Aceh Aman

Warga sudah beraktivitas normal, kontak tembak antara anggota TNI-Polri dan GAM pun tak terdengar lagi menjelang penandatanganan perjanjian damai RI-GAM. Perekonomian Nanggroe Aceh Darussalam makin bergeliat.

oleh Liputan6Diterbitkan 10 Agustus 2005, 15:11 WIB
Liputan6.com, Banda Aceh: Sepekan menjelang penandatanganan perjanjian damai antara pemerintah dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) 15 Agustus 2005, kondisi di Aceh Utara, Bireun dan Pidie secara garis besar aman. Warga beraktivitas normal. Kontak tembak antara anggota TNI-Polri dan GAM pun sudah tak terdengar. Demikian laporan koresponden SCTV Chairul Dharma dan Cuk Arbianto dari Nanggroe Aceh Darussalam, baru-baru ini.

Satu-satunya kasus gangguan keamanan yang terjadi adalah peristiwa penculikan seorang warga Aceh Utara dan dua warga Bireun, Kamin pekan kemarin. Tapi kasus itu tak terlalu mempengaruhi warga. Sebaliknya, warga di Serambi Mekah sangat berharap perjanjian yang akan ditandatangani pekan depan itu bisa membawa kedamaian dan keamanan di Aceh [baca: DPR Setuju Draf Perjanjian Damai RI-GAM].

Aroma perubahan juga sangat mempengaruhi roda perekonomian di Tanah Rencong. Frekuensi penumpang bus dari Banda Aceh ke Medan, Sumatra Utara atau sebaliknya, misalnya, meningkat drastis. Setiap perusahaan bus, kini, berani menyiapkan hingga 150 armada tiap hari karena yakin akan selalu sesak penumpang.

Rute bus Medan-Banda Aceh berubah menjadi jalur padat. Frekuensi perjalanan bus rute ini meningkat tajam dari 10 kali per hari menjadi 50 kali per hari. Jalur darat menuju Banda Aceh berubah menjadi primadona. Kalau sebelumnya hanya ratusan orang per hari yang memilih jalur darat, kini ribuan penumpang tak takut lagi memilih jalur darat untuk keluar masuk Aceh.(ICH)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya