ini menepis dugaan bahwa kedua relawan masih berkomunikasi ke luar saat berada di dalam bungker.

Bungker-bungker lain yang dibangun di sekitar Merapi, yakni di Kaliurang dan Tunggul Arum memiliki konstruksi sama dengan yang di Kaliadem. Bila Merapi kembali memuntahkan awan panas seperti pekan lalu, sangat dikhawatirkan warga yang berniat menyelamatkan diri di tempat itu justru akan mengalami nasib serupa dengan dua relawan yang tewas [baca: ].

Untuk menghindari kemungkinan terburuk, ada baiknya kontruksi kedua bungker tersebut dirombak. Dengan perubahan dari sisi konstruksi maupun teknis komunikasi, diharapkan bungker-bungker itu bisa difungsikan sebagaimana mestinya. Sementara kawasan wisata Kaliadem yang nyaris rata dengan tanah, hingga kini masih ditutup untuk umum dan menjadi lokasi penelitian.(ADO/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya