Liputan6.com, Jakarta - Oktober menjadi bulan sakti bagi permuseuman dan kebudayaan Indonesia. Puncak peringatan Hari Museum Indonesia ke-11 dan Hari Kebudayaan Nasional digelar di Museum Rudana, The Rudana Art Institution, Bali, Senin (19/10).
Momentum ini ditandai dengan penganugerahan penghargaan kepada sejumlah tokoh bangsa atas dedikasi, pemikiran, dan kontribusinya bagi kebudayaan serta pembangunan Indonesia.
Advertisement
Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Putu Supadma Rudana, yang juga pimpinan The Rudana Art Institution (Museum, Gallery, Foundation, Think Tank, dan Conceptualist of Art), mengatakan Oktober memiliki makna istimewa bagi permuseuman dan kebudayaan nasional.
“Bulan ini diawali dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober, dilanjutkan Hari Museum Indonesia pada 12 Oktober, serta Hari Kebudayaan Nasional pada 17 Oktober,” ujar Putu, Rabu (21/10).
Sebagai pimpinan The Rudana Art Institution, Putu mengapresiasi kehadiran para tokoh, budayawan, seniman, pengabdi museum, serta berbagai elemen masyarakat yang turut menyukseskan perayaan bulan sakti bertajuk Setanggi Puspa Budaya tersebut. Apresiasi juga disampaikan Putu kepada para sahabat permuseuman yang mengikuti kegiatan secara daring.
“Hari ini, Asosiasi Museum Indonesia menganugerahkan Anugerah Mahottama Adibudaya Nusantara kepada Menteri Kebudayaan Fadli Zon sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian, dedikasi dan komitmennya dalam membangun kehidupan museum dan kebudayaan Indonesia,” ujar Putu.
Sementara itu, Museum Rudana menganugerahkan Ksatria Mahottama Nagara Award kepada Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo, begawan ekonomi Indonesia, atas pemikiran dan pengabdiannya dalam perkembangan ekonomi serta pembangunan nasional yang mengimplementasikan ekonomi kerakyatan dan ekonomi budaya.
Selain itu, penghargaan Ksatria Mahottama Budaya Award juga diberikan kepada maestro seni rupa Nyoman Nuarta atas perjalanan berkarya dan kontribusinya dalam memperkaya seni rupa Indonesia hingga dikenal di tingkat internasional. Salah satu karyanya yang menjadi pencapaian luar biasa adalah Garuda Wisnu Kencana Park dan Garuda di Ibu Kota Nusantara.
“Penghargaan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap pemikiran, ide, dan gagasan yang menjadi inspirasi warisan keteladanan bagi generasi penerus. Pengabdian di bidang kebudayaan bukan hanya tentang pencapaian personal, melainkan sumbangsih bagi kemajuan peradaban bangsa,” ucap Putu.
Selain penganugerahan penghargaan, perayaan ini juga menghadirkan pergelaran “Huni-Jnana-Hana” oleh Institut Seni Indonesia Bali serta pameran tunggal perupa Wayan Kun Adnyana bertajuk “Guwung Suwung”.
Selaku pimpinan Museum Rudana, Putu juga menyampaikan apresiasi kepada pendiri Museum Rudana, Nyoman Rudana dan Olastini Rudana, yang telah memberikan ruang dan kesempatan bagi mahasiswa serta keluarga besar ISI Bali untuk menggelar pertunjukan seni budaya.