Terancam Pajak Kekayaan, Mark Zuckerberg Dapat Skema Saham Khusus dari Meta

Mark Zuckerberg mempertimbangkan meninggalkan California karena usulan pajak kekayaan.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 22 Oktober 2026, 14:40 WIB
CEO Facebook Mark Zuckerberg (AP Photo/Jacquelyn Martin)

Liputan6.com, Jakarta - Meta Platform menandatangani perjanjian dengan miliarder sekaligus pendiri induk usaha Facebook Mark Zuckerberg untuk memastikan tetap tinggal yang sama dengan lokasi kantor pusat perusahaan.

Mengutip the Straits Times, Kamis (22/10/2026), kesepakatan ini muncul setelah CEO Mark Zuckerberg mempertimbangkan untuk meninggalkan California jika negara bagian itu mengesahkan pajak kekayaan.

Dalam dokumen yang diajukan pada 21 Oktober, Meta menyatakan, Zuckerberg akan tetap menjadi penduduk California atau yurisdiksi lain tempat perusahaan menetapkan kantor pusatnya selama delapan tahun.

Meta menjelaskan, Zuckerberg mempertimbangkan untuk meninggalkan California karena usulan pajak kekayaan di negara bagian itu dapat membebankan tagihan bernilai miliaran dolar Amerika Serikat kepadanya. Hal ini berpotensi menjual saham dengan hak suara untuk melunasinya.

Dalam dokumen itu, Perseroan menyebutkan menerbitkan saham kelas C sebagai bagian dari kesepakatan yang dirancang untuk mencegah skenario itu.

Zuckerberg sebagai orang terkaya kelima di dunia akan menerima saham tanpa hak suara yang dapat ia jual untuk mendapatkan likuiditas tanpa mengurangi kendali suaranya. Sebagai imbalannya, ia berkomitmen tetap tinggal di California atau di mana pun kantor pusat Meta berada, selama ia masih memegang peran kepemimpinan penuh waktu di perusahaan itu.

Berdasarkan perjanjian ini, ia dapat segera menjual 20% dari saham kelas C yang diterimanya, yang setara dengan 10% dari total kepemilikan ekonominya.

Langkah ini memberinya likuiditas untuk membantu menutupi potensi tagihan pajak yang mungkin timbul akibat Propostion 40, sebuah usulan kebijakan yang akan diputuskan oleh para pemilih di California pada November 2026.

Sementara itu, 80% sisanya dari saham kelas C itu pada awalnya dibatasi, tetapi batasan ini akan berakhir secara bertahap selama delapan tahun. Hal ini dengan syarat Zuckerberg tetap memimpin perusahaan.

Berdasarkan Bloomberg Billionaires Index, Zuckerberg memiliki kekayaan bersih sebesar US$ 247 miliar atau Rp 4.457 triliun.

Proposition 40 didorong oleh serikat pekerja sektor kesehatan dan sejumlah politikus progresif di negara bagian tersebut, termasuk anggota Kongres Ro Khanna.

 

 

Pajak Ini Sasar Individu yang Punya Kekayaan US$ 1 Miliar

CEO Facebook Mark Zuckerberg (AP Photo/Paul Sakuma, File)

Pajak ini akan menyasar individu yang memiliki kekayaan bersih lebih dari US$ 1 miliar per 1 Januari 2026. Beberapa orang terkaya di dunia, termasuk salah satu pendiri Google, Sergey Brin telah menentang pajak ini dan memilih untuk meninggalkan negara bagian itu.

Jajak pendapat terkini menunjukkan persaingan yang cukup ketat. Pengaturan ini menjadi argument tandingan terhadap salah satu keberatan utama terhadap Proposisi 40, yakni kekhawatiran pajak kekayaan akan membaut miliarder hengkang dari California.

Komite khusus Meta menyatakan, kehadiran Zuckerberg untuk bekerja dari kantor pusat perusahaan adalah hal yang sangat penting, terutama karena ia bekerja erat dengan Meta Superintelligence Labs di tengah persaingan yang kian sengit dalam pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Komite khusus itu juga menyoroti kesulitan yang dihadapi perusahaan selama pandemi COVID-19, saat Zuckerberg tidak berada di dekat tim manajemen, dan menegaskan tidak ingin menghadapi tantangan serupa di masa depan.

Berdasarkan dokumen yang diajukan pada 21 Oktober, Zuckerberg telah mendiskusikan pajak di California itu beserta dampaknya terhadap kepemilikan di perusahaan selama berbulan-bulan.

 

Kompensasi Mark Zuckerberg

CEO Facebook Mark Zuckerberg di Ajang F8 pada 2019. Kredit: Facebook

Topik ini muncul pada Juli, ketika sang CEO sempat membahas pemilihan umum mendatang dengan Robert M. Kimmitt, direktur independen utama Meta. Saat itu, Zuckerberg memperingatkan bahwa usulan pajak tersebut dapat memaksanya menjual sebagian saham biasa Kelas B miliknya, yang akan menyebabkan hak suaranya di perusahaan turun hingga di bawah 53%.

Beberapa minggu kemudian, penasihat hukum Zuckerberg mengirimkan surat kepada komite khusus dewan direksi, yang menyatakan ia mempertimbangkan untuk meninggalkan California sebagai respons atas usulan pajak bagi miliarder tersebut. Ia juga menyarankan agar Meta menciptakan kelas saham tanpa hak suara, yang akan memungkinkan perusahaan menggalang modal ekuitas untuk mendanai ambisi AI-nya.

Menurut dokumen yang diajukan Meta, surat tersebut juga meminta komite khusus untuk mendiskusikan revisi pengaturan kompensasi dengan Zuckerberg yang “setara dengan kompensasi yang baru-baru ini disetujui bagi para pendiri lain dengan profil dan tingkat kepentingan serupa di perusahaan mereka”—berupa pemberian ekuitas yang dikaitkan dengan tolok ukur kinerja yang ketat.

Dalam panggilan konferensi untuk membahas kinerja kuartalan perusahaan, Chief Financial Officer Meta, Susan Li, menjelaskan saham Kelas C akan berfungsi terutama sebagai instrumen pendanaan. Hal ini memberikan fleksibilitas lebih besar bagi perusahaan untuk membiayai ambisi AI-nya tanpa mendilusi hak suara yang ada saat ini. Ia tidak menyinggung perihal ketentuan khusus terkait Zuckerberg yang tercantum dalam dokumen tersebut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya