Pembangunan Tol Cipularang Diduga Berbau KKN

Aparat penegak hukum diminta anggota Komisi V DPR untuk menginvestigasi adanya unsur KKN dalam proyek pembangunan Tol Cipularang. Sebab, sejak diresmikan 2005 silam Tol Cipularang berkali-kali ambles.

oleh Liputan6Diterbitkan 15 Februari 2006, 01:54 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Anggota Komisi V DPR meminta aparat penegak hukum segera menginvestigasi adanya unsur kolusi, korupsi, dan nepotisme dalam proyek pembangunan Tol Cipularang yang kerap ambles. Pernyataan ini terungkap setelah rapat dengar pendapat antara tim independen bentukan Departemen Pekerjaan Umum dengan Komisi V DPR di Jakarta, Selasa (14/2). Tim menyimpulkan adanya  bukti kesalahan konstruksi pada proyek tersebut.

Dalam rapat itu, tim independen memaparkan bukti soal temuannya atas kurang kuatnya pemadatan pondasi tanah terutama di daerah yang labil dari batuan lempung. Selain itu, menurut Wiratman Wangsadinata, anggota tim independen, ditemukan bukti adanya kerusakan gorong-gorong di bawah jalan tol karena penggerusan air bawah tanah yang sangat deras. Dua hal yang menjadi penyebab sering amblesnya tanah di jalan Tol Cipularang itu, bisa menjadi awal penyelidikan.

Sementara itu, menurut anggota Komisi V DPR Abdulah Azwar Anas, temuan dari tim tersebut menguatkan bukti temuan dari beberapa anggota Komisi V DPR yang menyatakan Tol Cipularang masih belum layak dipakai para pengguna jalan. Apalagi proses perbaikannya hanya tambal sulam. Oleh karena itu, dia mengatakan, para penegak hukum segera menginvestigasi adanya dugaan unsur KKN yang di lakukan oleh kontraktor dan konsultan pembangunan jalan tol tersebut terkait dengan kegagalan konstruksinya.

Abdulah menambahkan, Tol Cipularang hendaknya ditutup sementara sampai adanya jaminan keamanan dan keselamatan bagi pengguna jalan tol. Sebab, sejak diresmikan 2005, Tol Cipularang berkali-kali mengalami kerusakan atau ambles karena pembangunannya diduga tergesa-gesa dan tidak mempedulikan faktor keamanan serta keselamatan para pengguna jalan [].(ZIZ/Heru Budi dan Akhem)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya