Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia meminta adanya percepatan proses perizinan bagi proyek minyak dan gas bumi (migas) yang memasuki masa produksi. Apalagi ada target produksi yang dikejar pemerintah.
Bahlil meminta Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Djoko Siswanto dan Direktur Jenderal Migas, Laode Sulaeman untuk mempercepat perizinan dan kontraknya. Termasuk juga pada proyek yang sudah di fase plan of development (POD).
Advertisement
"Ini saya harapkan agar kita sebagai pemerintah, khususnya Kepala SKK dan Dirjen, itu bisa melakukan percepatan-percepatan untuk mendorong dari sisi perizinan maupun dari sisi kontrak. Ada yang baru diajukan POD, itu kalau bisa selesai," kata Bahlil di Floating Production Unit (FPU) Jangkrik, di Selat Makassar, Kalimantan Timur, Kamis (22/10/2026).
"Karena cadangan yang besar itu tidak akan mempunyai arti apa-apa kalau tidak mampu kita melakukan produksi. Kata kunci dari sebuah proses eksplorasi, konstruksi, itulah kapan produksinya," ia menambahkan.
Bahlil salah satunya mengapresiasi Searah, anak usaha Eni dan Petronas yang mengembangkan produksi gas di Blok Muara Bakau. Pendekatan teknologi canggih disebut jadi satu keunggulan.
"Saya tahu bahwa Searah dan Eni ini adalah sebuah perusahaan besar swasta dunia yang mempunyai teknologi yang besar. Teknologinya luar biasa sekali karena memakai AI, komputerisasi pakai AI dan segala macam," tutur Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ini.
Target Lifting
Dia menjelaskan, produksi migas nasional terus dikejar untuk mengurangi ketergantungan impor. Produksi lifting minyak saat ini baru berkisar 600 ribu barel minyak per hari (bopd).
Padahal, ada kebutuhan sekitar 1,6 juta bopd untuk konsumsi di dalam negeri. Artinya, 1 juta bopd lainnya harus dipenuhi dari impor.
"Insyaallah doakan dengan penambahan yang ada, maka target dari Bapak Presiden untuk mencapai 900.000 barel sampai dengan 1 juta barel di tahun 2029-2030," tuturnya.
Tambahan Produksi Gas
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia meresmikan penerimaan gas dari sumur Jangkring North East JNE#6 serta fasilitas produksi lapangan MAHA - South Hub. Keduanya didapat dari fasilitas produksi di lepas pantai (offshore) di perairan Selat Makassar, dekat Kalimantan Timur.
Informasi, sumur JNE#6 memulai pengaliran gas perdana sebesar 60 mmscfd per Kamis (22/10/2026). Jumlah ini didukung potensi tambahan dari lapangan MAHA-Sount Hub sebesar 230 mmscfd. Sehingga ada total potensi tambahan 290 mmscfd dari lepas pantai ini.
"Hari ini berarti kita resmikan kurang lebih sekitar 60 mmscfd, ditambah fasilitas yang siap untuk kita produksi lagi di akhir bulan ini 230 (mmscfd). Artinya ini ada penambahan sekitar 290 MM. Ini adalah sebuah angka yang tidak sedikit karena ini bisa meng-cover," ungkap Bahlil di Floating Production Unit (FPU) Jangkrik, di Selat Makassar, Kalimantan Timur, Kamis (22/10/2026).
Tambahan Lainnya
Dia mengatakan tambahan ini meningkatkan kontribusi pasokan gas bumi dari lapangan offshore atau lepas pantai. Sumbangan dari lapangan MAHA - South Hub diperkirakan bisa mencapai 750 mmscfd.
"Sekarang berarti overall sudah mencapai 750 (mmscfd) karena eksisting kurang lebih sekitar 450 mmscfd, sekarang tambah lagi kurang lebih sekitar 300 mmscfd, berarti sudah mencapai 750 mmscfd," beber dia.
Fasilitas ini dikelola oleh Searah Muara Bakau, bagian dari usaha Searah yang dibentuk dari patungan antara Eni S.p.A asal Italia dan Petronas dari Malaysia. Ini merupakan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang menggarap kawasan Cekungan Kutai.
"Ini adalah sebagai bentuk keseriusan pemerintah dan seluruh perusahaan, terutama Searah dan Eni, dalam mewujudkan Asta Cita Bapak Presiden, di mana Asta Cita salah satu di antaranya adalah kedaulatan energi, dan karena itu kita mencari seluruh sumber-sumber energi, baik di darat maupun di laut," tutur dia.