Asian Para Games 2026: Leani Ratri Oktila/Hikmat Ramdani Sabet Medali Emas dan Ukir Sejarah Baru

Leani Ratri/Hikmat menaklukkan Murugesan/Kumar 11-21, 21-19, 21-14 di final ganda campuran SL3-SU5 Asian Para Games 2026; emas ke-11 Indonesia.

oleh Yus Mei SawitriDiterbitkan 23 Oktober 2026, 21:07 WIB
Atlet Indonesia di Paralimpiade 2024 tak henti ukir prestasi. Ganda campuran bulu tangkis, Hikmat Ramdani dan Leani Ratri Oktila raih medali emas pertama. (Foto: NPC Indonesia dari Instagram @jokowi)

Liputan6.com, Jakarta - Leani Ratri Oktila kembali naik podium tertinggi di Asian Para Games 2026. Berpasangan dengan Hikmat Ramdani, ia merebut emas nomor ganda campuran SL3-SU5 usai menundukkan duet India, Thulasimathi Murugesan/Nitesh Kumar, pada final di Nagoya, Jumat (23/10/2026).

Kemenangan datang lewat kebangkitan. Ratri/Hikmat sempat tertinggal setelah kehilangan gim pertama 11-21, lalu membalik keadaan dengan merebut dua gim berikutnya 21-19 dan 21-14. Duel berlangsung selama 51 menit.

Tambahan emas dari ganda campuran ini menjadi medali emas ke-11 bagi kontingen Indonesia di Asian Para Games 2026 yang digelar di Nagoya, Jepang.

Ratri mengakui tensi laga membuatnya tak seleluasa biasanya. "Sebenarnya hasil emas ini, kalau saya sama Hikmat secara pribadi sudah menargetkan emas. Cuma, saya tidak menyangka kalau tekanan di dalam lapangan sebesar ini," ujar Ratri, seperti dikutip dari rilis NPC Indonesia.

Ia menyebut rasa tegang masih terasa di awal pertandingan hingga menyulitkannya menemukan ritme. "Saya hanya tegang, di belakang juga belum tenang, masih ada beban di lapangan yang berat. Untuk set kedua, saya mencoba tenang. Alhamdulillah," tutur Ratri.

"Padahal, sebelum-sebelumnya kami cukup mudah, cukup enjoy melawan pasangan India ini," imbuhnya.


Suporter Indonesia dan Momen Balikkan Keadaan

Ketatnya laga tercermin dari statistik. Total poin kedua pasangan nyaris berimbang: India mengumpulkan 54 poin, sementara Indonesia 53 poin. Reli terpanjang bahkan mencapai 90 detik.

Sokongan penonton Indonesia di tribun disebut ikut memantik kebangkitan. Hikmat merasakan atmosfer sempat senyap ketika mereka tertinggal jauh pada gim pembuka, sebelum sorakan kembali terdengar.

"Di poin-poin awal saja, ketika senyap, saya tahu penonton Indonesia banyak. Tapi ketika senyap, saya tahu mereka mungkin belum dapat menerima kami, karena kami memang ketinggalan jauh. Namun, ketika ada suara itu, tetap menambah motivasi," kata Hikmat.

Di tengah tekanan, ketenangan dan komunikasi menjadi kunci. Hikmat berupaya menjaga fokus sekaligus terus berkoordinasi dengan Ratri di lapangan.

"Saya mencoba tenang. Komunikasi lebih lagi di lapangan. Saya tenang, tenang, tenang untuk mencari kemenangan kita," ujarnya.

Lanjut Baca:

Bagi Ratri, ganda campuran adalah spesialisasinya bersama Hikmat. Keduanya mematangkan pola dan strategi untuk nomor ini lewat latihan harian. "Karena memang mixed double nomor favorit saya, nomor yang memang saya latihan setiap hari. Saya sama Hikmat itu latihannya setiap hari untuk mixed double. Jadi, kalau emas di mixed double, saya sudah mengira akan emas. Cuma, enggak mengira kalau bakal seramai ini mainnya," ungkap Ratri. Emas ini pun dipersembahkan Ratri bagi orang terdekat yang selalu menyokongnya. "Tetap orang tua," ucap Ratri singkat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya