Sebelum dipindahkan ke lokasi baru, ratusan kepala keluarga itu hidup tak menentu. Mereka kerap berpindah-pindah dari tempat satu ke tempat lain. Sebagian di antaranya juga terpaksa menumpang di rumah sanak keluarga mereka. Sebab, rumah mereka rata dengan tanah saat kerusuhan pecah pada 1998.
Kepala Dinas Transmigrasi Poso Darmansyah mengatakan, tiap kepala keluarga mendapatkan lahan 2,5 hektare. Satu hektare untuk perumahan, sedangkan sisanya buat lahan pertanian. Darmansyah berharap, ratusan warga dari komunitas Muslim dan Kristen itu bisa hidup lebih baik dan terhindar dari kerusuhan etnis yang hingga sekarang belum juga reda.(ICH/Syamsuddin)
Advertisement