Dia tutup usia karena serangan jantung pada Sabtu (14/1) silam pukul 05.55 WIB di rumahnya di Jalan Mampang Prapatan II Nomor 42, Jakarta Selatan. Jenazah sempat disemayamkan di rumah duka di Jalan Cikajang Nomor 8, Kebayoran Baru, Jaksel. Mantan wartawan Tempo ini meninggalkan seorang istri dan anak semata wayang bernama Syaiful Adrian H.
Ratusan handai taulan, termasuk sesama jurnalis maupun pekerja pers seperti Goenawan Mohamad, Fikri Jufri, Putu Wijaya, Putu Setia, Bambang Bujono, Billy Soemawisastra, Rosianna Silalahi, dan Bayu Sutiyono mengiringi kepergian lelaki berdarah Minangkabau tersebut. Dan masih banyak lagi para pekerja pers, terutama dari keluarga besar Tempo, alumni Majalah Forum Keadilan, dan SCTV.
Advertisement
Barisan jurnalis itu seolah ingin memberikan penghormatan terakhir. Maklumlah, pemilik wajah yang kata beberapa orang sepintas mirip Tommy Lee Jones ini cukup lama berkecimpung di dunia pers. Betapa tidak, hampir separuh hidupnya dihabiskan di kancah kewartawanan. Sulung dari tiga bersaudara ini pun kerap mengingatkan kepada para bawahannya agar senantiasa loyal kepada profesi kewartawanan.
Lelaki berkepala plontos yang juga akrab dipanggil dengan sapaan Om atau Kang ini mengawali karier kewartawanan di Tempo pada awal 1981. Di majalah bermoto "Enak Dibaca dan Perlu", lulusan sebuah akademi bahasa asing di Ibu Kota ini mula-mula menjadi orang laboratorium foto. Tak hanya itu. Dia juga pernah menggawangi peliputan luar negeri, terutama saat Perang Teluk Jilid Satu (1991) berkecamuk. Bahkan, dia sempat dikirim ke Timur Tengah untuk lebih mendukung peliputan perang di Teluk Persia.
Boleh dibilang, pria kelahiran 11 Agustus 1951 di Magelang, Jawa Tengah, itu memang terkenal dengan sikap teguhnya. Terutama dengan sesuatu yang diyakininya benar. Sikap seperti inilah yang ditunjukkan saat "badai" mengempaskan Tempo pada 21 Juni 1994. Pencinta jip four wheel ini pun ikut menyingsingkan lengan baju bersama puluhan karyawan. Dia turut memprotes pembredelan kebebasan pers di negeri ini. Ia berdiri di lini depan bersama seluruh masyarakat pers Nusantara.
Memang, Achijar Abbas bersama 42 karyawan Tempo mendampingi Goenawan Mohamad mengajukan gugatan hukum kepada Pengadilan Tinggi Usaha Negara. Gugatan ini sebagai bentuk perlawanan terhadap pemberangusan Tempo. Walau perkara itu rontok di tangan Mahkamah Agung, sebagian dari mereka akhirnya memilih mendirikan usaha bersama bernama X-T (ex-Tempo). Dengan berkantor di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, sebagian alumnus Tempo mulai "menggarap" Media Indonesia Minggu (MIM) pada Januari 1995. Di media massa berbasis berita-berita in-depth investigation inilah, lelaki ramah itu didaulat menjadi koordinator peliputan.
Keandalan di bidang satu ini, membuat sosok pemilik kantong tidur berwarna merah darah yang rela bermalam di kantor itu acap digandeng bekerja sama di bisnis pers. Ini terbukti, selepas di MIM, Achijar Abbas yang disapa teman-teman terdekatnya dengan panggilan Abai ini bekerja di Majalah Forum Keadilan. Di Forum, pemakai kacamata plus yang bertengger di ujung hidung itu pun sibuk bermain dengan data dan lembaran foto. Dia menjadi "kapten" yang paham betul teknik di kamar gelap, mengatur strategi, plus penempatan ilustrasi foto untuk artikel apa pun, sejak Februari 1997 hingga akhir 1999.
Kendati cukup mafhum seluk beluk berita, uniknya AAI tak pernah lupa memproklamirkan diri sebagai "orang awam". Ini dilakukannya saat bergabung untuk mengelola website www.liputan6.com milik SCTV sejak Juli 2000. Motivasi itu jelas dan sederhana: supaya informasi apa pun yang disebar tak berujung njlimet, tapi justru mencerahkan penyimaknya. Tak mengherankan, bila lelaki yang sempat lama "hijrah" ke Kota Pelajar itu mencak-mencak kala menyimak artikel berita yang misinterpretasi atau bahkan tulisan yang membuat dahi berkerenyit kebingungan. Filosofi itu dan kesolidan tim akhirnya membuahkan penghargaan Peringkat Tiga Situs Berita Terbaik sekaligus Situs Terfavorit versi Majalah KomputerAktif pada 2002.
Dan, bagi seluruh anggota redaksi www.liputan6.com asbak hijau muda dari melamin itu kini tak lagi berisi puntung-puntung rokok mild. Sosok bersuara serak basah bernada bariton pun tak bakal terdengar lagi membalas, saat ada yang mengucap: Assalamualaikum!
Suami Roswitha Sitompul ini pun penggila kereta api dan miniaturnya, sampai-sampai pelat nomor mobil disesuaikan dengan Hari Kereta Api, 28 September. Oh ya, saking demen dengan si ular besi, AAI rela berjam-jam nongkrong di stasiun kereta, hanya untuk melihat "indahnya" kereta yang sedang langsir.
Semasa hidup, Achijar Abbas alias AA Ibrahim pun dikenal sebagai pribadi super ramah yang kerap melontarkan segudang banyolan. Tak mengherankan, bila kepergiannya menghadap Illahi menyisakan kenangan mendalam bagi rekan sejawat maupun sahabat. Kini, selamat jalan kawan, doa kami selalu menyertaimu.(Redaksi Liputan 6 Dotcom)