Museum Didorong Jadi Rumah Kebudayaan Bersama

sektor kebudayaan dan permuseuman dinilai menjadi salah satu mercusuar pencapaian pemerintah.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 22 Oktober 2025, 13:05 WIB
Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Putu Supadma Rudana (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Puncak perayaan Hari Museum Indonesia ke-11 dan Hari Kebudayaan Nasional digelar di Museum Rudana, Ubud, Bali, Senin (19/10). Mengusung semangat Setanggi Puspa Budaya, perayaan ini menjadi momentum untuk memperkuat peran museum sebagai penjaga warisan sejarah, identitas bangsa, sekaligus rumah kebudayaan Indonesia.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto selama dua tahun terakhir, sektor kebudayaan dan permuseuman dinilai menjadi salah satu mercusuar pencapaian pemerintah.

Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Putu Supadma Rudana mengapresiasi perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap pelestarian museum dan penguatan kebudayaan nasional.

Menurut Putu, salah satu langkah yang menjadi perhatian ialah percepatan revitalisasi dan penataan lebih dari 200 titik museum, cagar budaya, keraton, istana, benteng, dan aset budaya lainnya.

“Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi pemerintahan Presiden Prabowo selama dua tahun ini, kami melihat sektor kebudayaan dan permuseuman memiliki peran penting dan menjadi salah satu mercusuar pencapaian pemerintah. Kami mengapresiasi perhatian Bapak Presiden Prabowo Subianto terhadap percepatan revitalisasi museum dan kebudayaan Indonesia,” ujar Putu.

Program tersebut tidak hanya menyasar pembenahan fisik, tetapi juga pembaruan narasi sejarah, tata letak, serta pemanfaatan teknologi digital untuk menghadirkan pengalaman museum yang lebih edukatif dan menarik bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

Putu berharap perhatian pemerintah terhadap permuseuman dan kebudayaan terus diperkuat melalui kolaborasi dengan pengelola museum, seniman, budayawan, dan masyarakat. Dengan demikian, museum tidak hanya menjadi tempat menyimpan peninggalan masa lalu, tetapi juga ruang pembelajaran, kreativitas, dan pengembangan kebudayaan untuk masa depan.

Kegiatan puncak yang diselenggarakan AMI bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Museum Rudana of The Rudana Art Institution, dan Institut Seni Indonesia (ISI) Bali ini diikuti para tokoh bangsa, budayawan, seniman, serta insan permuseuman. Masyarakat juga dapat menyaksikan rangkaian kegiatan secara daring melalui Zoom Meeting, kanal YouTube Kementerian Kebudayaan, Indonesiana TV, dan kanal lainnya.

Dalam perayaan tahun ini, AMI mengangkat tema Hari Museum Indonesia ke-11, yakni “Museum Soko Guru Bangsa, Rumah Kebudayaan Kita”. Tema tersebut menegaskan pentingnya museum dalam merawat ingatan kolektif, mengembangkan pengetahuan, serta memperkuat jati diri bangsa.

Pimpinan The Rudana Art Institution yang menaungi museum, galeri, yayasan, dan berbagai inisiatif kebudayaan ini menuturkan, kebesaran sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kemajuan pembangunan dan pencapaian material, tetapi juga dari kemampuannya menjaga kebudayaan serta meneruskan nilai-nilai luhur lintas generasi.

“Oktober menjadi bulan istimewa atau bulan sakti bagi permuseuman dan kebudayaan Indonesia. Rangkaian peringatan diawali dengan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober, dilanjutkan Hari Museum Indonesia pada 12 Oktober, serta Hari Kebudayaan Nasional pada 17 Oktober. Melalui museum, kekayaan warisan budaya Nusantara diharapkan tidak sekadar terpelihara secara fisik, tetapi juga terus dihayati dan menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat,” ucap Putu.

Dimeriahkan Pergelaran Seni dan Pameran

Puncak perayaan Hari Museum Indonesia dan Hari Kebudayaan Nasional diisi sejumlah agenda kebudayaan. Rangkaian kegiatan meliputi pidato kebudayaan Menteri Kebudayaan Fadli Zon, pergelaran seni “Huni-Jnana-Hana” yang dipersembahkan ISI Bali, serta pameran tunggal bertajuk “GUWUNG SUWUNG”.

Pergelaran “Huni-Jnana-Hana” memberikan ruang bagi mahasiswa dan keluarga besar ISI Bali untuk menampilkan karya seni di lingkungan Museum Rudana. Sementara itu, pameran “GUWUNG SUWUNG” menghadirkan perjalanan kreatif dan perenungan artistik Wayan Kun Adnyana dalam membaca warna, bentuk, ruang, dan perubahan waktu.

Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan museum, seni, dan masyarakat dalam satu perayaan kebudayaan. Museum tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang masa lalu, tetapi juga tempat lahirnya gagasan dan kreativitas baru.

Semangat perayaan turut tercermin dalam tema besar “Setanggi Puspa Budaya”. Setanggi melambangkan keharuman nilai-nilai luhur, sedangkan puspa atau bunga menjadi simbol penghormatan. Keduanya merepresentasikan pengabdian dan karya kebudayaan yang terus memberikan makna bagi perjalanan bangsa.

“Melalui puncak perayaan ini, AMI berharap museum semakin dikenal sebagai rumah kebudayaan bersama yang terbuka bagi masyarakat. Upaya memuliakan kebudayaan, merawat warisan leluhur, dan menjaga kesinambungan antargenerasi diharapkan terus memperkuat identitas serta keberlanjutan peradaban Indonesia,” pungkasnya.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya