Liputan6.com, Jakarta - Tim SAR gabungan memperpanjang Operasi Pencarian dan Pertolongan (SAR) terhadap korban tenggelamnya kapal wisata KM Feronia di perairan Pulau Tatawa, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), selama tiga hari ke depan. Keputusan ini diambil setelah evaluasi pelaksanaan operasi hari ketujuh, Senin (19/10/2026), menyusul masih adanya satu korban yang belum ditemukan.
Korban tersebut adalah Veronica Beatrix Jessica (23), yang hingga hari ketujuh pencarian belum ditemukan. Sementara itu, 29 orang lainnya dari total 30 orang yang berada di atas kapal berhasil ditemukan selamat.
Advertisement
KM Feronia merupakan kapal tradisional jenis pinisi dengan tonase GT 51 yang bertolak dari Pelabuhan Marina menuju Dermaga Pulau Rinca pada Selasa (13/10/2026). Berdasarkan informasi kejadian, sekitar pukul 14.30 WITA, kapal melintasi pusaran arus hingga mengalami kemiringan, terbalik, dan akhirnya tenggelam.
Kapal tersebut mengangkut 30 orang atau person on board (POB), terdiri atas lima anak buah kapal (ABK) dan 25 penumpang.
"Pencariannya kita perpanjang selama tiga hari ke depan," ujar Kepala SAR Maumere, Fathur Rahman.
Selama tujuh hari operasi, Tim SAR gabungan mengerahkan berbagai unsur, personel, serta alat utama dan peralatan SAR untuk mendukung pencarian. Upaya dilakukan melalui penyisiran permukaan laut, penyelaman, hingga pemindaian menggunakan teknologi sonar guna mendeteksi keberadaan bangkai kapal dan objek lain yang berkaitan dengan kecelakaan tersebut.
Dalam proses pencarian, tim menemukan sejumlah objek dan tanda yang menjadi perhatian, di antaranya pelampung, tangki selam (dive tank), alat pemancar sinyal darurat EPIRB (Emergency Position-Indicating Radio Beacon), serta tumpahan minyak di sekitar perairan Batu Bolong, Labuan Bajo.
"Temuan-temuan tersebut menjadi bahan evaluasi bagi Tim SAR Gabungan dalam menentukan strategi dan area pencarian lanjutan," katanya.
Pencarian juga didukung penggunaan Multi Beam Sonar milik Distrik Navigasi Kupang yang dioperasikan melalui kapal Open Deck Kamilia. Selain itu, KRI Satran Pulau Fani-731 turut melakukan pemindaian menggunakan peralatan sonar.
Teknologi pendukung lainnya, termasuk Remotely Operated Vehicle (ROV), juga menjadi bagian dari upaya pencarian di bawah permukaan laut.
Arus Kuat Jadi Kendala
Meski berbagai sarana dan teknologi telah dikerahkan, pelaksanaan operasi menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Kondisi arus bawah laut yang sangat kuat, keterbatasan jarak pandang saat penyelaman, serta derasnya arus permukaan menjadi tantangan bagi personel SAR, terutama ketika melakukan pemeriksaan di area bawah laut.
Fathur Rahman, mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan utama selama operasi berlangsung.
"Tim SAR Gabungan menghadapi beberapa rintangan, di antaranya arus bawah air yang sangat kuat, jarak pandang di bawah air yang terbatas, serta arus permukaan di sekitar lokasi pencarian yang cukup deras. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat Tim SAR Gabungan untuk terus melakukan upaya pencarian," ungkapnya.
Berdasarkan hasil evaluasi operasi hari ketujuh, Tim SAR Gabungan menyepakati perpanjangan masa pencarian selama tiga hari ke depan. Langkah ini dilakukan untuk mengoptimalkan seluruh potensi SAR yang tersedia sekaligus menindaklanjuti hasil temuan selama operasi sebelumnya.
Selama masa perpanjangan, tim akan melanjutkan koordinasi lintas instansi, mengevaluasi area pencarian, serta mengoptimalkan penggunaan sarana dan peralatan sesuai kondisi di lapangan.
Keselamatan personel tetap menjadi prioritas dalam setiap tahapan operasi, sementara upaya pencarian terhadap Veronica Beatrix Jessica akan terus dilanjutkan sesuai hasil evaluasi dan perkembangan kondisi di lokasi kejadian.