Misteri Pembentukan Pasukan Terakota China Terkuak Lewat Sidik Jari Berusia Ribuan Tahun

Bagaimana para ilmuwan ungkap sidik jari yang terdapat di Pasukan Terakota.

oleh Nasywa FakhirahDiterbitkan 20 Oktober 2026, 20:30 WIB
Pasukan Terakota (Unsplash/Aaron Greenwood)

Liputan6.com, Beijing - Para peneliti berkata Pasukan Terakota tidak hanya dibuat oleh pria. Sebuah studi di Journal of Cultural Heritage menyoroti wanita dan anak-anak ternyata ikut terlibat dalam pembuatan patung-patung prajurit tanah liat yang dikuburkan bersama kaisar pertama China dari sidik jari yang ditemukan.

Dikutip dari Archeology News Online Magazine, Selasa (20/10/2026), tim tersebut berasal dari Museum Situs Mausoleum di Xi’an dan Universitas Shandong. Mereka meneliti 79 sidik jari yang tercetak pada tanah liat patung-patung di unit T23 Lubang Penggalian 1. Di dalamnya, terdapat 227 patung, sekitar sepersepuluh dari total patung yang digali di lubang tersebut.

Sebagian besar sidik jari berada di lengan, baju zirah, dan kepala, titik-titik di mana seorang pembuat tembikar memegang, menghaluskan, dan menyambungkan potongan-potongan tersebut. Tim hanya mempertahankan jejak sidik jari yang paling jelas dan mengesampingkan pasangan jejak yang terlihat berasal dari orang yang sama.

Jarak antara lekukan pada ujung jari berubah seiring usia dan jenis kelamin. Anak-anak memiliki lekukan yang berdekatan, yang kemudian melebar seiring pertumbuhan mereka,dan pria dewasa memiliki jarak antar lekukan yang lebih lebar dibanding wanita dewasa. Jarak tersebut sekitar setengah milimeter.

Penelitian sebelumnya mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi kelompok usia menengah, karena wanita dewasa dan remaja laki-laki meninggalkan sidik jari yang hampir identik. Tanah liat juga menyusut sebesar 2 hingga 12 persen saat mengering dan dibakar, sehingga sidik jari yang sudah lama ukurannya lebih kecil daripada jari aslinya.

Jadi, tim tersebut berhenti mencoba memberi label pada setiap sidik jari. Mereka menggunakan model campuran Bayesian yang menganalisis seluruh kumpulan data sekaligus. Bisa dibayangkan sebuah jajak pendapat yang tidak dapat mengetahui pilihan setiap orang, tapi bisa memperkirakan hasil secara keseluruhan.

Persentase Hitung Jumlah Sidik Jari, Bukan Orang

Ilustrasi sidik jari (Unsplash/Imme Wigmann)

Model ini membandingkan berbagai kemungkinan kombinasi usia dan jenis kelamin dengan hasil pengukuran, lalu menghasilkan rentang nilai alih-alih jawaban pasti. Sebagai data pembanding, para peneliti menggunakan sidik jari dari orang-orang yang masih hidup.

Hasil dari model tersebut memperkirakan pria dewasa menyumbang 45 persen dari sidik jari tersebut, wanita sekitar 33 persen, dan anak-anak di bawah 15 tahun sebesar 22 persen. Batas usia ini diambil dari teks-teks hukum Dinasti Qin dan Han, yang menetapkan usia 15 tahun sebagai batas awal pertanggungjawaban pidana, kerja paksa, dan wajib militer. Para pembuat tanah liat dewasa umumnya masih muda, 20 tahun untuk pria, dan 18 untuk wanita.

Para penulis tidak melebih-lebihkan hal ini. Persentase tersebut menghitung jejak sidik jari, bukan jumlah orang, sehingga orang pembuat bisa meninggalkan puluhan jejak sementara yang lain tidak sama sekali. Para ahli yang terampil menggunakan alat dan menghaluskan permukaan setelah menyentuhnya, sehingga jejak sidik jari mereka terhapus.

Di sisi lain, yang magang dan yang membantu meninggalkan lebih banyak jejak dan jarang membersihkannya, sehingga kemungkinan besar perempuan dan anak-anak terwakili secara berlebihan. Data acuan tersebut juga datang dari orang-orang yang masih hidup berketurunan Eropa, dan tidak ada koleksi yang luas tentang populasi Asia kuno.

Catatan tertulis mendukung gagasan tentang tenaga kerja yang beragam. Sejarawan Sima Qian menggambarkan petani merdeka, pengrajin, narapidana, orang terlilit utang, dan budak. Teks-teks hukum Dinasti Qin mencatat bahwa narapidana perempuan dihukum lewat pekerjaan penggalian tanah bersama laki-laki, dan prasasti pada barang-barang pernis dari periode tersebut menyebutkan keterlibatan perempuan dewasa, anak perempuan dan anak laki-laki di tempat bengkel-bengkel milik negara.

Banyak Pekerjaan yang Hanya Diakui Dilakukan oleh Pria

Ilustrasi penelitian di laboratorium menggunakan microscope. (Pixabay/Herney)

Potongan-potongan bambu dari Shuihudi menghitung pekerjaan para budak muda sebagai satuan produksi, sedangkan potongan-potongan bambu yang disimpan oleh Akademi Yuelu menggambarkan sistem magang di bengkel-bengkel milik negara.

Di Zhengzhuang, dekat tembok makam, para arkeolog menemukan kalung leher dan belenggu kaki dari besi, menjadi bukti langsung bahwa narapidana bekerja di lokasi tersebut.

Para penulis juga berpendapat bahwa menghaluskan permukaan atau mengecat membutuhkan kesabaran lebih daripada kekuatan fisik, sehingga kemungkinan besar perempuan yang melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Interpretasi mereka seperti itu, dan jejak sidik jari itu sendiri tidak membuktikannya.

Unit T23 hanya mencakup sebagian kecil dari Lubang 1, dan pengerjaannya berlangsung lebih dari satu dekade. Hasilnya mungkin mencerminkan satu fase atau satu kelompok kerja, bukan seluruh proyek. Tim tersebut ingin meneliti lubang-lubang lainnya dan menyusun kumpulan referensi sidik jari dari populasi China kuno.

Sidik jari juga telah mengubah gambaran masa lalu lainnya. Sebuah studi di tahun 2024 tentang patung-patung kecil dari kota Mesir yang tenggelam, Thonis-Heracleion, menemukan bahwa patung-patung tersebut dibuat oleh pria, wanita, dan anak-anak, walaupun sumber-sumber Yunani mendeskripsikan kerajinan tersebut sebagai pekerjaan laki-laki.

Para pekerja yang tahu tentang rahasia makam tersebut membuat orang-orang istana kaisar khawatir. Jika di antara mereka terdapat perempuan dan anak-anak, sidik jari mereka pada tanah liat mungkin satu-satunya jejak yang masih bisa dibaca.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya