Liputan6.com, Jakarta: Cerita dalam babad Jawa Kuno, Ken Arok-Ken Dedes menjadi inspirasi Muhamad Yusuf, perupa asal Lumajang, Jawa Tengah. Tafsir visualnya atas cerita ini berwujud karya lukis yang tengah dipamerkan di Galeri Lontar, Jalan Utan Kayu 68 H, Jakarta Timur, baru-baru ini.
Sebanyak 20 lukisan karya Muhamad Yusuf menampilkan perjalanan hidup Ken Arok, tokoh dalam kitab pararaton sastra Jawa Kuno. Dalam karyanya, Muhamad Yusuf banyak mendasarkan ceritanya pada novel karya sastrawan terkenal, Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Arok-Dedes. Kendati begitu, Muhamad Yusuf berusaha membebaskan diri dari runtunan teks novel untuk menghindari penilaian tafsir visualnya hanya menjadi bagian ilustrasi cerita.
Relief dan bentuk yang menempel di Candi Majapahit juga menjadi acuan Muhamad Yusuf dalam mengekspresikan figur seorang tokoh, seperti Mpu Gandring, Tunggul Ametung ataupun Ken Dedes. Dalam karya-karya ini, Muhamad Yusuf menggambarkan kekuasaan Ken Arok didapat melalui kekuatan keris Mpu Gandring ditunjang kekuatan militer yang hebat. Kisah Ken Arok-Ken Dedes ini bisa dipahami dengan mudah karena Muhamad Yusuf menyertakan kalimat pendek pada hasil karyanya yang merupakan inti dari cerita sebuah lukisan.(DEN/Tommy Fadjar dan Muhamad Guntur)
Sebanyak 20 lukisan karya Muhamad Yusuf menampilkan perjalanan hidup Ken Arok, tokoh dalam kitab pararaton sastra Jawa Kuno. Dalam karyanya, Muhamad Yusuf banyak mendasarkan ceritanya pada novel karya sastrawan terkenal, Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Arok-Dedes. Kendati begitu, Muhamad Yusuf berusaha membebaskan diri dari runtunan teks novel untuk menghindari penilaian tafsir visualnya hanya menjadi bagian ilustrasi cerita.
Relief dan bentuk yang menempel di Candi Majapahit juga menjadi acuan Muhamad Yusuf dalam mengekspresikan figur seorang tokoh, seperti Mpu Gandring, Tunggul Ametung ataupun Ken Dedes. Dalam karya-karya ini, Muhamad Yusuf menggambarkan kekuasaan Ken Arok didapat melalui kekuatan keris Mpu Gandring ditunjang kekuatan militer yang hebat. Kisah Ken Arok-Ken Dedes ini bisa dipahami dengan mudah karena Muhamad Yusuf menyertakan kalimat pendek pada hasil karyanya yang merupakan inti dari cerita sebuah lukisan.(DEN/Tommy Fadjar dan Muhamad Guntur)