Liputan6.com, Jakarta - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia dilaporkan mulai mengganggu aktivitas wisatawan dan industri pariwisata Malaysia. Polusi udara mengurangi jarak pandang di sejumlah destinasi populer, memicu kekhawatiran terhadap kesehatan, serta mendorong pembatalan perjalanan dan penurunan pemesanan tur.
Cathy Hamilton, wisatawan asal Sydney, Australia, mengalami gangguan pernapasan saat berkunjung ke Kuala Lumpur. Kabut asap juga menghalangi pemandangan sejumlah ikon kota yang ingin ia abadikan.
Advertisement
"Saya mencoba mengambil foto Menara Kembar, Merdeka 118, dan pemandangan lainnya, tapi hasilnya tidak bagus karena semuanya tertutup kabut asap," katanya, melansir The Straits Times, Rabu, 21 Oktober 2026.
Ia mengaku mungkin membatalkan perjalanan jika kedua putrinya tidak mengikuti ICU Asian Cheerleading Championships pada akhir pekan. Dampak kabut asap turut dirasakan pelaku industri pariwisata Malaysia.
Operator tur melaporkan pembatalan perjalanan untuk bulan depan dan berkurangnya pemesanan rombongan. Agen perjalanan dari luar negeri juga terus meminta informasi terbaru mengenai kualitas udara sebelum mengatur kunjungan wisatawan.
Situasi ini muncul saat Malaysia menjalankan kampanye Visit Malaysia 2026 dengan target 47 juta wisatawan. Data Tourism Malaysia mencatat 28,8 juta pengunjung internasional telah datang selama delapan bulan pertama tahun ini.
Penurunan pemesanan turut menjadi perhatian industri pariwisata Malaysia. Penundaan perjalanan berpotensi menekan pendapatan sektor perhotelan, transportasi, kuliner, dan usaha ritel yang bergantung pada belanja wisatawan.
Target Kunjungan Terancam
Presiden Malaysian Inbound Tourism Association, Mint Leong, memperkirakan kerugian pendapatan industri pariwisata Malaysia akibat kabut asap dapat mencapai jutaan ringgit.
Besarnya potensi kerugian tersebut menjadi perhatian mengingat sektor pariwisata menyumbang 323 miliar ringgit (sekitar Rp1.424 triliun) terhadap perekonomian Malaysia pada 2025, setara dengan 15,9 persen produk domestik bruto (PDB).
Data yang sama mencatat pengeluaran wisatawan mancanegara mencapai 124,8 miliar ringgit atau sekitar Rp 550 triliun, sedangkan wisatawan domestik membelanjakan 112,1 miliar ringgit atau sekitar Rp 494 triliun.
Sementara itu, pemantauan IQAir pada Selasa, 20 Oktober 2026, menempatkan Kuala Lumpur, Singapura, dan Jakarta dalam daftar 10 kota besar dengan tingkat polusi udara tertinggi di dunia. Di Malaysia, memburuknya kualitas udara juga mendorong penutupan sekolah di sejumlah wilayah.
Kabut Asap Mengganggu Mobilitas dan Kesehatan
Kabut asap juga memicu kekhawatiran terhadap kelancaran perjalanan udara akibat jarak pandang yang menurun. Agen perjalanan membutuhkan informasi terbaru mengenai kualitas udara untuk membantu pelanggan mempertimbangkan jadwal keberangkatan dan rencana kunjungan ke Malaysia.
James Wheatley, wisatawan asal Inggris, tetap melanjutkan perjalanan ke Malaysia bersama rombongannya meski kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah.
"Kabut asapnya tidak terlalu buruk," kata Wheatley. Ia mengaku rombongannya mungkin akan menunda keberangkatan jika mengetahui kondisi kualitas udara di Malaysia sebelum memulai perjalanan.
Malaysia berpotensi mengalami kerugian ekonomi hingga 1,5 miliar ringgit atau sekitar Rp6,59 triliun per bulan jika kabut asap lintas negara berlangsung berkepanjangan, menurut laporan Malay Mail yang dikutip kanal Bisnis Liputan6.com.
Potensi Kerugian Ekonomi Malaysia
Profesor ekonomi Sunway University, Yeah Kim Leng, memperkirakan Malaysia mengalami kerugian awal sebesar 20 juta hingga 50 juta ringgit per hari atau sekitar Rp 88 miliar hingga Rp 220 miliar. Perhitungan tersebut mencakup gangguan aktivitas ekonomi, peningkatan biaya kesehatan, dan penurunan produktivitas pekerja.
Sektor pariwisata dan penerbangan menghadapi risiko karena polusi udara berpotensi menekan kedatangan wisatawan hingga 8 persen. Pakar kesehatan masyarakat dari Universiti Sains Islam Malaysia, Mohd Hafiz Jaafar, menyoroti dampak kabut asap terhadap produktivitas tenaga kerja.
Pekerja yang tidak masuk akibat gangguan kesehatan maupun mereka yang tetap bekerja dalam kondisi kurang sehat dapat mengurangi kinerja di tempat kerja. Jaafar menilai dampak ekonomi kabut asap juga mencakup hilangnya produktivitas, di luar pengeluaran untuk pengobatan.