Kini, Tiong Giong tengah bersemangat melestarikan wayang potehi. Ini karena proses regenerasi sempat terhenti pada masa Orde Baru. Ketika itu mantan Presiden Suharto mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 14 tahun 1967 tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat Cina. Salah satunya adalah larangan pementasan wayang potehi. "Yang berbau Cina saat itu dilarang," jelas Tiong Giong. Padahal, sudah tiga abad lebih seni budaya suku Hokkian ini masuk ke Indonesia.
Walau demikian, larangan itu disyukuri oleh Tiong Giong yang kemudian beralih profesi sebagai tukang las. Ini untuk menghidupi keluarganya serta kelangsungan warisan dari leluhurnya itu. "Begitu jadi, hasilnya lebih enak daripada wayang potehi," ucap dia bersyukur.
Advertisement
Tiong Giong mengatakan, untuk melestarikan wayang potehi bukanlah pekerjaan yang mudah. Selain sulit mempelajarinya, masih banyak orang tua yang menganggap profesi dalang wayang potehi adalah pekerjaan rendah. "Masih terdengar kata-kata orang tua yang zaman kolot, itu rendah, sehingga banyak anak yang tak mau belajar." kata bapak empat orang anak ini.
Dalam setiap pementasan, cerita yang diangkat berasal dari zaman Dinasti Choo yang mayoritas berkisah tentang perebutan kerajaan. Namun, belakangan lakon yang paling populer di Tanah Air adalah kisah Sin Jin Kwie. Yakni, perang antara Kerajaan Thay Toy Tong dan Kerajaan Thien. Untuk mementaskan cerita ini secara penuh dibutuhkan waktu hingga tiga bulan. Maka, wajarlah generasi muda saat ini kurang berminat mempelajarinya. Meski semua lakon dibawakan dalam bahasa Indonesia.
Kondisi inilah yang membuat Tiong Gie gusar. Lantaran tidak satu pun dari empat putranya yang mengikuti jejaknya sebagai dalang wayang potehi. Dia semakin pesimistis karena dalam kenyataannya profesi ini belum bisa memberikan jaminan hidup. "Bukannya kita nggak minat. Sejak di Indonesia ada larangan itu, kami semua beralih profesi ke perbengkelan," kata Heri, putra Thio Tiong Gie.
Selain menghambat regenerasi dalang wayang potehi. Larangan itu juga membuat Tiong Gie harus kehilangan teman-teman pribumi yang selama ini bergaul dengan dia. "Sudah sampai beberapa kali diadakan reuni, tak ada yang tahu," ucapnya sedih.
Di usia 73 tahun, Tiong Gie mengisi waktunya dengan berkhotbah dalam agama Kong Hu Cu. Kini, sebuah pertanyaan besar belum terjawab. Sampai kapan wayang potehi bakal bertahan? Sementara minat masyarakat terhadap kesenian ini minim.(BOG/Satya Pandia)