Karhutla di Way Kambas Tak Kunjung Padam, Petugas Andalkan Selang 3 Km

Selang digunakan untuk menyalurkan air ke kawasan rawa gambut yang sulit dijangkau.

oleh Ady AnugrahadiDiterbitkan 24 Oktober 2026, 19:20 WIB
Api Way Kambas Belum Padam, Petugas Andalkan Selang 3 Km

Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, belum juga tuntas. Sekitar 40 hektare area terbakar masih menyisakan titik api.

Petugas gabungan pun harus menggelar selang sepanjang tiga kilometer untuk menyalurkan air ke kawasan rawa gambut yang sulit dijangkau.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan tim gabungan berhasil memadamkan api di area sekitar 10,2 hektare pada Jumat, 23 Oktober 2026. Luasan tersebut merupakan estimasi berdasarkan pemantauan dan evaluasi di lapangan.

“Berdasarkan laporan tim pendampingan BNPB, kebakaran yang terjadi sejak 22 September 2026 tersebut menyisakan area terbakar yang belum padam seluas sekitar 40 hektare. Pada Jumat (23/10), tim gabungan berhasil melakukan pemadaman pada area seluas sekitar 10,2 hektare. Data tersebut merupakan estimasi berdasarkan pemantauan dan evaluasi di lapangan,” kata Berton dalam keterangan tertulis, Sabtu (24/10/2026).

Pemadaman terkendala medan yang sulit, vegetasi rapat dan kering, serta angin kencang. Sumber air pun berada sekitar 1,5 kilometer dari titik api sehingga petugas harus memperpanjang jangkauan distribusi air dengan selang.

“Tantangan yang dihadapi dalam upaya pemadaman juga dipengaruhi kondisi alam. Vegetasi yang rapat menghalangi air dari helikopter water bombing mencapai permukaan lahan secara optimal. Sementara itu, jarak sumber air sekitar 1,5 kilometer dari titik api menambah tantangan bagi tim darat,” ujarnya.

Masalahnya, api di lahan gambut tak cukup ditangani hanya dengan memadamkan kobaran di permukaan. Bara bisa bertahan di bawah tanah, lalu kembali menyala meski bagian atasnya terlihat padam.

“Karakteristik lahan gambut juga menyebabkan api berpotensi bertahan di lapisan bawah tanah dan kembali muncul meskipun pemadaman sebelumnya telah dilakukan,” terang Berton.

Sebanyak 350 personel gabungan dikerahkan untuk menjinakkan api. Mereka berasal dari BPBD, TNI, Polri, pemadam kebakaran, BNPB, BMKG, Satgas Darat TNWK, serta mitra terkait.

Personel dibagi menjadi empat tim untuk memantau titik api menggunakan drone, memadamkan kebakaran di rawa gambut, menyalurkan air, dan melakukan pemadaman lanjutan.

Penyiraman dari Udara

Api Way Kambas Belum Padam, Petugas Andalkan Selang 3 Km

Di udara, helikopter Sikorsky Black Hawk UH-60L melakukan dua sortie penerbangan water bombing. Penyiraman dari udara diprioritaskan di titik B, titik D, dan kawasan rawa gambut. Namun, rapatnya vegetasi membuat air yang dijatuhkan dari helikopter tidak optimal mencapai permukaan tanah.

“Tim juga melakukan penyiapan suplai air menuju titik D dengan penggelaran selang penyalur sepanjang kurang lebih tiga kilometer,” ujar Berton.

Operasi pemadaman akan dilanjutkan dengan memprioritaskan titik-titik yang masih terbakar. BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait juga berupaya memenuhi kebutuhan peralatan, pasokan air, logistik personel, serta bahan bakar.

Pemantauan menggunakan drone dilakukan untuk mengetahui perkembangan api dan menentukan langkah pemadaman berikutnya.

Upaya lain ditempuh melalui operasi modifikasi cuaca (OMC). Pada Jumat (23/10), pesawat Cessna Caravan melakukan dua sortie penyemaian awan dengan total dua ton garam atau natrium klorida (NaCl). Hujan ringan dilaporkan turun di wilayah TNWK dan Kabupaten Lampung Barat.

“Namun, upaya penyemaian awan tidak dapat dilanjutkan ketika kondisi atmosfer tidak menyediakan awan potensial yang memenuhi syarat. Pemerintah daerah bersama BNPB dan BMKG kemudian menyesuaikan langkah penanganan dengan kondisi cuaca dan perkembangan di lapangan,” kata Berton.

Sementara itu, Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi bersama Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal meninjau lokasi kebakaran dari udara, Sabtu (24/10/2026). Dari pemantauan tersebut, mereka masih menemukan sejumlah titik api yang mengeluarkan asap tebal.

Kristomei mengatakan pasukan darat telah dibagi berdasarkan wilayah operasi agar pemadaman lebih terarah. Dia juga menilai penggelaran selang sepanjang tiga kilometer cukup efektif untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses.

“Tadi setelah saya tinjau dari udara, memang ada beberapa titik api yang perlu mendapatkan perhatian. Kita sudah mengatur untuk Way Kambas ini ada pasukan darat yang dibagi berdasarkan daerah operasi supaya pemadamannya lebih efektif,” ujarnya.

Upaya pemadaman pun akan diperluas agar lebih banyak titik api dapat ditangani.

“Kita lihat juga tadi sudah dicoba dengan cara menggunakan selang sepanjang 3 kilometer ini, ternyata hasilnya cukup efektif. Nanti kita akan perbanyak lagi luasan operasi pemadamannya, sehingga diharapkan dapat memadamkan lebih banyak lagi dan hasilnya terukur,” tandas Kristomei.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya