Liputan6.com, Banten: Provinsi Banten masih terbilang muda. Namun, sejarah Banten sudah terbilang tua. Banyak peninggalan sejarah berserakan seperti terlihat di Banten Lama, sekitar sepuluh kilometer sebelah utara Kota Serang. Di antaranya Masjid Agung, Keraton Surosowan, benteng Speelwijk, dan Istana Kaibon.
Tapi seperti banyak benda peninggalan sejarah lainnya di Tanah Air, sebagian besar bangunan istana itu sudah rusak. Istana Kaibon, misalnya. Kompleks istana yang terletak di sebelah timur Keraton Surosowan itu hanya menyisakan pagar tembok istana yang utuh. Bangunan lain banyak yang runtuh. Istana Kaibon (keibuan) diperuntukkan bagi kaum ibu.
Sedangkan kondisi Keraton Surosowan juga tak jauh berbeda. Kemegahan istana itu hanya terlihat dari reruntuhan tembok. Keraton yang dibangun Maulana Hasanudin, Sultan Banten I, dihuni hingga generasi ke-20 Sultan Banten. Belakangan, di istana ini sempat ditemukan sebagian dari tempat tinggal para tentara keraton yang bertugas melindungi istana.
Di Surosowan juga dikenal kolam pancuran emas di sisi selatan benteng bagian dalam. Pancuran emas ini hanya istilah saja. Pipa pancuran terbuat dari perunggu. Saat Jepang menjajah Indonesia, Nippon sempat mencongkelnya. Namun, Nippon kemudian membiarkan saat mengetahui itu bukan emas. Kolam pancuran emas ini pernah dipugar pada 1979.
Satu bangunan yang masih awet dan bertahan hingga sekarang adalah Masjid Agung Banten. Saat itu, salah satu misi utama Maulana Hasanudin adalah menyebarkan agama Islam. Banyak bagian dalam masjid yang masih sesuai dengan aslinya, saat masjid itu dibangun sekitar lima abad lampau. Salah satu mimbar masjid hingga kini masih digunakan para khatib saat menyampaikan khotbah salat Jumat.
Ada sumur di dalam kompleks Masjid Agung. Sumur ini adalah peninggalan Maulana Hasanudin. Masyarakat setempat menyebutnya sumur zamzam. Warga juga percaya air ini mengandung berkah. Air ini juga layak diminum langsung tanpa harus dimasak terlebih dahulu. Bahkan Dinas Kesehatan telah menjamin air ini layak dikonsumsi.
Tiap akhir pekan, ratusan pengunjung datang ke Masjid Agung untuk berziarah. Di kompleks masjid, terdapat makam Maulana Hasanudin, dan permaisurinya, makam Sultan Agung Tirtayasa dan sejumlah makam lain. Umumnya para peziarah berasal dari kelompok pengajian dari Jakarta dan Jawa Barat.
Di samping peninggalan situs keraton, Banten juga memiliki wisata alam di Pulau Dua yang didiami ratusan jenis burung. Uniknya, untuk sampai ke Pulau Dua tak perlu menggunakan perahu. Cukup dengan naik ojek. Pasalnya, perairan yang memisahkan Pulau Dua dengan Desa Sawah Luhur telah dangkal. Kini, daratan baru itu digunakan warga setempat untuk empang ikan.
Pohon-pohon yang rimbun dan hijau menjadi rumah aneka jenis burung. Pengunjung yang berniat melihat burung juga dapat menatap kehidupan unggas-unggas ini melalui sebuah pohon yang telah dipasangi tangga. Lewat tangga yang tingginya sekitar sepuluh meter itu, wisatawan dapat melihat pemandangan menakjubkan ke alam sekitar. Burung-burung tampak hinggap di atas pohon. Di setiap pohon, ada sekitar 20 hingga 30 burung.
