Kambing-Kambing Warga di Lereng Gunung Lawu Mati Misterius

Warga di lereng Gunung Lawu, tepatnya di Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, Jateng, dibuat geger dengan kambing-kambing yang ditemukan mati misterius.

oleh Arief PramonoDiterbitkan 23 Oktober 2026, 09:28 WIB
Warga lereng Gunung Lawu geger sejumlah ternak mereka mati misterius. (Liputan6.com/ Dok Polsek TW)

Liputan6.com, Karanganyar - Kematian empat ekor kambing milik warga di lereng Gunung Lawu, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, memicu kekhawatiran akan kemunculan satwa liar di sekitar permukiman.

Namun, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, belum bisa memastikan jenis hewan yang diduga menyerang ternak tersebut.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Jawa Tengah, Sudadi, meminta masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa kambing-kambing tersebut diterkam macan tutul atau satwa liar lainnya. Kepastian mengenai penyebab kematian ternak masih menunggu hasil identifikasi lebih lanjut.

"Kami meminta masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa ternak diserang macan tutul atau satwa liar tertentu," ujar Sudadi yang dikutip Jumat (23/10/2026).

Sebelumnya, warga di kawasan Tengklik, Tawangmangu, digegerkan dengan kematian empat kambing peliharaan. Sebagian kambing ditemukan mati di dalam kandang. Sedangkan lainnya diduga dimangsa dan dibawa keluar dari kandang.

Wakapolsek Tawangmangu, Ipda Juwair, mewakili Kapolres Karanganyar, membenarkan kejadian tersebut. Ia menyebut bahwa kondisi lokasi penemuan ternak menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan untuk mengetahui penyebab kematiannya.

"Benar terdapat empat ekor kambing mati. Hewan yang mati itu ada di lokasi kandang dan ada yang dimakan, dibawa keluar kandang," ujar Juwair.

Dugaan sementara, kata Juwair, kematian ternak tersebut berkaitan dengan aktivitas satwa liar yang mendekati permukiman untuk mencari makan.

Ia menduga, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Gunung Lawu juga memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi habitat satwa di kawasan tersebut.

Meski demikian, BKSDA menegaskan bahwa kaitan antara kebakaran dan pergerakan satwa liar menuju permukiman belum dapat dipastikan. Dampak kebakaran terhadap habitat serta pola pergerakan satwa masih memerlukan kajian lebih lanjut.

 

Siapkan Tim Antisipasi Satwa Liar

Selain menyelidiki dugaan serangan terhadap ternak di Tengklik, BKSDA Jawa Tengah telah menyiapkan tim untuk mengantisipasi kemungkinan satwa liar turun ke permukiman akibat kebakaran di Gunung Lawu.

"Kami sudah menyiapkan tim. Apabila nanti ada satwa yang turun dan memang perlu diamankan atau dievakuasi, akan kami tangani," terang Sudadi.

Hingga Jumat (23/10/2026), BKSDA mengaku belum menerima laporan mengenai satwa liar yang turun ke permukiman sebagai dampak kebakaran Gunung Lawu.

Sejumlah satwa liar diketahui menghuni kawasan tersebut. Diantaranya macan tutul, landak, berbagai jenis burung, dan monyet ekor panjang. Namun, keberadaan satwa-satwa tersebut, tidak serta-merta membuktikan bahwa salah satunya menyerang ternak milik warga.

Sudadi menegaskan, penanganan terhadap satwa yang diduga menyerang kambing akan ditentukan berdasarkan hasil identifikasi dan kondisi di lapangan. Evakuasi hanya dilakukan apabila satwa tersebut dinilai perlu diamankan demi keselamatan satwa maupun masyarakat.

"Dilihat dulu jenis satwanya dan kondisinya. Kalau memang perlu dievakuasi, akan dilakukan evakuasi. Namun, kalau tidak perlu, tentu tidak harus dievakuasi," imbuhnya.

Warga Perkuat Kandang Ternak

Untuk mengantisipasi kejadian serupa, BKSDA mengimbau warga terutama peternak di sekitar lereng Gunung Lawu, meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat perlindungan terhadap ternak.

Peternak diminta memastikan kandang dalam kondisi aman. Selain itu, menambah penerangan di sekitar lokasi pemeliharaan ternak. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko satwa liar mendekati kandang maupun kawasan permukiman.

Sudadi juga meminta masyarakat tidak menyebarkan informasi yang belum terkonfirmasi mengenai jenis satwa yang diduga muncul di Tengklik.

Menurutnya, identifikasi yang tepat diperlukan agar penanganan dapat dilakukan sesuai kondisi di lapangan, tanpa menimbulkan kepanikan maupun mengganggu keberadaan satwa liar yang masih berada di habitat alaminya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya