Harga Emas Dunia Stabil, Investor Tunggu Keputusan The Fed

Harga emas dunia bergerak dekat level terendah sepekan di tengah kenaikan harga minyak, kekhawatiran inflasi, dan penantian keputusan suku bunga The Fed.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 22 Oktober 2026, 07:20 WIB
Ilustrasi harga emas (Ilustrasi by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia bergerak stabil di dekat level terendah dalam sepekan pada perdagangan Rabu. Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi akibat ketegangan di Timur Tengah.

Sementara itu, investor mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed, pada pekan depan.

Mengutip CNBC, Kamis (22/10/2026), harga emas di pasar spot naik 0,3% menjadi US$ 4.136,22 per ons pada pukul 13.55 waktu setempat atau EDT, setelah sempat menyentuh level terendah sejak 15 Oktober pada perdagangan sebelumnya.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember naik 0,2% menjadi US$ 4.152,60 per ons.

Wakil Presiden sekaligus Kepala Strategi Logam di Zaner Metals, Peter Grant, menilai pasar saat ini memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada tahun ini. Namun, kenaikan tersebut kemungkinan baru terjadi pada Desember.

“Saya pikir pasar saat ini memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin tahun ini, tetapi kemungkinan baru terjadi pada Desember. Peluang kenaikan suku bunga pada Oktober telah turun cukup signifikan,” kata Grant.

Ia menambahkan, harga emas diperkirakan bergerak dalam rentang terbatas untuk sementara waktu, dengan kecenderungan masih melemah.

Menunggu Pengumuman The Fed

Ilustrasi harga emas (Ilustrasi by AI)

Perhatian investor kini tertuju pada pertemuan kebijakan The Fed pada 27–28 Oktober serta laporan indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang akan dirilis pekan depan. Kedua agenda tersebut dinilai dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga selanjutnya.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang The Fed menaikkan suku bunga pada Desember mencapai 88%.

Hampir seluruh ekonom yang disurvei memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada bulan ini sebelum menaikkannya pada Desember. Bank sentral AS diperkirakan memilih bersikap hati-hati meskipun tekanan inflasi masih bertahan dan berpotensi mendorong kebijakan yang lebih agresif.

Emas secara tradisional dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga dapat mengurangi daya tarik logam mulia tersebut karena investor cenderung memilih aset yang memberikan imbal hasil.

Di pasar energi, harga minyak mentah Brent bertahan di kisaran US$ 108 per barel pada Rabu. Pernyataan Iran turut meredupkan harapan tercapainya terobosan diplomatik dengan Amerika Serikat.

Kenaikan harga minyak menjadi perhatian karena berpotensi menambah tekanan inflasi dan memengaruhi keputusan kebijakan moneter bank sentral.

Fase Konsolidasi Jangka Pendek

Harga emas dunia. (Ilustrasi by AI)

Analis UBS, Giovanni Staunovo, menilai harga emas masih berada dalam fase konsolidasi dalam jangka pendek. Menurut dia, minat beli masih terlihat ketika harga emas turun di bawah US$ 4.100 per ons, sehingga level tersebut berpotensi menjadi titik penopang harga.

“Saya masih percaya bahwa dalam jangka pendek, emas berada dalam fase konsolidasi. Jadi, setiap kali harga turun di bawah US$ 4.100, harga cenderung menemukan titik terendah karena ada minat beli. Namun, potensi kenaikannya masih terbatas selama konflik di Timur Tengah masih menjadi perhatian,” ujar Staunovo.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ketegangan geopolitik masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan harga emas. Meski pelemahan harga dapat menarik minat pembeli, ketidakpastian mengenai inflasi dan suku bunga masih membatasi ruang penguatan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya