Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina Patra Niaga telah mengamankan pengadaan bahan bakar minyak (BBM) dari impor hingga kuartal I-2027 mendatang. Langkah tersebut memastikan ketersediaan pasokan BBM di dalam negeri.
VP Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Domatubun, mengatakan ketersediaan BBM di Tanah Air terus dipastikan dalam kondisi yang cukup. Selain hasil produksi kilang dalam negeri, pengadaan dari impor pun ditempuh.
Advertisement
"Nah pengadaan ini kan kita juga bekerja sama dengan supplier, terutama untuk gasoline itu ada tambahan pengadaan dari luar negeri, dari impor," kata Roberth saat ditemui di Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur, dikutip Sabtu (24/10/2026).
Dia menjelaskan, pihaknya bahkan sudah mengamankan pasokan dari impor itu untuk lima bulan ke depan. Dengan demikian, langkah selanjutnya tinggal mengoptimalkan distribusinya.
"Kalau sampai saat ini untuk sampai akhir tahun, bahkan sudah sampai Q1 2027 itu proses pengadaan sudah selesai, sudah kita deal done istilahnya. Nah nanti tinggal optimalisasi untuk pendistribusiannya saja," beber dia.
Upaya pengadaan ini, ditambah optimalisasi produk kilang, memastikan bahwa stok BBM tetap tersedia. Menyoal antrean panjang pada SPBU di sejumlah wilayah, Roberth memandang perlunya penyaluran tepat sasaran, terutama untuk BBM bersubsidi.
Aspek penindakan hukum terhadap pelanggar pun didukung Roberth agar tidak ada lagi penyalahgunaan BBM subsidi. "Ini sudah dilakukan langkah-langkah penindakan supaya memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa BBM bersubsidi ini hanya untuk yang berhak mendapatkan," tutur dia.
Kuota Pertalite Mau Ditambah
Sebelumnya, pemerintah berencana menambah alokasi BBM bersubsidi jenis Pertalite untuk merespons migrasi massal pengguna BBM nonsubsidi ke produk subsidi. Pergeseran konsumsi ini dipicu oleh lonjakan harga BBM nonsubsidi akibat dampak gejolak geopolitik global.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang juga menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa penyesuaian kuota Pertalite menjadi langkah memadai guna menjaga ketercukupan pasokan nasional.
"Ada kenaikan (kuota). Karena ada kenaikan, pasti akan terjadi penambahan kuota. Masih kami kaji," ujar Bahlil ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Ada Peralihan
Bahlil menerangkan bahwa akar masalah lonjakan konsumsi Pertalite adalah peralihan konsumen BBM RON 92, seperti Pertamax. Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memicu penutupan Selat Hormuz berimbas langsung pada naiknya harga minyak di pasar internasional.
Sebagai dampaknya, masyarakat beralih menggunakan Pertalite, yang pada akhirnya menuntut pemerintah menghitung ulang anggaran serta kuota penyaluran. Bahlil menyebut evaluasi menyeluruh mengenai penambahan kuota ini akan difinalisasi pada akhir Oktober.
"Untuk Pertalite nanti coba saya akan melakukan exercise di akhir bulan ini, ya. Memang terjadi peningkatan," ucap Bahlil.