Liputan6.com, Jakarta - Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mewaspadai ancaman teknologi komputasi kuantum (quantum computing) yang berpotensi dimanfaatkan untuk kejahatan siber. Kondisi ini perlu diantisipasi dengan meningkatkan keamanan digital.
Wakil Kepala BSSN Komjen Pol. Albertus Rachmad Wibowo mengatakan, komputasi kuantum berpotensi mengancam algoritma kriptografi yang saat ini diandalkan untuk menangkal serangan peretas.
Advertisement
"Meskipun kita telah memiliki sistem kriptografi, kehadiran komputasi kuantum dapat menyebabkan enkripsi yang ada saat ini dibobol dengan cepat," kata Albertus dalam rangkaian Bali Tech Week (BTW) 2026 di Bali, Rabu (21/10/2026).
Albertus mengungkapkan, kecanggihan teknologi komputasi kuantum berpotensi membuat peretas membobol enkripsi dalam hitungan jam, berbeda dengan komputer klasik yang membutuhkan waktu lebih lama untuk melakukan hal tersebut.
"Beberapa mengatakan untuk menggunakan komputer klasik, kita membutuhkan waktu beberapa bulan, tahun, sampai ribuan tahun untuk meretas sebuah enkripsi," tuturnya.
Albertus mengungkapkan, salah satu ancaman yang perlu diwaspadai dari perkembangan quantum computing adalah persaingan antarnegara untuk mengembangkan teknologi tersebut secara diam-diam.
"Ketika quantum computing ini dikormensialisasi, dimonetisasi, dikapitalisasi, dijadikan quantum computing as a service, kemudian dimanfaatkan oleh hacker, oleh threat hacker, maka ini menjadi suatu ancaman bagi kita," tambahnya.
Kondisi ini dapat meningkatkan risiko terhadap keamanan data. Salah satu ancaman yang perlu diwaspadai adalah strategi harvest now, decrypt later (ambil sekarang, dekripsi nanti). Dalam strategi ini, peretas mencuri dan menyimpan data yang masih terenkripsi untuk dibuka di kemudian hari, ketika teknologi komputasi kuantum sudah mampu menguraikan sistem enkripsi yang digunakan.
"Mereka melakukan exfiltration dari satu tempat ke tempat mereka. Kemudian nanti ketika quantum computing sudah exist, mereka akan mendecrypt itu. Jadi mereka harvest sekarang, mendecrypt later," ujarnya.
Ancaman lain berkaitan dengan pencurian data saat pengguna mengakses layanan perbankan digital. Frasa sandi (passphrase) atau kata sandi (password) yang digunakan untuk mengakses mobile banking maupun internet banking juga berisiko dicuri ketika data dikirimkan melalui jaringan internet yang tidak aman.
Peretas dapat mengumpulkan dan menyimpan data tersebut untuk berupaya membukanya di kemudian hari. Strategi ini dikenal sebagai harvest now, decrypt later, yakni mengambil data terenkripsi sekarang dan berupaya mendekripsinya nanti.
"Meskipun kata sandi tersebut sudah dienkripsi, peretas berpotensi mencoba membobol perlindungannya ketika teknologi komputasi kuantum sudah mampu menguraikan sistem enkripsi yang digunakan,” tuturnya.
Antisipasi Keamanan
Menurut Albertus, isu komputasi kuantum dan kriptografi kini semakin banyak dibahas. Sejumlah kementerian dan lembaga, termasuk BSSN dan ITRA, turut menyoroti isu ini. Kementerian Komunikasi dan Digital serta sejumlah kementerian lainnya juga membahas perkembangan teknologi tersebut.
Dalam menghadapi era komputasi kuantum, upaya yang dilakukan bukan sekadar mengganti algoritma kriptografi, tetapi juga membangun kesiapan nasional untuk menjaga keamanan, kepercayaan, dan keberlanjutan transformasi digital Indonesia.
Pada akhirnya, kedaulatan kriptografi menjadi fondasi kepercayaan digital Indonesia. Hal ini menjadi tantangan bagi banyak negara dan terus dibahas dalam berbagai forum yang berkaitan dengan kriptografi.
"Kita menyadari keterbatasan kita, oleh kira itu kita harus bersama-sama, saling mendukung, saling memberi masukan. Kita bukan superman, tetapi kita bentuk super team untuk menciptakan Indonesia yang aman di ruang siber," imbuhnya.