BI Tahan Suku Bunga, Rupiah Ditutup Melemah ke 18.022 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,17 persen. Sentimen MSCI, kebijakan BI, dan harga minyak menjadi faktor yang dicermati pasar.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 21 Oktober 2026, 18:30 WIB
Teller menukarkan mata uang dolar ke rupiah di Jakarta.(Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada penutupan perdagangan Rabu (21/10/2026). Rupiah turun 30 poin atau 0,17 persen menjadi 18.022 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level 17.992 per dolar AS.

Di sisi lain, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) justru menguat ke level 17.986 per dolar AS dari sebelumnya 18.006 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan pergerakan rupiah masih dibayangi ketidakpastian di pasar keuangan domestik. Salah satu sentimen yang dicermati investor adalah rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia.

Rencana tersebut dinilai berpotensi memicu arus keluar modal asing sehingga menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

"Kondisi ini menjadi perhatian karena dapat menambah tekanan terhadap rupiah di tengah upaya menjaga stabilitas pasar keuangan," ucapnya dikutip Antara. 

 

 

Kebijakan BI dan Risiko Global Pengaruhi Rupiah

Rupiah tertekan hingga 18.022 per dolar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain sentimen MSCI, kebijakan moneter BI juga menjadi perhatian pelaku pasar dalam menghadapi tekanan terhadap rupiah.

Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75 persen. Pada saat yang sama, BI menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5,00 persen dan mempertahankan Lending Facility di level 6,50 persen.

Langkah tersebut dinilai sebagai upaya mengoptimalkan instrumen kebijakan untuk meredam tekanan terhadap nilai tukar. BI juga memperkuat insentif bagi instrumen lindung nilai Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) guna mendorong aliran modal asing dan menjaga stabilitas rupiah.

Dari sisi eksternal, indeks dolar AS atau DXY berada di kisaran 101,79 pada 21 Oktober 2026. Posisi tersebut relatif stabil setelah indeks dolar melemah pada perdagangan sebelumnya.

"Penurunan imbal hasil obligasi AS berpotensi mendukung rupiah, tetapi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan tingginya harga minyak masih menjadi risiko yang dapat mendorong permintaan terhadap dolar AS," ungkap Amru.

Ke depan, pergerakan rupiah akan dipengaruhi efektivitas kebijakan stabilisasi BI, perkembangan indeks dolar AS, serta respons investor terhadap ketidakpastian di pasar keuangan domestik.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya