Top 3 Tekno: Cara Deteksi Kamera Tersembunyi Pakai HP Bikin Penasaran

Kamera tersembunyi di kamar hotel atau penginapan sewaan bisa mengancam privasi. Kamu bisa mendeteksinya cuma pakai HP.

oleh IskandarDiterbitkan 20 Oktober 2026, 11:14 WIB
Kamera tersembunyi lain juga ditemukan pengunjung yang bermalam di penginapan Florida (Dok. Unsplash/ Bernard Hermant).

Liputan6.com, Jakarta - Cara mendeteksi kamera tersembunyi menggunakan HP membuat penasaran para pembaca di kanal Tekno Liputan6.com, Senin (19/10/2026) kemarin.

Berita lain yang juga populer datang dari Komdigi yang baru saja meresmikan Bali Tech Week 2026 guna memperkuat ekonomi digital.

Lebih lengkapnya, simak tiga berita terpopuler di kanal Tekno Liputan6.com berikut ini.

1. HP Ternyata Bisa Digunakan untuk Deteksi Kamera Tersembunyi, Begini Caranya

Kamera tersembunyi di kamar hotel atau penginapan sewaan bisa mengancam privasi tamu. Perangkat pengintai ini bahkan bisa disamarkan dalam benda sehari-hari, seperti pengisi daya USB dan detektor asap.

Dikutip dari BGR, Senin (19/10/2026), HP Android maupun iPhone bisa membantu menemukan kamera tersembunyi melalui pemeriksaan visual, penggunaan senter, dan pemindaian jaringan nirkabel.

Aplikasi penyewaan akomodasi, Airbnb, juga melarang penggunaan kamera pengawas di dalam ruangan pada properti yang terdaftar di platform-nya.

Dalam kebijakan resmi, Airbnb menyatakan, “Kami tidak mengizinkan tuan rumah memiliki kamera keamanan atau perangkat perekam yang memantau ruang konsumen dalam rumah, bahkan jika perangkat itu dimatikan.”

Langkah pertama adalah memeriksa kondisi kamar secara kasat mata. Perhatikan benda dengan lubang kecil atau bentuk yang mencurigakan, terutama di kamar tidur, kamar mandi, dan ruang ganti.

Baca selengkapnya di sini

 
 

2. Komdigi Buka Bali Tech Week 2026, Perkuat Ekonomi Digital

Pembukaan Bali Tech Week (BTW) 2026, di Bali Beach Convention Center, Sanur, Senin (19/10/2026).

Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi) resmi membuka Bali Tech Week (BTW) 2026 di Bali Beach Convention Center, Sanur, Bali.

Ajang ini menjadi platform kolaborasi untuk memperkuat kepercayaan, membuka peluang kemitraan dan investasi, serta memperluas manfaat ekonomi digital bagi masyarakat.

Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia Meutya Hafid mengatakan, Indonesia telah memiliki skala pasar digital yang besar. Tahap berikutnya adalah mengubah skala tersebut menjadi produktivitas, inovasi, dan kemampuan teknologi nasional melalui tiga arah transformasi digital: Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga.

“Tugas utama kita tidak lagi hanya membangun konektivitas Indonesia, tetapi juga memastikan konektivitas itu diterjemahkan menjadi pertumbuhan, baik ekonomi, masyarakatnya, maupun perbaikan layanan publik. Tidak ada pertumbuhan ekonomi yang layak dikejar kalau tidak ada keterjagaan. Pada ujungnya, inovasi harus mampu melindungi masyarakat, dan melindungi perusahaan dengan memberikan kepastian regulasi,” kata Meutya, saat membuka Bali Tech Week (BTW) 2026, di Bali Beach Convention Center, Sanur, Senin (19/10/2026).

Menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada 20 Oktober 2026, Meutya mengajak seluruh pemangku kepentingan melihat kemajuan yang telah dicapai sekaligus pekerjaan yang masih perlu diselesaikan.

Baca selengkapnya di sini

 
 
 
 

3. Pusat Data AI di Dasar Laut, Solusi Cerdas atau Masalah Baru?

Ilustrasi dasar laut (iStock)

Lonjakan pesat teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak hanya merambah ke sektor bisnis, tetapi juga memicu krisis energi serta infrastruktur demi membangun pusat data.

Raksasa teknologi seperti Google, Microsoft, OpenAI, dan Anthropic terus menggelontorkan miliaran dolar untuk mengembangkan AI. Demikian sebagaimana dikutip dari BGR, Senin (19/10/2026).

Namun, di balik kecanggihannya, server AI membutuhkan daya listrik yang masif sehingga menghasilkan panas luar biasa.

Salah satu cara untuk mengatasi panas berlebih adalah dengan membangun pusat data di dasar laut seperti yang telah diuji Microsoft sebelumnya.

Microsoft sempat menguji gagasan ini dengan mengoperasikan pusat data tertutup di dasar laut lepas pantai Skotlandia selama beberapa tahun, dimulai sejak 2018.

Meskipun eksperimen yang disebut Project Natick itu dianggap sukses secara teknis, pada akhirnya dihentikan karena biaya operasional tinggi serta minim permintaan pelanggan. Hal ini menyoroti berbagai tantangan dalam pengembangan pusat data di bawah laut.

Baca selengkapnya di sini

 
 
 
 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya