Liputan6.com, Jakarta - Aming ternyata punya masa kecil yang tidak sepenuhnya lurus. Komedian dan aktor itu blak-blakan membuka kenakalannya saat ditemui di Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (21/10).
Pengakuan itu muncul saat ia membahas film 'Yang Disebut Nakal', drama komedi produksi DLK Pictures dan INHYPE Pictures yang disutradarai Benni Setiawan. Di film ini, Aming berperan sebagai Yayat, salah satu pelatih di Bina Laku.
Advertisement
Ketika diminta mengingat kenakalan semasa kecil, Aming sempat bingung. Setelah berpikir cukup lama, ia akhirnya mengaku kenakalannya tergolong standar.
'Yang Disebut Nakal' sendiri adalah film drama komedi keluarga tentang sekelompok remaja dengan latar belakang berbeda yang menjalani program pembinaan selama 21 hari di tempat terpencil. Jauh dari kebiasaan lama, mereka belajar menghadapi disiplin, tanggung jawab, pertemanan, kehilangan, rasa malu, dan persoalan keluarga yang tidak selalu mudah dibicarakan.
Dulu Biang Provokasi
"Nakalnya paling madol doang, udah gitu paling nyilep duit SPP, standar lah," ungkap Aming.
Pengakuan itu langsung ditimpali Boris Bokir yang menilai ucapan Aming belum tentu standar. Aming pun menambahkan satu pengakuan lagi soal tawuran.
"Paling tawuran, tapi saya bagian memprovokasi. Sangkuni-nya gitu," ujar Aming. "Jangan dicontoh ya," lanjutnya.
Nakal Itu Soal Persepsi
Di balik gurauannya, Aming punya pandangan serius soal label nakal. Ia mengaku mendapat sudut pandang itu saat membedah karakter dan naskah bersama para pemain lain.
"Sebenarnya tuh nggak ada anak yang nakal. Tapi yang ada anak yang bingung," tutur Aming.
Pandangan tersebut sejalan dengan semangat film ini, yakni menampilkan dinamika remaja dengan latar belakang berbeda. Executive Producer INHYPE Pictures, Ryan Prasetyo, menyebut keragaman karakter sebagai kekuatan cerita.
"Setiap karakter membawa warna dan cara pandangnya sendiri. Ketika mereka berada dalam satu lingkungan, perbedaan itu menghasilkan situasi yang menghibur, tetapi juga membuka kesempatan untuk saling mengenal. Kami ingin penonton menikmati dinamika itu sekaligus menemukan sisi manusiawi dari setiap tokoh," ujar Ryan Prasetyo.