Konservasi Mangrove Clungup, Upaya Jaga Alam dan Ekonomi Warga

Gerakan konservasi mangrove di Clungup, Malang Selatan, menggabungkan pemulihan ekosistem, pemberdayaan masyarakat, dan rencana pengembangan perdagangan karbon berbasis komunitas.

oleh Luqman RimadiDiterbitkan 19 Oktober 2026, 10:04 WIB
Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Andreas Eddy Susetyo, Tri Rismaharini, bersama stakeholders Clungup Mangrove Conservation (CMC), Malang Selatan, Sabtu (17/10/2026).

Liputan6.com, Jakarta - Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto bersama ratusan anak muda mencanangkan gerakan merawat lingkungan yang berdampak ekonomi di kawasan Clungup, Malang Selatan, Jawa Timur, Sabtu, 17 Oktober 2026.

Kegiatan bertajuk Tekad Merawat Pertiwi Berdampak Ekonomi, dari Anak Muda Clungup Malang Selatan untuk Indonesia Lebih Baik itu turut menghadirkan aktivis lingkungan Saptoyo dan Mochamad Zamroni atau Roni, yang masing-masing merupakan peraih Kalpataru pada 2016 dan 2015.

Kegiatan tersebut menjadi ruang dialog mengenai konservasi, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan ekonomi yang tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Saptoyo, penggerak Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna sekaligus Ketua Yayasan Bhakti Alam Sendang Biru, telah mendedikasikan sekitar 25 tahun untuk merehabilitasi dan melestarikan hutan mangrove di pesisir Pantai Clungup, Kabupaten Malang, bersama sejumlah anak muda.

Perjalanan konservasi itu tidak selalu mudah. Saptoyo mengungkapkan, upaya menjaga kawasan mangrove dilakukan dengan pengorbanan dan semangat gotong royong.

“Tidak sedikit dari kawan kami yang meneteskan darah karena kecelakaan kerja. Tidak ada kompensasi apapun dan tidak ada yang menuntut karena semua berdasarkan kerelaan,” tuturnya.

Dalam rentang sekitar 20 tahun, rehabilitasi hutan di kawasan tersebut mencapai sekitar 158 hektare dengan 46 jenis mangrove. Laju rehabilitasi disebut mencapai 10,3 hektare per tahun ketika dikolaborasikan dengan program ekowisata.

Upaya tersebut juga berkontribusi terhadap keanekaragaman hayati, termasuk menarik 55 jenis burung dan menjadi lokasi penyu bertelur.

"Tempat ini di tahun 2021, telah menghasilkan 9000 ton serapan karbon. Kawasan ini, juga telah memberikan manfaat ekonomi bagi 60 orang pekerja. Belum lagi manfaat ekonomi yang diberikan kepada ibu-ibu yang memasak untuk kebutuhan tamu. Serta kelompok nelayan perahu. Total manfaat ekonomi langsung yang didapatkan Rp2 milyar rupiah setahun," lanjut Saptoyo.

Libatkan Anak Muda dalam Aksi Lingkungan

Aktivis lingkungan sekaligus Presiden Tunas Hijau Indonesia, Mochamad Zamroni atau Roni, menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam aksi lingkungan yang berkelanjutan.

Organisasi yang berdiri pada 1999 dan berbasis di Surabaya itu aktif menjalankan pendidikan serta aksi lingkungan, mulai dari kampanye gaya hidup ramah lingkungan, pengelolaan sampah, konservasi air, hingga isu perubahan iklim.

Roni mencontohkan program Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup yang berjalan sejak 2002. Melalui program tersebut, anak-anak dan pelajar didorong membuat proyek lingkungan yang berkelanjutan.

“Melalui program Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup sejak tahun 2002, kami mengajak anak-anak untuk membuat proyek lingkungan hidup berkelanjutan. Itu berlangsung setiap tahun hingga sekarang. Ada pelajar yang berhasil membudidaya 35 ribu tanaman mangrove dan menanamnya dalam setahun bersama bahwa komunitas petani setempat. Ada pula pelajar yang dalam sehari mengolah 110 kilogram sampah organik. Ini membuktikan bahwa anak-anak, telah membuktikan diri bisa berbuat aksi nyata berkelanjutan untuk lingkungan. Mengeluh tidak akan memgubah keadaan,” pesan Roni.

Agenda di Clungup juga disiarkan melalui Webinar Nasional Tunas Hijau seri ke-319 bertema Konservasi, Dialog & Kolaborasi untuk Bumi. Kegiatan daring tersebut diikuti lebih dari 3.000 pelajar, mahasiswa, guru, dosen, dan masyarakat umum.

Format webinar memungkinkan praktik konservasi yang dilakukan di Clungup dibagikan kepada peserta dari berbagai wilayah, tanpa menambah jumlah kunjungan langsung ke kawasan ekowisata yang dibatasi maksimal 300 orang.

 

Hasto Tekankan Pentingnya Ilmu dan Kolaborasi

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Andreas Eddy Susetyo, Tri Rismaharini, bersama stakeholders Clungup Mangrove Conservation (CMC), Malang Selatan, Sabtu (17/10/2026).

Dalam dialog tersebut, Hasto Kristiyanto menekankan bahwa gerakan konservasi perlu berangkat dari kepedulian terhadap persoalan nyata di masyarakat. Kerusakan lingkungan, menurut materi yang disampaikan dalam kegiatan, perlu direspons melalui diskusi, pengembangan gagasan, dan aksi dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia.

Hasto juga menyoroti pentingnya pengetahuan, riset, keterampilan, dan teknologi dalam memulihkan ekosistem. Kekayaan alam dan keanekaragaman hayati Indonesia perlu dikelola dengan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik setiap wilayah.

Contohnya, rehabilitasi mangrove, penanaman cemara udang dan ketapang, serta penerapan metode Miyawaki perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan setempat agar upaya pemulihan dapat berjalan efektif.

Konservasi, dalam pendekatan tersebut, tidak hanya dimaknai sebagai pembatasan aktivitas ekonomi. Kegiatan ekonomi justru perlu dikembangkan agar dapat berjalan tanpa merusak lingkungan yang menjadi penopangnya.

Hasto juga menekankan bahwa perlindungan lingkungan membutuhkan dukungan kebijakan yang tegas. Dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan, misalnya, diperlukan tata ruang yang baik, perlindungan kawasan yang harus dijaga, penegakan hukum terhadap praktik pembakaran, serta kesiapan mitigasi bencana.

Aksi individu dan komunitas dinilai penting, tetapi perlu didukung peran pemerintah dalam menetapkan aturan dan memastikan pelaksanaannya.

Dorong Perdagangan Karbon Berbasis Komunitas

Anggota DPR Andreas Eddy Susetyo menilai tantangan lingkungan semakin kompleks, mulai dari peningkatan timbunan sampah hingga kerusakan ekosistem dan ancaman terhadap keanekaragaman hayati. Karena itu, upaya konservasi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk keluarga, sekolah, pemerintah, dunia usaha, dan komunitas masyarakat.

Andreas juga menyampaikan rencana mendorong CMC masuk ke skema perdagangan karbon berbasis komunitas. Untuk itu, sejumlah persyaratan perlu dipenuhi, mulai dari legalitas kawasan, sertifikasi, penghitungan serapan karbon yang kredibel, hingga pencatatan unit karbon dalam Sistem Registri Unit Karbon Nasional (SRUK).

"Kami akan mendorong CMC untuk dapat masuk ke perdagangan karbon berbasis komunitas pertama, kita akan bantu CMC untuk memenuhi sejumlah syarat: legalitas kawasan, sertifikasi, penghitungan penyerapan karbon yang kredibel, serta pencatatan unit karbon pada Sistem Registri Unit Karbon Nasional (SRUK)," pungkas Andreas.

 

Jaga Keberlanjutan Konservasi

Kegiatan Tekad Merawat Pertiwi Berdampak Ekonomi, dari Anak Muda Clungup Malang Selatan untuk Indonesia Lebih Baik itu turut menghadirkan aktivis lingkungan Saptoyo dan Mochamad Zamroni atau Roni, yang masing-masing merupakan peraih Kalpataru pada 2016 dan 2015.

Sementara itu, Tri Rismaharini menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan program konservasi agar tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Menurut dia, dialog dapat mempertemukan pengalaman, pengetahuan, dan gagasan dari berbagai daerah sehingga praktik baik dapat dipelajari dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing wilayah.

Risma juga menyoroti kebersihan sebagai salah satu syarat keberlanjutan wisata. Manfaat ekonomi dari meningkatnya kunjungan diharapkan tidak hanya dinikmati pengelola kawasan, tetapi juga masyarakat sekitar, termasuk pemilik warung kuliner, perajin, pemandu, dan pemilik perahu.

Adapun Eriko Sotarduga mengajak generasi muda memilih kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

“Pilihlah yang bisa memberikan manfaat bagi banyak orang banyak,” terang Eriko.

Dia juga mengajak generasi muda berpartisipasi dalam Pekan Peduli Sampah Nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 9-14 November 2026. Salah satu kegiatan yang didorong adalah pengolahan sampah organik menjadi kompos.

Rangkaian kegiatan di Clungup diawali dengan lokakarya mengenai peluang dan tantangan perdagangan karbon bagi komunitas di kawasan Pantai Clungup dan Teluk Asmara. Kegiatan ditutup dengan susur mangrove hingga Pantai Tiga Warna yang diikuti ratusan anak muda, ibu-ibu, dan nelayan.

Melalui kegiatan tersebut, kawasan Clungup diarahkan untuk terus mengembangkan konservasi yang terhubung dengan pemberdayaan masyarakat. Selain menjadi kawasan ekowisata, CMC diharapkan dapat mengembangkan perdagangan karbon berbasis komunitas dan produk unggulan warga yang memiliki daya saing di tingkat nasional maupun internasional.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya