Liputan6.com, Beijing - Sebuah mata kuliah yang tidak biasa di Universitas Nanjing yang bergengsi di China mendorong para mahasiswa untuk menelepon orang asing untuk mengasah keterampilan sosial mereka sekaligus menentang nilai tradisional "bekerja lebih banyak, bicara lebih sedikit."
Dikutip dari South China Morning Post, Kamis (22/10/2026), di perguruan tinggi terkemuka di Provinsi Jiangsu, China Timur, mantan produser dan sutradara televisi Xu Kai meluncurkan mata kuliah bernama "Ekspresi Verbal" pada tahun 2015. Seiring berjalannya waktu, mata kuliah ini telah menjadi mata kuliah umum favorit para mahasiswa.
Advertisement
Kelas ini mencakup tugas yang legendaris, yaitu para mahasiswa harus menelepon orang asing secara acak dan melakukan wawancara lewat telepon. Beberapa mahasiswa telah membagikan pengalaman mereka di media sosial tentang betapa sulitnya tugas tersebut untuk mereka.
Beberapa mahasiswa bahkan meminta orang tua atau teman-temannya untuk berpura-pura sebagai orang asing. Ada pula yang mencari orang asing dengan menggunakan postingan di media sosial.
Seorang mahasiswa yang dikenal bernama Connie juga memposting di media sosial untuk mencari orang, tapi kemudian mengubah caranya dan mulai menelepon nomor acak di Nanjing. Beberapa orang mengira ia adalah penipu. Setelah mencoba beberapa kali, ia mendapatkan mahasiswa lain di Nanjing dan setuju untuk diwawancarai.
Mahasiswa lain bernama Hong Yiming juga menelepon nomor acak di Nanjing. Hanya lima dari 30 panggilan telepon yang mendapatkan jawaban. Tiga orang langsung mematikan teleponnya, satu orang mengira ia penipu, dan yang terakhir stuju untuk wawancara.
Narasumbernya, yang bekerja di industri TI, membagikan saran tentang perencanaan karier, bercerita tentang bagaimana mereka menghabiskan waktu luang di Nanjing, dan bercerita kepadanya tentang dua kucing mereka.
Connie mengakui bahwa tugasnya semakin sulit karena orang-orang ini enggan untuk menjawab panggilan dari orang asing karena takut berasal dari gangguan atau penipuan.
Beberapa mahasiswa keluar dari mata kuliah tersebut karena tugasnya, sementara banyak yang menyelesaikan kelas tersebut meminta Xu agar tidak pernah menghapus tugas tersebut.
Kelas Penting untuk Bangun Kepercayaan Diri
Xu menyebutkan bahwa ia membuat tugas tersebut untuk membantu para mahasiswa belajar berempati.
"Memang tidak pernah mudah untuk mengekspresikan diri, dan para mahasiswa harus belajar menghargai bantuan orang lain," ujarnya.
Ia berkata bahwa ia merancang mata kuliah ini untuk membantu mahasiswa membangun kepercayaan diri, meningkatkan keterampilan komunikasi mereka, dan menjadi lebih dewasa.
Xu menyoroti bahwa nilai tradisional "bekerja lebih banyak, bicara lebih sedikit" telah mendorong orang untuk bersikap rendah hati dan sederhana. Ia berkata walaupun hal ini bermanfaat bagi penelitian mereka, hal ini bisa menghambat perkembangan pribadi dan keterampilan sosial mereka.
Terlebih lagi, banyak anak muda China yang menggambarkan diri mereka sebagai orang yang introvert atau mengaku menderita "fobia sosial." Namun, Xu mengatakan bahwa mereka hanya kurang memiliki kesempatan untuk belajar cara berkomunikasi.
Ia juga berharap kelas ini bisa membantu mahasiswa untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.
Connie bercerita ia senang mengekspresikan diri saat masih menjadi siswa sekolah dasar, tapi hal itu dianggap sebagai "pamer" ketika dia masuk ke sekolah menengah. Seiring meningkatnya gaokao, atau ujian masuk perguruan tinggi nasional, teman-teman sekelasnya menjadi semakin tertutup.
Xu percaya bahwa mata kuliahnya membantu siswa mengejar ketertinggalan yang mereka alami selama masa pendidikan dasar.
Selain mengajarkan siswa cara berbicara, ia juga merancang berbagai kegiatan untuk membantu mereka mengalami pentingnya bahasa tubuh dalam komunikasi.
Mata kuliah ini telah dinobatkan sebagai salah satu mata kuliah favorit mahasiswa Universitas Nanjing selama bertahun-tahun. Xu juga telah meraih berbagai penghargaan di universitas tersebut, termasuk penghargaan "Dosen Favorit Saya" dan "Dosen Karismatik."
"Kelas ini lebih penting dibanding beberapa mata kuliah utama di universitas," tulis seorang pengamat daring.
Pengguna lain menuliskan, "Yang mungkin kurang dimiliki anak muda saat ini bukanlah pengetahuan, tapi keterampilan sosial dasar seperti ini."