Liputan6.com, Jakarta: Pemerintah berencana menaikkan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) untuk mobil sekitar 2,5 hingga 10 persen. Rencana ini dimaksudkan dalam rangka menunjang program penghematan energi nasional.
Kenaikan PPnBM ini, sebenarnya tidak akan berpengaruh terhadap penjualan mobil di Indonesia yang tahun ini diperkirakan mencapai 550 ribu unit. Kalaupun ada penurunan penjualan diperkirakan hanya sekitar 10 hingga 20 ribu unit [baca: Kenaikan Pajak Barang Mewah Tak Mempengaruhi Investasi].
Menteri Perindustrian Andung Nitimihardja menyatakan bahwa departemennya akan mensosialisasikan penggunaan sumber energi alternatif batubara. Langkah ini dilakukan sebagai upaya penghematan energi.
Untuk itu pula, pihaknya kini tengah menginventarisasi kebutuhan energi di kalangan industri. Selama ini yang paling banyak menggunakan energi listrik adalah industri tekstil berbasis serat sintetis dengan perbandingan 40 persen energi listrik dari pembangkit dan bahan bakar minyak (BBM) 60 persen.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, bulan Juni 2005 nilai ekspor maupun impor Indonesia mengalami penurunan. Penurunan ekspor bisa mencapai 6,36 persen yang disebabkan merosotnya ekspor nonmigas. Penurunan terbesar terjadi pada lemak dan minyak hewan nabati. Sedangkan penurunan nilai impor didominasi menurunnya impor nonmigas.
Di sisi lain ekspor minyak dan gas justru mengalami peningkatan akibat naiknya volume ekspor minyak mentah dan gas alam Indonesia. Begitu pun impor minyak dan gas naik dari impor hasil minyak mentah.(IAN/Dewvina Oktora)
Kenaikan PPnBM ini, sebenarnya tidak akan berpengaruh terhadap penjualan mobil di Indonesia yang tahun ini diperkirakan mencapai 550 ribu unit. Kalaupun ada penurunan penjualan diperkirakan hanya sekitar 10 hingga 20 ribu unit [baca: Kenaikan Pajak Barang Mewah Tak Mempengaruhi Investasi].
Menteri Perindustrian Andung Nitimihardja menyatakan bahwa departemennya akan mensosialisasikan penggunaan sumber energi alternatif batubara. Langkah ini dilakukan sebagai upaya penghematan energi.
Untuk itu pula, pihaknya kini tengah menginventarisasi kebutuhan energi di kalangan industri. Selama ini yang paling banyak menggunakan energi listrik adalah industri tekstil berbasis serat sintetis dengan perbandingan 40 persen energi listrik dari pembangkit dan bahan bakar minyak (BBM) 60 persen.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, bulan Juni 2005 nilai ekspor maupun impor Indonesia mengalami penurunan. Penurunan ekspor bisa mencapai 6,36 persen yang disebabkan merosotnya ekspor nonmigas. Penurunan terbesar terjadi pada lemak dan minyak hewan nabati. Sedangkan penurunan nilai impor didominasi menurunnya impor nonmigas.
Di sisi lain ekspor minyak dan gas justru mengalami peningkatan akibat naiknya volume ekspor minyak mentah dan gas alam Indonesia. Begitu pun impor minyak dan gas naik dari impor hasil minyak mentah.(IAN/Dewvina Oktora)