Korea Utara Klaim Uji Coba Sistem Torpedo Baru Berteknologi AI Berhasil

Torpedo ini diklaim mampu melaju sangat cepat dan mengenai sasaran secara akurat, tetapi Korea Utara tidak merinci bagaimana teknologi AI digunakan.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 19 Oktober 2026, 18:00 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kiri depan) bersama istri dan putrinya mengunjungi Museum Revolusi Pertahanan Nasional yang baru dibangun di lokasi yang tidak disebutkan di Korea Utara, Minggu (11/10/2026). (Dok. KCNA/Korea News Service via AP)

Liputan6.com, Pyongyang - Korea Utara mengumumkan keberhasilan uji coba sistem torpedo baru bernama Zam-2.0 yang diklaim menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi dan mengarahkan serangan ke sasaran.

Kantor berita resmi Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA), seperti dikutip CNA melaporkan bahwa torpedo tersebut diuji pada Kamis (15/10/2026). 

Uji coba itu sekaligus membuktikan keandalan sistem penggerak torpedo yang disebut telah melalui lebih dari 180 pengujian selama lima tahun terakhir.

Hingga saat ini, militer Korea Selatan belum memberikan tanggapan resmi. Seoul selama ini kerap menuding Pyongyang melebih-lebihkan kecanggihan teknologi persenjataannya untuk kepentingan propaganda.

Rentetan uji coba ini menegaskan pergeseran fokus pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, yang mulai memperkuat kemampuan angkatan laut setelah bertahun-tahun berfokus pada rudal balistik darat. Hanya sehari sebelum uji torpedo, tepatnya pada Rabu (14/10/2026), Korea Utara juga meluncurkan rudal dari bawah permukaan laut untuk pertama kalinya dalam hampir tiga tahun. Para pakar menduga uji coba tersebut melibatkan kapal selam baru yang dirancang untuk meluncurkan senjata nuklir.

Selain persenjataan laut, Pyongyang tercatat telah menguji sejumlah sistem rudal hipersonik pada 20 September dan 3 Oktober 2026 guna menembus perisai pertahanan udara Korea Selatan dan Jepang. Kim Yo Jong, adik perempuan Kim Jong Un yang berpengaruh besar, bahkan mengklaim bahwa rudal yang diuji pada 3 Oktober lalu juga sudah mengadopsi teknologi AI.

Meski demikian, sejumlah pakar militer meragukan klaim digitalisasi otonom tersebut. Menurut mereka, perangkat lunak pemandu senjata Korea Utara memang mengalami peningkatan, tetapi belum mencapai tahap adaptasi AI yang mampu menentukan target secara mandiri tanpa kendali manusia.

Ketegangan di Semenanjung Korea ini terus memuncak setelah Kim Jong Un menghentikan seluruh hubungan diplomatik dengan Korea Selatan dan menetapkan negara tetangganya itu sebagai musuh permanen, di tengah kebuntuan perundingan nuklir dengan Amerika Serikat.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya