Liputan6.com, Jakarta - BYD terus memperluas strategi bisnisnya di Asia Tenggara, dengan menyiapkan perakitan kendaraan listrik secara lokal di Malaysia.
Pabrikan otomotif asal China ini, menunjuk Inokom Corporation Sdn Bhd, sebagai mitra perakitan melalui skema completely knocked down (CKD), setelah dikabarkan membatalkan rencana pembangunan pabrik perakitan sendiri di Negeri Jiran tersebut.
Advertisement
Disitat cnEVpost, Selasa (20/10/2026), Inokom sendiri telah memiliki pengalaman merakit kendaraan untuk sejumlah produsen otomotif global di Malaysia.
Kerja sama kedua perusahaan diresmikan melalui penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU), di kantor pusat global BYD di Shenzhen, China. Namun, BYD belum mengungkapkan model kendaraan yang akan dirakit, maupun jadwal dimulainya produksi.
Pemilihan Inokom dilakukan setelah BYD mempertimbangkan kondisi pasar lokal serta kemampuan manufaktur yang tersedia, termasuk fasilitas produksi, tenaga kerja terampil, dan jaringan pemasok.
Managing Director BYD Malaysia, Jacob Ma mengatakan, kemitraan ini menjadi bagian penting dari komitmen jangka panjang perusahaan di Malaysia.
"Perakitan lokal merupakan bagian penting dari komitmen jangka panjang BYD terhadap Malaysia. Bermitra dengan Sime untuk melakukan perakitan di Inokom memungkinkan kami memanfaatkan kemampuan manufaktur otomotif yang telah mapan seiring dengan kemajuan rencana perakitan lokal kami," ujar Ma.
Sebelumnya, BYD mengumumkan rencana pembangunan pabrik perakitan CKD di Malaysia pada Agustus 2025, dengan target produksi dimulai pada 2026.
Strategi BYD di Malaysia
Namun, media lokal The Edge melaporkan pada September 2026, bahwa perusahaan membatalkan rencana pembangunan pabrik sendiri di Tanjung Malim, Perak.
Meski begitu, BYD tetap melanjutkan rencana perakitan lokal, dengan menggandeng perusahaan yang sudah memiliki fasilitas manufaktur.
Dalam laporan sebelumnya, persyaratan proyek awal mencakup ekspor hingga 80 persen hasil produksi, sedangkan 20 persen sisanya dipasarkan di Malaysia dengan harga di atas 200.000 ringgit Malaysia atau sekitar Rp 840 juta.
Perakitan lokal juga menjadi langkah strategis untuk menjaga daya saing harga mobil listrik BYD di Malaysia. Sejak 1 Juli 2026, negara tersebut menerapkan ketentuan bagi mobil listrik berbaterai impor dalam bentuk utuh atau completely built-up (CBU), yakni nilai cost, insurance, dan freight (CIF) minimal 200.000 ringgit Malaysia, atau sekitar Rp 840 juta serta tenaga keluaran setidaknya 180 kW (245 PS).