Liputan6.com, Jakarta - Indonesia akan menjadi tuan rumah Konferensi Asia Pasifik ke-6 tentang Warisan Maritim dan Budaya Bawah Laut atau 6th Asia Pacific Conference on Maritime and Underwater Cultural Heritage (APCONF6) yang digelar di Bali pada 26-31 Oktober 2026.
Konferensi tersebut diperkirakan dihadiri lebih dari 500 peserta yang terdiri atas delegasi, pembuat kebijakan, akademisi, dan pemimpin industri dari lebih dari 40 negara.
Advertisement
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDMKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) I Nyoman Radiarta mengatakan, konferensi ini menjadi kesempatan untuk memperkuat kerja sama dalam pelestarian warisan maritim dan budaya bawah laut di kawasan Asia Pasifik.
"Dalam semangat tanggung jawab bersama, saya dengan senang hati menyampaikan bahwa Kementerian Kelautan dan Perikanan, melalui badan kami, akan menjadi tuan rumah Konferensi Asia Pasifik ke-6 tentang Warisan Maritim dan Budaya Bawah Laut," kata Radiarta dalam peluncuran program pelestarian situs USS Houston di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Konferensi tersebut mengangkat tema besar Tradition and Trajectories, Maritime Heritage, and Blue Economy in Asia Pacific.
Menurut Radiarta, forum tersebut akan membahas bagaimana pelestarian warisan maritim dapat diintegrasikan dengan praktik ekonomi biru yang berkelanjutan.
Pelestarian Sejarah dan Ekonomi Biru
Radiarta mengatakan, pelestarian warisan budaya bawah laut membutuhkan kerja sama lintas negara, dukungan kebijakan berbasis ilmu pengetahuan, dan keterlibatan masyarakat.
Menurutnya, perlindungan sejarah maritim perlu berjalan beriringan dengan upaya membangun masa depan yang berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.
Melalui konferensi tersebut, para peserta diharapkan dapat mengeksplorasi berbagai pendekatan untuk mengintegrasikan perlindungan warisan sejarah laut dengan pengembangan ekonomi biru.
"Kita akan bersama-sama mengeksplorasi bagaimana pelestarian warisan maritim dapat diintegrasikan dengan praktik ekonomi biru yang berkelanjutan, sehingga perlindungan sejarah lautan kita berjalan seiring dengan pembangunan masa depan yang berkelanjutan bagi masyarakat pesisir," ujarnya.
Radiarta menambahkan, pelestarian warisan budaya bawah laut tidak dapat dibebankan kepada satu lembaga saja.
Diperlukan dialog internasional dan kolaborasi berbagai pihak agar kekayaan sejarah maritim dapat dilindungi secara berkelanjutan.
Belajar dari Pelestarian USS Houston
Radiarta juga menyinggung pelestarian bangkai kapal perang USS Houston di Selat Sunda sebagai contoh pentingnya kerja sama internasional dalam menjaga warisan sejarah bawah laut.
Situs tersebut memiliki nilai sejarah bagi Indonesia dan Amerika Serikat
Melalui dukungan Dana Duta Besar AS untuk Pelestarian Budaya, program pelestarian USS Houston diharapkan dapat meningkatkan kapasitas masyarakat setempat sekaligus memperluas kesadaran publik mengenai perlindungan warisan maritim.
Radiarta mengapresiasi dukungan Kedutaan Besar AS dan seluruh mitra yang terlibat dalam peluncuran program tersebut.
Dia berharap kolaborasi itu dapat mendorong lebih banyak upaya bersama untuk melindungi warisan sejarah yang tersimpan di perairan kawasan Asia Pasifik.
Radiarta juga mengundang mitra internasional, kolega, dan para pemangku kepentingan untuk berpartisipasi dalam APCONF6 di Bali.
Menurutnya, keahlian dan pandangan para peserta akan membantu memperkuat upaya pelestarian warisan budaya bawah laut di kawasan tersebut.