SBY: Penanganan Korban Bencana Diminta Lebih Baik

Setelah empat hari berkantor di Yogyakarta, Presiden SBY meminta semua aparat pemerintah bisa lebih aktif lagi menangani para korban bencana. Menurut dia, sejauh ini penanganan korban sudah makin baik.

oleh Liputan6Diterbitkan 31 Mei 2006, 18:51 WIB
Liputan6.com, Yogyakarta: Setelah empat hari berada di lokasi bencana, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai penanganan para korban pascabencana gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah sudah makin baik dan efektif. Hal ini meliputi penanganan korban luka, penyaluran bantuan, dan perbaikan infrastruktur. Namun begitu, Presiden SBY meminta agar semua aparat pemerintah bisa lebih aktif lagi untuk mencari dan menangani para korban gempa bumi yang membutuhkan bantuan.

"Kita menuntut para lurah untuk mengecek kembali kondisi para korban dari rumahnya yang hancur dan penyaluran bantuan. Ini harus dilakukan agar prioritas dalam tanggap darurat bisa lebih baik lagi," kata Presiden Yudhoyono di hadapan rombongan dan wartawan saat hendak meninggalkan Yogyakarta untuk kembali ke Jakarta, Rabu (31/5) [].

Kendati demikian, pernyataan Presiden SBY ini sangat bertolak belakang dengan pendapat Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman. Menurut Kusmayanto yang juga bertindak sebagai perancang sistem penanganan bencana, sampai sekarang ini koordinasi antara Badan Koordinasi Nasional dan instansi pemerintah masih lemah dan berantakan. Hal ini terjadi karena penanganan para korban masih terkendala dengan adanya tumpang tindih koordinasi bantuan di antara para instansi.

Kusmayanto menambahkan seharusnya kendali koordinasi penanganan gempa bumi di Yogyakarta dan Jateng tetap dipegang Bakornas Penanganan Bencana yang sudah dibentuk pasca-Tsunami 2004. Dia juga mengatakan para korban bencana agar dapat ditangani dengan cepat dan tepat untuk tidak menambah derita mereka.

Akibat gempa bumi yang melanda Yogyakarta dan sekitarnya, kalangan industri pariwisata meminta agar pemerintah menyiapkan perangkat peringatan dini pada daerah yang rawan gempa. Sebab peralatan itu sangat dibutuhkan untuk memberi kenyamanan bagi wisatawan yang sedang berkunjung ke daerah wisata. Demikian disampaikan Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia.

Menurut organisasi pariwisata ini sistem peringatan dini tidak hanya bermanfaat bagi industri pariwisata tapi juga bagi penduduk yang tinggal di sekitar daerah rawan bencana. Selain itu, bisa digunakan untuk meminimalkan jatuhnya korban jiwa.

Dalam peristiwa gempa di Yogyakarta ini, sedikitnya lima hotel berbintang terpaksa ditutup karena rusak total. Sementara itu, sekitar seratus lebih hotel lainnya juga mengalami kerusakan. Akibat belum optimalnya pengoperasian hotel ini, PHRI juga meminta penundaan pembayaran pajak, dan listrik kepada pemerintah.(ZIZ/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya