Penembakan Massal di Gereja Yordania: Upacara Pemakaman Berubah Jadi Tragedi Berdarah

Peristiwa teror di tempat ibadah tergolong sangat jarang terjadi di Yordania yang selama ini dikenal relatif stabil.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 24 Oktober 2026, 11:42 WIB
Sejumlah jurnalis dan warga berada di luar gereja Ortodoks Yunani yang telah dipasangi garis polisi di Desa Hamoud, wilayah Karak, Yordania, Jumat (23/10/2026). Beberapa jam sebelumnya, sekelompok pria bersenjata melepaskan tembakan saat berlangsungnya upacara pemakaman di gereja tersebut. (Dok. AP Photo)

Liputan6.com, Amman - Sekelompok pria bersenjata melepaskan tembakan membabi buta saat upacara pemakaman berlangsung di sebuah gereja di Yordania pada Jumat (23/10/2026), sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Otoritas keamanan memastikan serangan teror tersebut menewaskan tujuh orang.

Seperti dilaporkan Al Jazeera, Menteri Kesehatan Ibrahim al-Budour menyebut total korban luka mencapai 40 orang dan memastikan dua di antaranya dalam kondisi kritis.

Penembakan terjadi di Gereja Ortodoks Yunani Santo George di Desa Hammoud, Kegubernuran Karak, sekitar 180 kilometer sebelah selatan Amman, ibu kota Yordania. Wilayah Karak diketahui memiliki komunitas Kristen yang cukup besar di tengah mayoritas penduduk Yordania yang beragama Islam.

Rekaman kamera pengawas (CCTV) yang disiarkan oleh stasiun televisi pemerintah memperlihatkan tiga orang pria bersenjata mendekati kawasan gereja dari arah jalan raya. Dua pelaku yang membawa pistol sempat mendekat lalu mundur sejenak, sebelum akhirnya kembali bersama pelaku ketiga yang membawa senapan semiotomatis (AK-47). Ketiganya langsung menembaki area pintu masuk gereja sebelum akhirnya melarikan diri menggunakan sebuah mobil pickup.

Saksi mata di lokasi menggambarkan situasi saat itu sangat mencekam dan katastrofik. Salah seorang pelayat bernama Khalid al-Mdanat menceritakan bahwa tembakan bertubi-tubi mulai terdengar sekitar 15 menit setelah ibadah pemakaman dimulai.

"Terdapat sekitar 150 hingga 200 orang di dalam gereja saat penembakan aktif terjadi selama beberapa menit. Orang-orang panik, berteriak, dan langsung melemparkan diri ke lantai untuk bersembunyi di bawah bangku gereja atau mendekap anak-anak mereka," tutur Khalid seperti dikutip Associated Press.

Video pasca-kejadian menunjukkan kaca-kaca jendela yang hancur berantakan serta genangan darah yang berceceran di lantai gereja.

Menanggapi tragedi ini, Raja Abdullah II langsung bergerak cepat dengan mengunjungi para korban luka yang sedang dirawat di Rumah Sakit Pemerintah Karak pada Jumat malam. Melalui pernyataan resminya, ia menegaskan Yordania akan menggunakan "tangan besi" untuk menindak tegas para pelaku teror.

"Serangan teroris terhadap Karak ini akan dihadapi dengan pembalasan yang paling keras. Siapa pun yang berhalusinasi bisa memecah belah persatuan rakyat Yordania dengan peluru, mereka tidak akan punya kesempatan menghadapi persatuan kami," tegas Raja Abdullah II.

Perdana Menteri Yordania Jafar Hassan menambahkan bahwa serangan ini dipicu oleh ideologi radikal takfiri dan paham ekstremisme yang buta. Pemerintah Yordania pun langsung menetapkan masa berkabung nasional selama tiga hari dengan mengibarkan bendera setengah tiang di seluruh lembaga publik.

Hingga saat ini, belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas penyerangan tersebut.

Menteri Dalam Negeri Yordania, Mazen al-Faraya, menyatakan bahwa aparat keamanan dan tim penyelidik masih terus bergerak di lapangan untuk memburu para pelaku yang diidentifikasi sebagai "kelompok ekstremis". Pihak berwenang menyatakan masih terlalu dini untuk memastikan apakah para pelaku memiliki jaringan dengan organisasi teror internasional atau bergerak secara mandiri.

Aksi penembakan di tempat ibadah ini langsung memicu gelombang kecaman internasional. Lebih dari 11 negara Arab—termasuk Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Lebanon, Suriah, dan Irak—menyatakan solidaritas penuh bagi Yordania. Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres turut mengutuk keras serangan ini dan menyebut penembakan di tengah prosesi pemakaman sebagai tindakan yang sangat keji.

Wilayah Karak sendiri sebelumnya pernah diguncang serangan besar pada tahun 2016 ketika kelompok bersenjata simpatisan ISIS menyerang pos polisi dan benteng bersejarah yang menewaskan 10 orang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya