Ribuan Orang di Istana Kepresidenan

Harapan warga yang hendak bersilaturahmi dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beraneka ragam. Ada yang puas dengan cuma bertatap muka dengan Presiden Yudhoyono, mengharapkan bantuan, hingga sekadar bertanya.

oleh Liputan6Diterbitkan 03 November 2005, 18:11 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Ribuan orang dari berbagai daerah memadati Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis (3/11). Kedatangan mereka adalah hendak bersilaturahmi dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono seiring dengan perayaan Idul Fitri 1426 Hijriah. Keramaian massa mulai terlihat sejak tengah hari, padahal acara tatap muka baru dimulai pukul 15.00 WIB .

Sebagian tamu datang membawa anak-anak kecil. Massa yang datang berebut mendapatkan selembar kartu sebelum masuk ke dalam halaman. Tindakan mereka jelas merepotkan petugas istana mengatur ketertiban.

Tak sedikit harapan tersimpan di hati para tamu setibanya di Istana Presiden. Keinginan mereka pun beraneka ragam. Ada yang puas dengan cuma bertatap muka dengan Presiden Yudhoyono, mengharapkan bantuan, hingga sekadar bertanya. Ini diakui salah seorang ibu. "Nanyain kok minyak tanah naik. Tapi Presiden cuma nyuruh sabar terus," kata dia.

Tadi pagi, mantan Presiden Suharto juga menggelar open house di kediamannya di Jalan Cendana Nomor 8, Menteng, Jakpus. Di sana sejumlah warga mengantre. Beberapa pejabat juga hadir menemui Suharto di antaranya mantan Menteri Sekretaris Negara Moerdiono .

Hal serupa dilakukan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur di kediamannya di bilangan Ciganjur, Jakarta Selatan. Sejumlah pejabat turut berlebaran di sana, di antaranya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro dan Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar.

Berbeda dengan yang dilakukan mantan Presiden Megawati Sukarnoputri. Istri Taufik Kiemas ini memilih beristirahat menyusul penyakit demam berdarah yang dideritanya . Dibatalkannya acara open house di rumah Megawati sudah disampaikan melalui media massa sejak dua hari silam.

Adapun mantan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie, rencananya petang ini juga mengundang masyarakat bersilaturahmi. Acara bakal berlangsung di kediamannya di kawasan Patra Kuningan, Jaksel.

Kebahagiaan berlebaran juga ikut dirasakan sejumlah korban Tsunami di tenda darurat di kawasan Lampulo, Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam. Sukacita dirasakan tatkala saudara-saudara mereka datang. Keluarga Hafifah, misalnya. Janda dua anak ini sibuk melayani saudaranya dibantu anaknya Nurul dan Jihan. Ia pun menyediakan hidangan timpan dan kue bawang.

Sudah hampir setahun Hafifah berada di pengungsian. Selama itu pula harapannya akan bantuan pupus. Ia mengaku sudah lelah menunggu. Di daerah ini ada 300 jiwa lainnya bernasib sama dengan Hafifah.

Demikian pula suka duka yang dialami para pengungsi di barak Brangong, Kabupaten Aceh Besar. Sekitar 200 orang saling mengucap maaf di Hari Raya Idul Fitri ini. Di kesempatan itu Juru Bicara Gerakan Aceh Merdeka di Swedia, Bachtiar Abdullah, turut hadir. Alhasil kesempatan itu dimanfaatkan para pengungsi menyampaikan keluh kesah. Sudah tiga hari Bachtiar berada di Aceh sejak datang pada Senin silam .

Bachtiar juga menyempatkan diri berkeliling barak untuk menyalami para pengungsi. Inilah kiranya suasana damai yang mungkin diinginkan banyak orang di Tanah Rencong setelah sekitar 30 tahun dilanda konflik.

Sementara cerita sedih berlebaran dialami ratusan warga Dusun Salena, Kelurahan Buluri, Kecamatan Palu Barat, Sulawesi Tengah, di pengungsian. Mereka yang ditampung di Aula Dinas Pekerjaan Umum Palu ini tak bisa merayakan Lebaran bersama sanak saudara di kampung. Jangankan pakaian baru atau makan opor ayam, anggota keluarga mereka pun banyak yang belum ditemukan.

Warga masih takut pulang ke rumah setelah terjadi konflik antara Kepolisian Daerah Sulteng dan kelompok Madi . Ini diakui Endi, warga Salena. "Jauh sekali perbedaan antara di sini dengan di kampung," ucap dia.

Kondisi para pengungsi tersebut memprihatinkan. Sehari-hari mereka bertahan hidup dengan fasilitas seadanya. Anak-anak mereka bahkan ada yang tidur cuma beralaskan lantai. Sebelum di pengungsian, penderitaan juga dialami saat mereka bertahan hidup di hutan selama sepekan.(AIS/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya