Studi: 29 Persen Organisasi Indonesia Punya Benteng Siber Terkuat di Dunia

29 persen organisasi di Indonesia berhasil masuk kategori Relentless Defenders atau kelompok berkinerja terbaik dalam menangkal serangan siber.

oleh IskandarDiterbitkan 19 Oktober 2026, 12:21 WIB
Semakin maju dunia teknologi, masing-masing individu harus segera membekali diri dengan ilmu tentang keamanan siber. (Foto: Pexels/Pixabay)

Liputan6.com, Jakarta - Seiring meningkatnya intensitas kejahatan siber, lebih dari 50 persen serangan siber yang menargetkan berbagai organisasi di Indonesia kini memanfaatkan efisiensi dan kecepatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Ancaman ini memaksa tim keamanan bekerja ekstra cepat, mengingat respons manual harian kini berhadapan langsung dengan serangan agen otonom yang bekerja dalam hitungan detik.

Mengutip studi terbaru Cisco bertajuk 'Relentless Defense Report', Senin (19/10/2026), skor rata-rata ketahanan siber organisasi di Indonesia berada di angka 72 dari 100.

Menariknya, sebanyak 29 persen organisasi di Tanah Air berhasil masuk ke dalam kategori Relentless Defenders atau kelompok berkinerja terbaik dalam menangkal serangan siber. Angka ini jauh melampaui pencapaian rata-rata global yang hanya mencatatkan 8 persen.

“AI secara fundamental telah meningkatkan eskalasi risiko dalam pertahanan siber. Di era pasca-Mythos, kecepatan pertahanan didorong oleh kelincahan operasional, bukan hanya teknologi," ungkap Managing Director Cisco Indonesia, Cin Cin Go.

Ia menilai organisasi yang mampu tetap unggul adalah mereka yang mengintegrasikan keamanan ke dalam operasional mereka dan memperlakukannya lebih dari sekadar formalitas compliance.

"Mereka juga harus bisa meruntuhkan silo-silo operasional sehingga orang yang tepat dapat mengambil keputusan yang tepat di waktu yang tepat," Cin Cin Go memungkaskan.

Meskipun capaian Relentless Defenders di Indonesia cukup dominan, laporan tersebut menggarisbawahi hambatan operasional yang kerap memperlambat respons pertahanan.

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Data Antar-sistem Terfragmentasi

Pembagian peran, proses persetujuan, dan ego sektoral (silo) yang tersebar di jajaran divisi IT, pengadaan, hingga tingkat eksekutif kerap memicu kelambatan.

Akibatnya, alur pengambilan keputusan menjadi tidak tegas dan data antar-sistem terfragmentasi, yang pada akhirnya menyulitkan proses adopsi maupun pengelolaan AI pertahanan.

Hambatan internal tersebut terlihat jelas dalam lanskap operasional harian organisasi di Indonesia:

  • Kendala Koordinasi: Hanya 63 persen organisasi yang merasa tim keamanan, jaringan, dan IT telah beroperasi secara padu menggunakan fasilitas serta visibilitas instrumen yang sama.
  • Komunikasi Eksekutif: Sebanyak 43 persen praktisi menilai indikator keamanan masih terlalu teknis untuk dipahami jajaran manajemen puncak, sementara 29 persen lainnya kesulitan menerjemahkan parameter teknis menjadi dampak bisnis.
  • Akses dan Efisiensi Data: Sebesar 38 persen waktu tim keamanan di Indonesia habis hanya untuk mengumpulkan serta menghubungkan data antar-sistem, sementara 46 persen organisasi kerap kehilangan wawasan krusial akibat data terisolasi.

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Penyatuan Visibilitas Sistem

Dari sisi adopsi teknologi, penggunaan AI sebenarnya terbukti mempercepat pendeteksian ancaman hingga minimal 25 persen dan memangkas beban kerja tim secara signifikan.

Keamanan data dan privasi menjadi sektor dengan adopsi AI tertinggi, sedangkan Identity and Access Management (IAM) masih tergolong rendah.

Kendati 40 persen organisasi masih enggan mendistribusikan agen AI karena kekhawatiran kebocoran data dan kebocoran sistem, lebih dari 80 persen organisasi di Indonesia tetap optimistis mampu mendeteksi serta mengatasi potensi penyusupan pada sistem AI mereka.

Keunggulan kelompok Relentless Defenders terletak pada penyatuan visibilitas sistem dan konsistensi kontrol identitas, yang terbukti menekan angka insiden siber secara signifikan.

 
 
 
 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya