Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) makin didesak untuk menaikkan suku bunga pada Rabu (21/10/2026). Sejumlah ekonom mengubah perkiraan mereka setelah penyedia indeks global MSCI mengisyaratkan akan menurunkan status pasar saham Indonesia. Kabar ini memicu aksi jual saham dan pelemahan rupiah.
Mengutip CNBC, Selasa (20/10/2026), Citibank kini memperkirakan BI menaikkan suku bunga lebih dulu sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 6,25%. Sebelumnya, Citibank memperkirakan suku bunga akan tetap. Sementara itu, Capital Economics dan Bank Permata memperkirakan kenaikan 25 bps menjadi 6%.
Advertisement
BI menahan suku bunga acuan di level 5,75% sejak Juni 2026.
Pasar Saham dan Rupiah Tertekan
MSCI menyatakan pada Jumat (16/10/2026) bahwa mereka sedang mempertimbangkan untuk memindahkan Indonesia ke status standalone market atau pasar mandiri. Padahal, Indonesia sudah berstatus pasar berkembang sejak 1989.
Kabar tersebut membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penurunan dua hari terburuk yang pernah ada. IHSG baru bangkit sekitar 3% pada Selasa (20/10/2026) setelah otoritas mengumumkan langkah memperbaiki transparansi pasar dan pembentukan harga saham. Salah satunya, mengeluarkan saham perusahaan yang kepemilikannya sangat terkonsentrasi dari indeks utama.
Di pasar uang, rupiah melemah ke 18.030 per dolar AS pada Selasa. Posisi ini mendekati rekor terendah pada Juni. Sepanjang tahun ini, rupiah sudah turun sekitar 8%.
Kenapa BI Perlu Naikkan Suku Bunga?
Wakil Kepala Ekonom Pasar Negara Berkembang Capital Economics Jason Tuvey, menilai BI sebaiknya tidak menahan suku bunga kali ini.
“Tidak menaikkan suku bunga pada Rabu berisiko mengecewakan investor dan menambah tekanan pada rupiah,” kata Tuvey.
Menurut dia, keputusan menahan suku bunga juga bisa memunculkan lagi anggapan di kalangan investor bahwa BI menuruti tekanan politik.
Dari Citibank, Helmi Arman menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga bertujuan mencegah dana keluar dari pasar saham merembet ke obligasi dan memicu investor dalam negeri memindahkan dananya ke luar negeri.
Helmi memperkirakan kenaikan ini hanya sekali. Setelah itu, bisa menyusul langkah lain, seperti pinjaman valuta asing pemerintah atau swap mata uang dengan bank sentral negara lain.
BI sebenarnya sudah menaikkan suku bunga total 100 bps sejak Mei 2026. Inflasi September naik ke 3,28%, tertinggi dalam tiga bulan, tetapi masih dalam target 1,5%-3,5%. Gubernur BI Destry Damayanti menyebut cadangan devisa US$ 146,3 miliar cukup untuk menjaga rupiah stabil.
Kepercayaan Pasar Bisa Jatuh Lebih Cepat
Kepala Ekonom PT Bank Permata Josua Pardede mengingatkan bahwa kepercayaan pasar bisa memburuk jauh lebih cepat daripada kondisi ekonomi. Ia memperkirakan investor asing telah menjual bersih saham Indonesia sekitar US$ 5 miliar tahun ini.
Jika MSCI jadi menurunkan status Indonesia, dana pasif (dana yang mengikuti indeks secara otomatis) yang keluar bisa mencapai US$ 3 miliar hingga US$ 5 miliar. Sekitar US$ 15 miliar dana asing yang dikelola aktif juga berisiko dinilai ulang.
Tekanan diperkirakan datang bertahap: aksi jual berjaga-jaga hingga paruh pertama 2027, lalu otomatis jika MSCI memastikan keputusan pada Juni.
“BI bisa menyediakan likuiditas dan meredam gejolak berlebihan. Namun, hanya reformasi tata kelola pasar yang kredibel yang bisa menjawab kekhawatiran utama MSCI,” ujar Josua.
Josua juga meminta data saham beredar (free float) yang kredibel dan keterbukaan pemilik saham.
“Risiko terbesarnya bukan sekadar kehilangan status pasar berkembang. Risikonya, keraguan soal integritas pasar berubah menjadi kenaikan biaya modal Indonesia yang berlangsung lama,” kata dia.