Harga Minyak Dunia Naik Usai Dua Tanker Kena Ranjau

Harga minyak dunia bergerak naik tipis di tengah serangan kapal tanker dan fasilitas energi Arab Saudi yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 22 Oktober 2026, 07:40 WIB
Sebuah perahu mengapung sementara kapal-kapal komersial tampak berlabuh di Selat Hormuz, di lepas pantai Bandar Abbas, Iran, Selasa, 13 Oktober 2026. (Razieh Poudat/ISNA via AP)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia naik tipis pada perdagangan Rabu di tengah kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah. Serangan terhadap kapal tanker di dekat Selat Hormuz dan fasilitas energi Arab Saudi turut menekan sentimen pasar.

Mengutip CNBC, Kamis (22/10/2026), harga minyak mentah Brent naik tipis 3 sen menjadi US$ 108,82 per barel. Sebaliknya, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) turun 67 sen menjadi US$ 97,15 per barel.

Ketegangan meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan ranjau laut telah menghalangi tiga kapal tanker yang berupaya melintasi Selat Hormuz melalui jalur yang dinilai tidak diizinkan oleh Teheran.

Dalam pernyataan yang dipublikasikan melalui situs resmi Sepah News pada Selasa, IRGC menyebut dua kapal tanker yang melanggar aturan terbakar akibat ledakan ranjau.

“Dua kapal tanker minyak yang melanggar aturan terbakar dan terhenti akibat ledakan ranjau yang dipasang oleh para pelaut pemberani Angkatan Laut IRGC di titik penyeberangan ilegal di bagian selatan Selat Hormuz,” demikian pernyataan IRGC.

Serangan Kelompok Militan Houthi

Kapal-kapal komersial tampak berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Bandar Abbas, Iran, Senin, Selasa, 6 Oktober 2026. (Amirhosein Khorgooi/ISNA via AP)

Kekhawatiran terhadap pasokan energi kawasan juga meningkat setelah kelompok militan Houthi Yaman mengaku bertanggung jawab atas serangan pada Senin. Serangan tersebut menargetkan fasilitas Saudi Aramco di Yanbu, ladang minyak Shaybah, serta bandara di Riyadh dan Abha.

Eskalasi konflik turut mendorong lonjakan biaya pengiriman minyak dunia, menambah tekanan terhadap pasar energi.

Laporan Goldman Sachs yang diterbitkan pada Selasa menyebutkan, rata-rata biaya pengangkutan minyak mentah global telah melonjak di atas US$ 20 per barel. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan sekitar US$ 3 per barel pada periode yang sama tahun lalu.

Meski tarif pengiriman sedikit mereda dalam beberapa hari terakhir, nilainya masih sekitar tujuh kali lipat dibandingkan setahun sebelumnya.

Goldman Sachs memperkirakan premi risiko perang untuk kapal yang melintasi Selat Hormuz menyumbang sekitar US$ 7 dari kenaikan biaya pengiriman rata-rata sebesar US$ 20 per barel secara tahunan.

Sementara itu, praktik pemindahan muatan antarkapal di luar Teluk Persia turut menyumbang sekitar US$ 4 terhadap kenaikan tersebut.

Kilang di Asia Bakal Terdampak

Para pekerja berdiri di area stasiun degasifikasi di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah. (AP Photo/Leo Correa)

Goldman Sachs memperingatkan, tingginya biaya pengiriman berpotensi memperlebar perbedaan harga antarjenis minyak mentah. Kondisi ini juga dapat menekan margin keuntungan perusahaan pengolahan minyak atau kilang dan pada akhirnya meningkatkan harga bahan bakar hasil olahan.

Analis Goldman Sachs menilai, tekanan tersebut terutama dirasakan oleh kilang-kilang di Asia yang menghadapi kenaikan biaya logistik.

“Biaya pengangkutan yang tinggi telah memberikan tekanan besar, terutama terhadap margin bersih kilang-kilang di Asia. Kondisi ini mengancam produksi produk hasil pengolahan minyak, yang kemudian dapat mendorong kenaikan harga produk olahan minyak secara global,” tulis analis Goldman Sachs.

Kenaikan biaya pengiriman menjadi tantangan tambahan bagi industri energi, terutama ketika pasokan minyak dari Timur Tengah masih dibayangi risiko geopolitik.

Jika gangguan pelayaran di sekitar Selat Hormuz terus berlanjut, pelaku pasar perlu mencermati dampaknya terhadap kelancaran distribusi minyak mentah, biaya operasional kilang, serta harga bahan bakar di berbagai negara.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya