Liputan6.com, Jakarta: Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Bank Mandiri di Jakarta, Senin (16/5), akhirnya menetapkan Agus D.W. Martowardojo, 47 tahun, sebagai direktur utama. Sedangkan Edwin Gerungan yang mantan ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) menjabat komisaris utama.
RUPS juga sekaligus memberhentikan direksi sebelumnya, Direktur Utama E.C.W. Neloe, Wakil Direktur Utama I Wayan Pugeg dan Direktur Korporasi M. Soleh Tasripan. Ketiganya berstatus tersangka terkait kredit macet di bank terbesar di Indonesia ini [baca: Neloe Menghadiri RUPS Bank Mandiri].
Sejumlah pihak menyambut positif terpilihnya Agus sebagai Dirut Mandiri. Mereka menilai Dirut Bank Permata ini merupakan pilihan yang tepat dalam upaya memperbaiki kinerja Bank Mandiri.
Gubernur Bank Indonesia Burhanudin Abdullah menyebut Agus sebagai tokoh perbankan yang dinamis. Ia juga yakin Agus dapat memperbaiki Bank Mandiri karena sebelumnya lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini menjabat salah satu direktur di bank pelat merah ini. "Dia punya idealisme," kata Burhanudin.
Ketua Komisi XI DPR Paskah Suzzeta juga memiliki optimisme yang sama. Paskah menilai Agus mempunyai integritas dan gagasan yang bagus. Ia juga menyebut Agus sebagai pribadi yang konsisten sehingga sempat mengundurkan diri dari Bank Mandiri. "Dulu mengundurkan diri karena gagasannya sering tak sejalan," kata Paskah.
Kepada wartawan, Agus juga menyatakan optimistis dapat menjadikan Bank Mandiri sebagai bank milik pemerintah terkuat di Indonesia. Namun, di balik optimisme itu, Agus dihadapkan pada tugas berat untuk menyelesaikan berbagai kredit macet di Bank Mandiri.
Agus adalah bankir dengan reputasi bersih. Ia adalah bankir senior dengan segudang pengalaman. Sebelum duduk sebagai direktur Bank Permata pada Oktober 2002, pada tahun yang sama pernah menjabat sebagai Penasihat Ketua BPPN Bidang Perbankan.
Agus juga pernah menjadi Managing Director Bank Mandiri untuk periode 1999-2001. Selain itu, di bank yang sama ia juga pernah membidangi manajemen risiko dan restrukturisasi kredit. Perjalanan karier Agus juga dilengkapi dengan sejumlah pengalaman lain. Pada 1995 menjabat sebagai Dirut Bank Bumiputera dan pada 1998 menjadi orang nomor satu Bank Exim Indonesia.
Saat di Bank Permata Agus berhasil meningkatkan rasio kecukupan modal (CAR) menjadi 11,4 persen pada 2004 dari 10,4 persen pada 2002. Bahkan laba bersih bank hasil merger itu menjadi Rp 630,5 miliar dari kerugian Rp 808,22 miliar pada 2002. Bank Permata adalah gabungan dari lima bank partikelir masing-masing Bank Bali, Bank Universal, Bank Patriot, Bank Artha Media dan Bank Prima Express.
Sebagai langkah awal, Agus berjanji akan menggelar konsolidasi dengan para direksi dan dewan komisaris untuk menetapkan berbagai kebijakan pokok penyelesaian kredit macet. Mengenai kasus kredit macet di Bank Mandiri, Agus juga bertekad akan terus menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Badan Pemeriksa Keuangan dan Kejaksaan Agung. "Semua informasi yang ada di bank itu tercatat semua dan ada sistim pengendaliannya. Jadi kami rasa informasi yang ada di bank semuanya akan ada dan tidak perlu dikhawatirkan," kata Ketua Perhimpunan Bank Swasta Nasional ini.(YYT/Tim Liputan 6 SCTV)
RUPS juga sekaligus memberhentikan direksi sebelumnya, Direktur Utama E.C.W. Neloe, Wakil Direktur Utama I Wayan Pugeg dan Direktur Korporasi M. Soleh Tasripan. Ketiganya berstatus tersangka terkait kredit macet di bank terbesar di Indonesia ini [baca: Neloe Menghadiri RUPS Bank Mandiri].
Sejumlah pihak menyambut positif terpilihnya Agus sebagai Dirut Mandiri. Mereka menilai Dirut Bank Permata ini merupakan pilihan yang tepat dalam upaya memperbaiki kinerja Bank Mandiri.
Gubernur Bank Indonesia Burhanudin Abdullah menyebut Agus sebagai tokoh perbankan yang dinamis. Ia juga yakin Agus dapat memperbaiki Bank Mandiri karena sebelumnya lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini menjabat salah satu direktur di bank pelat merah ini. "Dia punya idealisme," kata Burhanudin.
Ketua Komisi XI DPR Paskah Suzzeta juga memiliki optimisme yang sama. Paskah menilai Agus mempunyai integritas dan gagasan yang bagus. Ia juga menyebut Agus sebagai pribadi yang konsisten sehingga sempat mengundurkan diri dari Bank Mandiri. "Dulu mengundurkan diri karena gagasannya sering tak sejalan," kata Paskah.
Kepada wartawan, Agus juga menyatakan optimistis dapat menjadikan Bank Mandiri sebagai bank milik pemerintah terkuat di Indonesia. Namun, di balik optimisme itu, Agus dihadapkan pada tugas berat untuk menyelesaikan berbagai kredit macet di Bank Mandiri.
Agus adalah bankir dengan reputasi bersih. Ia adalah bankir senior dengan segudang pengalaman. Sebelum duduk sebagai direktur Bank Permata pada Oktober 2002, pada tahun yang sama pernah menjabat sebagai Penasihat Ketua BPPN Bidang Perbankan.
Agus juga pernah menjadi Managing Director Bank Mandiri untuk periode 1999-2001. Selain itu, di bank yang sama ia juga pernah membidangi manajemen risiko dan restrukturisasi kredit. Perjalanan karier Agus juga dilengkapi dengan sejumlah pengalaman lain. Pada 1995 menjabat sebagai Dirut Bank Bumiputera dan pada 1998 menjadi orang nomor satu Bank Exim Indonesia.
Saat di Bank Permata Agus berhasil meningkatkan rasio kecukupan modal (CAR) menjadi 11,4 persen pada 2004 dari 10,4 persen pada 2002. Bahkan laba bersih bank hasil merger itu menjadi Rp 630,5 miliar dari kerugian Rp 808,22 miliar pada 2002. Bank Permata adalah gabungan dari lima bank partikelir masing-masing Bank Bali, Bank Universal, Bank Patriot, Bank Artha Media dan Bank Prima Express.
Sebagai langkah awal, Agus berjanji akan menggelar konsolidasi dengan para direksi dan dewan komisaris untuk menetapkan berbagai kebijakan pokok penyelesaian kredit macet. Mengenai kasus kredit macet di Bank Mandiri, Agus juga bertekad akan terus menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Badan Pemeriksa Keuangan dan Kejaksaan Agung. "Semua informasi yang ada di bank itu tercatat semua dan ada sistim pengendaliannya. Jadi kami rasa informasi yang ada di bank semuanya akan ada dan tidak perlu dikhawatirkan," kata Ketua Perhimpunan Bank Swasta Nasional ini.(YYT/Tim Liputan 6 SCTV)