Liputan6.com, Jakarta - Komposer asal Pematangsiantar, Sumatera Utara, Jesica Yap, menghadirkan karya instrumental terbaru berjudul What the Mind Keeps pada 19 Agustus 2026 yang tersedia di semua streaming platform. Melalui komposisi ini, Jesica mengeksplorasi ingatan, perasaan, dan pengalaman manusia tanpa mengandalkan lirik, melainkan lewat melodi piano, perubahan harmoni, serta permainan tekstur musikal yang berkembang sepanjang lagu.
Berbeda dari karya-karya vocal sebelumnya, What the Mind Keeps mengajak pendengar menikmati sebuah cerita melalui musik tanpa kata-kata. Karya ini terinspirasi dari hal-hal yang diam-diam tersimpan dalam pikiran kita, mulai dari kenangan, perasaan, hingga momen-momen kecil yang terkadang muncul kembali tanpa diduga, ketika waktu terus berjalan.
Advertisement
Untuk menggambarkan perjalanan tersebut, Jesica membiarkan musiknya mengalir dari melodi-melodi sederhana yang perlahan berkembang menjadi lebih kaya dan penuh warna. Ada bagian yang terasa tenang, ada pula yang semakin ritmis dan penuh energi, membawa pendengar melalui berbagai suasana yang terus berubah. Seperti pikiran manusia yang tak pernah benar-benar diam, musik ini mengalir di antara kenangan, perasaan, dan hal-hal kecil yang tanpa disadari tetap tinggal dalam diri kita.
“Saya tertarik dengan bagaimana pikiran kita menyimpan begitu banyak hal, mulai dari kenangan, perasaan, hingga ide-ide kecil yang terkadang muncul kembali tanpa kita sadari. Melalui What the Mind Keeps, saya ingin mengeksplorasi bagaimana pengalaman tersebut dapat diterjemahkan ke dalam musik melalui pengulangan motif, perubahan suasana, dan dinamika yang berkembang secara bertahap. Saya berharap pendengar tidak hanya menikmati musik ini, tetapi juga ikut terbawa dalam perjalanan musikalnya, merasakan bagaimana setiap bagian berkembang dan saling terhubung dari awal hingga akhir,” ujar Jesica.
Eksplorasi Piano dalam Kolaborasi Lintas Negara
Dalam proses produksi What the Mind Keeps, Jesica mengambil sejumlah peran sekaligus, mulai dari komposer, arranger, produser, pianis, hingga pengisi tekstur vokal. Ia berkolaborasi dengan Jeremy Miller yang menangani drum dan perkusi, serta Julian Chan sebagai mixing engineer. Proses kolaborasi ini melibatkan Los Angeles, Ohio, dan Coventry di Inggris. Pertemuan para musisi dari lokasi berbeda turut membentuk karakter produksi yang memadukan permainan piano dengan elemen musikal lainnya.