Liputan6.com, Surabaya: Sengketa di tubuh Yayasan Pendidikan Teknik Surabaya (YPTS) belum reda. Setelah diwarnai kericuhan, kedua kubu masih sama-sama mengklaim memiliki hak mengelola Kampus Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS). Di satu sisi, kubu pengurus baru yayasan didukung sebagian mahasiswa. Sedangkan pada sisi berbeda, pengurus lama yayasan disokong oleh I Ketut Sandhi [baca: Mahasiswa ITATS Mengusir Pengurus Lama Yayasan].
Ketua Yayasan versi mahasiswa, Abdul Dzikri (bukan Ahmad Fikri seperti diberitakan sebelumnya--Red.) menilai, aksi mahasiswa terjadi sebagai reaksi dari pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan pihak I Ketut Sandhi. "Kita melihat sebab akibat," kata Abdul di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (13/7).
Lain lagi pandangan Putu Ngurah Sutisna, Pembantu Rektor Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS) versi I Ketut Sandhi. Putu mengatakan, biar bagaimanapun, supremasi hukum harus tetap diperhatikan. "Kalau begini mana yang ilegal dan legal, kalau dibiarkan terus [menjadi tidak jelas]," kata Putu.
Sedangkan pihak Kepolisian Resor Kota Surabaya Timur berjanji tetap bersikap tegas dalam mengusut tuntas kasus itu. Menurut Kepala Kepolisian Surabaya Timur Ajun Komisaris Besar Polisi Juansih (bukan Juangsih seperti ditulis sebelumnya--Red.), pihaknya akan mempertemukan kubu I Ketut Sandhi, Abdul Dzikri, dan mahasiswa. "Sehingga kita ada titik temu di sana. Apakah ada hal-hal yang perlu dikoordinasi," ujar Juansih.
Merunut ke belakang, konflik dan sengketa di tubuh ITATS sudah berlangsung lama. Masing-masing kubu saling mengklaim paling berhak mengelola yayasan tersebut. Penyelesaian yang kerap diwarnai kekerasan justru malah mencoreng dunia pendidikan [baca: Memukul Dosen, Mahasiswa ITATS Dikeroyok].
Hingga kini, kasus perebutan yayasan tersebut masih dalam proses hukum. Namun masing-masing pihak sering kali mengerahkan kekuatan massa untuk menguasai ITATS. Kubu I Ketut Sandhi pun tetap mengklaim pengelolaan Kampus ITATS menjadi haknya. Begitu pula kubu Abdul Dzikri. Pihak Abdul beralasan, kubu Sandhi diduga telah mengkorupsi dana pendidikan ITATS senilai Rp 31 miliar.
Peristiwa kekerasan yang terjadi hari ini tentu disayangkan banyak pihak. Semestinya konflik di Kampus ITATS masih bisa diselesaikan secara damai, tanpa ada aksi brutal. Tetapi rupanya cara-cara jalanan yang masih dilakukan.(AIS/Tim Liputan 6 SCTV)
Ketua Yayasan versi mahasiswa, Abdul Dzikri (bukan Ahmad Fikri seperti diberitakan sebelumnya--Red.) menilai, aksi mahasiswa terjadi sebagai reaksi dari pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan pihak I Ketut Sandhi. "Kita melihat sebab akibat," kata Abdul di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (13/7).
Lain lagi pandangan Putu Ngurah Sutisna, Pembantu Rektor Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS) versi I Ketut Sandhi. Putu mengatakan, biar bagaimanapun, supremasi hukum harus tetap diperhatikan. "Kalau begini mana yang ilegal dan legal, kalau dibiarkan terus [menjadi tidak jelas]," kata Putu.
Sedangkan pihak Kepolisian Resor Kota Surabaya Timur berjanji tetap bersikap tegas dalam mengusut tuntas kasus itu. Menurut Kepala Kepolisian Surabaya Timur Ajun Komisaris Besar Polisi Juansih (bukan Juangsih seperti ditulis sebelumnya--Red.), pihaknya akan mempertemukan kubu I Ketut Sandhi, Abdul Dzikri, dan mahasiswa. "Sehingga kita ada titik temu di sana. Apakah ada hal-hal yang perlu dikoordinasi," ujar Juansih.
Merunut ke belakang, konflik dan sengketa di tubuh ITATS sudah berlangsung lama. Masing-masing kubu saling mengklaim paling berhak mengelola yayasan tersebut. Penyelesaian yang kerap diwarnai kekerasan justru malah mencoreng dunia pendidikan [baca: Memukul Dosen, Mahasiswa ITATS Dikeroyok].
Hingga kini, kasus perebutan yayasan tersebut masih dalam proses hukum. Namun masing-masing pihak sering kali mengerahkan kekuatan massa untuk menguasai ITATS. Kubu I Ketut Sandhi pun tetap mengklaim pengelolaan Kampus ITATS menjadi haknya. Begitu pula kubu Abdul Dzikri. Pihak Abdul beralasan, kubu Sandhi diduga telah mengkorupsi dana pendidikan ITATS senilai Rp 31 miliar.
Peristiwa kekerasan yang terjadi hari ini tentu disayangkan banyak pihak. Semestinya konflik di Kampus ITATS masih bisa diselesaikan secara damai, tanpa ada aksi brutal. Tetapi rupanya cara-cara jalanan yang masih dilakukan.(AIS/Tim Liputan 6 SCTV)