Beberapa puluh tahun lampau, jumlah burung yang bermukim di Pulau Dua ini lebih banyak dari sekarang. Kini, jumlah burung di pulau ini ditaksir sekitar ratusan saja. Populasi burung menyusut diduga lantaran ulah manusia dan kondisi alam yang tak mendukung. Akibatnya, burung-burung ini berimigrasi mencari makanan di tempat yang lebih baik. Saban subuh, kawanan burung itu terbang ke luar Pulau Dua dan kembali saat matahari terbenam.(MAK/Tim Liputan 6 SCTV)
Tapi seperti banyak benda peninggalan sejarah lainnya di Tanah Air, sebagian besar bangunan istana itu sudah rusak. Istana Kaibon, misalnya. Kompleks istana yang terletak di sebelah timur Keraton Surosowan itu hanya menyisakan pagar tembok istana yang utuh. Bangunan lain banyak yang runtuh. Istana Kaibon (keibuan) diperuntukkan bagi kaum ibu.
Sedangkan kondisi Keraton Surosowan juga tak jauh berbeda. Kemegahan istana itu hanya terlihat dari reruntuhan tembok. Keraton yang dibangun Maulana Hasanudin, Sultan Banten I, dihuni hingga generasi ke-20 Sultan Banten. Belakangan, di istana ini sempat ditemukan sebagian dari tempat tinggal para tentara keraton yang bertugas melindungi istana.
Di Surosowan juga dikenal kolam pancuran emas di sisi selatan benteng bagian dalam. Pancuran emas ini hanya istilah saja. Pipa pancuran terbuat dari perunggu. Saat Jepang menjajah Indonesia, Nippon sempat mencongkelnya. Namun, Nippon kemudian membiarkan saat mengetahui itu bukan emas. Kolam pancuran emas ini pernah dipugar pada 1979.
Satu bangunan yang masih awet dan bertahan hingga sekarang adalah Masjid Agung Banten. Saat itu, salah satu misi utama Maulana Hasanudin adalah menyebarkan agama Islam. Banyak bagian dalam masjid yang masih sesuai dengan aslinya, saat masjid itu dibangun sekitar lima abad lampau. Salah satu mimbar masjid hingga kini masih digunakan para khatib saat menyampaikan khotbah salat Jumat.
Ada sumur di dalam kompleks Masjid Agung. Sumur ini adalah peninggalan Maulana Hasanudin. Masyarakat setempat menyebutnya sumur zamzam. Warga juga percaya air ini mengandung berkah. Air ini juga layak diminum langsung tanpa harus dimasak terlebih dahulu. Bahkan Dinas Kesehatan telah menjamin air ini layak dikonsumsi.
Tiap akhir pekan, ratusan pengunjung datang ke Masjid Agung untuk berziarah. Di kompleks masjid, terdapat makam Maulana Hasanudin, dan permaisurinya, makam Sultan Agung Tirtayasa dan sejumlah makam lain. Umumnya para peziarah berasal dari kelompok pengajian dari Jakarta dan Jawa Barat.
Di samping peninggalan situs keraton, Banten juga memiliki wisata alam di Pulau Dua yang didiami ratusan jenis burung. Uniknya, untuk sampai ke Pulau Dua tak perlu menggunakan perahu. Cukup dengan naik ojek. Pasalnya, perairan yang memisahkan Pulau Dua dengan Desa Sawah Luhur telah dangkal. Kini, daratan baru itu digunakan warga setempat untuk empang ikan.
Pohon-pohon yang rimbun dan hijau menjadi rumah aneka jenis burung. Pengunjung yang berniat melihat burung juga dapat menatap kehidupan unggas-unggas ini melalui sebuah pohon yang telah dipasangi tangga. Lewat tangga yang tingginya sekitar sepuluh meter itu, wisatawan dapat melihat pemandangan menakjubkan ke alam sekitar. Burung-burung tampak hinggap di atas pohon. Di setiap pohon, ada sekitar 20 hingga 30 burung.
Beberapa puluh tahun lampau, jumlah burung yang bermukim di Pulau Dua ini lebih banyak dari sekarang. Kini, jumlah burung di pulau ini ditaksir sekitar ratusan saja. Populasi burung menyusut diduga lantaran ulah manusia dan kondisi alam yang tak mendukung. Akibatnya, burung-burung ini berimigrasi mencari makanan di tempat yang lebih baik. Saban subuh, kawanan burung itu terbang ke luar Pulau Dua dan kembali saat matahari terbenam.(MAK/Tim Liputan 6 SCTV)