Liputan6.com, Jakarta - Ekonom memprediksi Bank Indonesia (BI) berpotensi menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin. Hal ini seiring sentimen investor terutama terkait MSCI.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede melihat peluang kenaikan 25 basis poin menjadi 6,00%.
Advertisement
Josua mengambil posisi berbeda. Estimasi model probabilistiknya menunjukkan peluang kenaikan suku bunga 63,1%, mempertahankan 34,7%, dan menurunkan hanya 2,2%.
"Angka tersebut mencerminkan probabilitas arah kebijakan, bukan kepastian keputusan ataupun besarnya kenaikan," ujar Josua, dikutip Rabu, (21/10/2026).
Pemicu perbedaan ini sama, yakni usulan MSCI menurunkan status Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Usulan itu diumumkan 15 Oktober dan membuat IHSG anjlok 11,57% pada 16 Oktober.
Josua menilai, perubahan perkiraannya dipengaruhi oleh banyaknya sentimen investor.
"Perubahan perkiraan ini terutama dipengaruhi oleh memburuknya sentimen investor setelah pengumuman MSCI," ungkapnya sembari menambahkan, rupiah pun melemah ke sekitar Rp 18.000 per dolar AS.
Ekonom Institute for Economic and Social Research Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Teuku Riefky, memperkirakan BI menahan suku bunga di level 5,75%.
"Kami memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan Suku Bunga BI di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur Oktober 2026, sambil tetap bersiap untuk merespons jika tekanan terhadap Rupiah semakin meningkat," tulis Riefky dalam laporannya.
Menurut laporan tersebut, BI menghadapi prioritas kebijakan yang saling bertentangan. Pengetatan lanjutan dapat meredam tekanan nilai tukar, tetapi juga membebani permintaan domestik.
Inflasi Jadi Titik Beda
Riefky juga mengaku ada sentimen MSCI yang juga akan mempengaruhi BI Rate. Namun, ia menilai pengetatan baru harus ditimbang dengan hati-hati terhadap dampaknya pada pertumbuhan ekonomi.
Kedua pihak membaca data inflasi dengan nada berbeda. Laporan LPEM FEB UI menyebut inflasi September 2026 sebesar 3,28% (y.o.y) mendekati batas atas target BI, yakni 1,5%–3,5%.
Josua justru menekankan sisi lain. "Inflasi September 2026 sebesar 3,28% secara tahunan masih berada dalam kisaran sasaran BI," ujar dia.
Ia menyebut inflasi inti 2,84% menandakan tekanan permintaan belum berlebihan.
Menurut Josua, kenaikan 25 basis poin lebih proporsional dibandingkan pengetatan agresif sebesar 50 basis poin. Pertumbuhan ekonomi kuartal II sudah melambat ke 5,29%, dan BI telah menaikkan suku bunga 100 basis poin pada Mei–Juni 2026.
Meski begitu, kedua ekonom sepakat risiko belum selesai. Riefky menyebut tekanan terhadap rupiah dapat memperkuat argumen kenaikan suku bunga, sedangkan Josua menyatakan 50 basis poin tetap perlu diantisipasi jika arus modal keluar memburuk.