Akibat El Nino, Gurun Terkering di Bumi Kini Tumbuh Bunga

Simak bagaimana El Nino menimbulkan fenomena langka tumbuhnya bunga di gurun kering.

oleh Nasywa FakhirahDiterbitkan 22 Oktober 2026, 21:30 WIB
César Pizarro di Gurun Atacama, Chile (AP/Esteban Felix)

Liputan6.com, Santiago - Musim semi akhirnya tiba di Belahan Bumi Selatan dan di Chile, bahkan gurun kini bermekaran. Dikenal sebagai gurun non polar terkering di Bumi, sebagian besar wilayah Gurun Atacama kini dipenuhi bunga setelah fenomena cuaca El Nino membawa hujan lebat ke wilayah tersebut pada awal tahun ini.

Dikutip dari The Star, Kamis (22/10/2026), curah hujan yang tinggi ini memungkinkan jutaan benih dan umbi bertunas dan mekar, banyak di antaranya telah mengalami masa tidak aktif selama puluhan tahun.

"Ini adalah fenomena yang unik, terdapat lebih dari 200 spesies tumbuhan," tutur Kepala Departemen Kawasan Lindung di National Forest Corporation (Conaf) Jorge Carabantes. "Ini adalah peristiwa berbunga yang sangat luar biasa dan tidak biasa, sangat berbeda dengan fenomena berbunga lainnya yang terjadi di belahan dunia lain."

Gurun Atacama terletak di antara Samudra Pasifik dan Pegunungan Andes, membentang sepanjang sekitar 1.600 kilometer di sepanjang pantai utara Chile.

Walaupun mekarnya bunga adalah hal yang umum terjadi selama masa transisi dari musim dingin ke musim semi, tahun ini bukit-bukit pasir berbatu berwarna cokelat yang mejadi ciri khas lanskap gurun berubah menjadi hamparan bunga liar yang terang dan penuh warna selama fenomena bersejarah Desierto Florido atau "gurun berbunga."

"Saya selalu mengira warnanya hanya cokelat. Itu gambaran gurun untuk saya, hanya berwarna cokelat," ujar Felix Banda berumur 51 tahun yang lahir di Chile tapi menghabiskan seluruh hidupnya di Australia.

"Saya tahu hujan turun deras, jadi saya berekspektasi akan melihat hamparan hijau yang indah, tapi pemandangan ini sungguh luar biasa," tambahnya tentang kunjungan pertamanya ke Atacama.

 

Catatan Curah Hujan Tinggi

Hamparan Bunga di Gurun Atacama, Chile (AP/Esteban Felix)

Antara Juli dan Agustus, Chile mencatat curah hujan tertinggi sepanjang sejarah di beberapa wilayah dengan tingkat curah hujan yang belum pernah tercatat sejak pengukuran dimulai di tahun 1950-an. Curah hujan lebat ini dipicu oleh fenomena El Nino super, fenomena iklim yang menyebabkan kenaikan taham suhu global dan semakin menguat.

"Sejak pencatatan curah hujan dimulai, inilah angka-angka paling signifikan dalam hal volume: 160, 180, 190 milimeter di beberapa lokasi," jelas ahli biologi sekaligus kepala Bagian Konservasi Keanekaragaman Hayati di Conaf Atacama Cesar Pizarro.

"Apa yang terjadi saat ini memiliki awal penyebabnya, dan fenomena itu disebut 'super El Nino.'"

Badai-badai tersebut telah menyebabkan banjir, kekacauan, dan kehancuran di beberapa wilayah di Chile. Di bagian utara, badai-badai itu juga memicu fenomena mekarnya gurun yang bersejarah, dengan luas area yang diperkirakan mencapai sekitar 17.000 kilometer persegi tahun ini. Luas wilayah ini setara dengan Wilayah Metropolitan Santiago, wilayah terbesar dan terpadat di negara tersebut.

Menurut proyeksi Conaf, fenomena Desierto Florido kali ini diperkirakan akan menjadi yang paling intens dan luas sejak tahun 1997.

Pizarro berkata hal tersebut lantaran curah hujan lebat yang mengaktifkan materi biologis di gurun tersebut, yang dikenal sebagai plasma nutfah. Materi ini mencakup benih, umbi, dan serta telur berbagai invertebrata dan reptil.

Hasilnya adalah pemandangan yang sungguh memukau, menampilkan lebih dari 200 spesies tumbuhan dan bunga dengan berbagai warna, betuk, dan rupa. Nanuca merah dan kuning, rock purslane ungu, suspiro putih, terciopelo oranye, dan garra de leon, spesies asli yang menjadi salah satu simbol paling ikonik gurun tersebut, mengubah perbukitan daratan dan ngarai di Atacama.

"Ada bukit-bukit dan pegunungan yang sudah lebih dari 30 atau 40 tahun tidak terlihat tanaman hijau ataupun bunga," tutur Pizarro. "Plasma nutfah gurun ini bisa tetap tidak aktif selama bertahun, bahkan puluhan tahun. Bukit-bukit tahun ini adalah contoh terbaiknya.”

 

Peningkatan Jumlah Pengunjung

Salah Satu Bunga di Gurun Atacama, Chile (AP/Esteban Felix)

Baik yang datang dari dalam maupun luar negeri, para wisatawan berani menjelajahi daerah-daerah terpencil dan tidak ramah di Atacama untuk mengagumi jutaan bunga yang menghiasi hamparan gurun yang luas, membentang dari pantai hingga cakrawala.

Menurut data yang diberikan kepada AP oleh Sekretariat Pariwisata Nasional, wilayah Atacama diperkirakan akan mencatat hampir lebih dari 300 ribu kunjungan menginap hingga fenomena alam ini berakhir pada bulan November, menjadikan Desierto Florido sebagai salah satu objek wisata utama di wilayah tersebut pada musim ini.

Seorang koki Franco Moya 37 tahun dan kekasihnya menempuh perjalanan sejauh hampir 1.000 kilometer dari Santa Cruz, sebuah kota di Lembah Colchagua, Chile tengah, menuju beberapa wilayah gurun untuk merayakan ulang tahunnya.

"Sangat menakjubkan melihat bunga-bunga tumbuh di tempat yang begitu kering," ujarnya. "Ini pertama kalinya saya ke sini dan benar-benar momen yang mengejutkan."

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya