Liputan6.com, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo resmi membuka Jakarta Film Summit (JFS) 2026 yang digelar di Royal Glass House, Park Hyatt Jakarta, Selasa (20/10). Ajang ini menjadi salah satu langkah untuk mendorong Jakarta berkembang sebagai pusat perfilman regional.
Jakarta Film Summit 2026 mempertemukan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pelaku industri film, lembaga keuangan, hingga investor. Forum ini membahas sejumlah hal penting bagi perkembangan perfilman Indonesia, termasuk kebijakan, pembiayaan, investasi, serta peluang kolaborasi di tingkat regional.
Advertisement
Dalam sambutannya, Pramono menilai Jakarta memiliki potensi besar untuk menjadi pusat produksi film. Dukungan infrastruktur, aktivitas ekonomi, serta konektivitas transportasi dinilai menjadi modal penting untuk menarik talenta, investasi, dan produksi film berskala internasional.
Pramono juga menyoroti perkembangan ekonomi Jakarta yang mencatat pertumbuhan sebesar 5,52 persen dengan inflasi 2,7 persen. Selain itu, ia menyebut posisi Jakarta dalam pemeringkatan transportasi global naik dari peringkat ke-17 menjadi ke-15. Sebanyak 93 persen wilayah Jakarta juga disebut telah terhubung dengan transportasi umum.
Jadi Daya Tarik Jakarta Sebagai Lokasi Produksi Film
Berbagai perkembangan tersebut dinilai dapat memperkuat daya tarik Jakarta sebagai lokasi produksi film. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ingin membangun ekosistem perfilman yang mampu mempertemukan kebutuhan industri, dukungan kebijakan pemerintah, dan peluang investasi. Dalam upaya tersebut, Jakarta turut melihat perkembangan kota perfilman dunia, termasuk Busan, Korea Selatan.
Jakarta Film Summit 2026 berlangsung pada 20–22 Oktober 2026. Selama dua hari pertama, forum ini menghadirkan diskusi yang melibatkan perwakilan pemerintah, lembaga keuangan, investor, platform streaming, serta pelaku industri film. Pembahasan diarahkan untuk mengidentifikasi kebutuhan dan peluang pengembangan industri perfilman di Indonesia.
Pada hari pertama, Selasa (20/10), diskusi berfokus pada pembangunan ekosistem yang mendukung kegiatan produksi film. Sejumlah topik yang dibahas meliputi kebijakan, insentif, perizinan, hingga pemanfaatan lokasi di Jakarta. Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah sesi ASEAN Film Alliance Network, yang membahas pengembangan talenta, pembiayaan, dan peluang produksi bersama di kawasan Asia Tenggara.
Memasuki hari kedua, Rabu (21/10), pembahasan akan berfokus pada pembiayaan, investasi, dan keberlanjutan industri film. Topik yang diangkat mencakup kesiapan proyek film untuk mendapatkan investasi, peran perbankan dalam pembiayaan produksi, serta pemanfaatan data audiens untuk membantu analisis risiko dan pengambilan keputusan investasi.