Konsultasi Keuangan: Gaji Selalu Habis Sebelum Akhir Bulan, Apa yang Salah?

Gaji habis untuk KPR dan kebutuhan keluarga? Perencana keuangan Rista Zwestika membagikan cara mengatur uang tanpa memaksakan diri menabung.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 18 Oktober 2026, 13:00 WIB
Perencana Keuangan Rista Zwestika.

Liputan6.com, Jakarta - Saya pekerja di Jakarta. Saya gajian tangal 25 setiap bulan tetapi penghasilan saya sebagian besar sudah langsung habis pada tanggal 1 bulan berikutnya atau selalu habis dalam 1 minggu.

Begitu gaji masuk, uang langsung terpakai untuk membayar cicilan KPR, listrik, air, transportasi, dan kebutuhan keluarga. Saya tidak memiliki utang lain di luar KPR. Setelah semua kewajiban dibayar, uang yang tersisa hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sampai gajian berikutnya.

Saya sudah berusaha berhemat, mulai dari membawa bekal ke kantor, mengurangi jajan, hingga membatasi pengeluaran yang tidak mendesak. Namun, harga kebutuhan pokok terus meningkat, sementara penghasilan saya relatif tidak berubah. Akibatnya, saya tidak memiliki tabungan maupun dana darurat. Jika ada kebutuhan mendadak, saya terpaksa meminjam uang kepada teman atau saudara, lalu melunasinya ketika gajian.

Dalam kondisi seperti ini, bagaimana cara mengatur keuangan secara realistis ketika sebagian besar gaji sudah habis untuk kebutuhan wajib? Apakah saya tetap harus memaksakan diri menyisihkan uang untuk tabungan meski kebutuhan bulanan belum sepenuhnya terpenuhi?

Bagaimana menentukan prioritas antara membayar tagihan, melunasi utang, memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan membangun dana darurat? Jika pengeluaran sudah sangat terbatas dan tidak banyak lagi yang bisa dipangkas, kapan saya harus mulai mempertimbangkan mencari penghasilan tambahan atau mengubah struktur pengeluaran secara lebih mendasar?

Mohon bantuannya. Terima kasih.

Pengirim: Pembaca Liputan6.com

 

Jawaban:

1. Bagaimana cara mengatur keuangan ketika sebagian besar gaji sudah habis untuk kebutuhan wajib?

Hal pertama yang perlu dipahami adalah tidak semua masalah keuangan terjadi karena seseorang boros. Ada juga orang yang sudah sangat berhemat, tetapi penghasilannya memang tidak lagi cukup untuk menutup biaya hidup.

Apalagi bagi pekerja di Jakarta yang harus menanggung cicilan rumah, transportasi, listrik, kebutuhan makan, dan biaya keluarga.

Kalau gaji masuk tanggal 25, tetapi tanggal 1 sudah hampir habis, kita perlu melihat apakah uang tersebut benar-benar habis untuk kebutuhan satu bulan atau sebenarnya sudah dialokasikan untuk membayar berbagai kewajiban.

Karena dua kondisi ini berbeda.

Kalau uang sudah dialokasikan untuk kebutuhan sampai gajian berikutnya, sebenarnya belum tentu bermasalah. Tetapi kalau uang yang tersisa tidak cukup untuk bertahan sampai tanggal 25 berikutnya, berarti ada ketidakseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran.

Langkah pertama yang saya sarankan adalah melakukan evaluasi arus kas selama tiga bulan terakhir.

Pisahkan pengeluaran menjadi tiga kelompok:

  1. Pengeluaran wajib: Cicilan KPR, listrik, air, transportasi kerja, makan, pendidikan anak, dan kebutuhan pokok keluarga.
  2. Pengeluaran yang masih bisa disesuaikan: Paket internet, langganan digital, pilihan transportasi, belanja rumah tangga, dan pengeluaran sosial.
  3. Pengeluaran tidak rutin: Servis kendaraan, biaya kesehatan, perbaikan rumah, kebutuhan sekolah, dan pengeluaran mendadak lainnya.

Sering kali kita merasa sudah mencatat semua pengeluaran, padahal masih ada biaya tidak rutin yang luput diperhitungkan.

Tujuan membuat anggaran bukan sekadar mencari pengeluaran yang bisa dipotong, tetapi mengetahui apakah penghasilan kita masih mampu membiayai kehidupan yang sedang dijalani.

 

Memaksakan Diri Menabung

Aktivitas pekerja saat jam pulang kantor di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

2. Apakah tetap harus memaksakan diri menabung meskipun kebutuhan bulanan belum terpenuhi?

Menurut saya, menabung itu penting, tetapi jangan sampai demi menabung seseorang justru harus berutang untuk membeli kebutuhan pokok.

Misalnya, penghasilan Rp 6 juta, sementara kebutuhan wajib mencapai Rp 6,2 juta.

Kalau kita memaksakan menabung Rp 500 ribu setiap bulan, sementara kebutuhan hidup belum terpenuhi, kemungkinan besar tabungan tersebut akan diambil kembali atau kita terpaksa meminjam uang.

Artinya, masalah utamanya bukan kurang disiplin menabung, tetapi adanya defisit arus kas.

Dalam kondisi seperti ini, prioritas pertama adalah menghentikan defisit tersebut.

Namun, jika masih ada sedikit ruang, tidak masalah memulai tabungan dengan nominal kecil, misalnya Rp 10 ribu atau Rp 20 ribu setiap minggu.

Tujuannya bukan langsung mengejar jumlah tabungan yang besar, tetapi mulai membangun kebiasaan dan cadangan keuangan.

Yang penting, uang tersebut benar-benar berasal dari sisa penghasilan, bukan dari utang.

Jangan sampai kita terlihat punya tabungan, tetapi sebenarnya sedang membiayai kehidupan sehari-hari menggunakan pinjaman.

 

Menentukan Prioritas

Aktivitas pekerja saat jam pulang kantor di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

3. Bagaimana menentukan prioritas antara membayar tagihan, utang, kebutuhan hidup, dan dana darurat?

Dalam kondisi keuangan yang sangat terbatas, kita harus berani menentukan prioritas berdasarkan tingkat kebutuhan dan konsekuensi jika tidak dibayar.

Saya menyarankan urutan berikut.

Prioritas pertama: Memenuhi kebutuhan dasar keluarga.

Pastikan kebutuhan makan, transportasi untuk bekerja, listrik, air, serta kebutuhan kesehatan yang mendesak tetap terpenuhi.

Jangan sampai demi membayar kewajiban tertentu, keluarga justru tidak memiliki uang untuk makan atau seseorang tidak bisa berangkat bekerja.

Prioritas kedua: Menjaga kewajiban pembayaran KPR.

Karena satu-satunya utang yang dimiliki adalah KPR, pastikan cicilannya tetap menjadi perhatian utama.

Keterlambatan pembayaran dapat menimbulkan denda, memengaruhi riwayat kredit, dan berisiko terhadap kepemilikan rumah apabila tunggakan terus berlanjut.

Jika cicilan mulai terasa terlalu berat, jangan menunggu sampai menunggak berbulan-bulan.

Segera komunikasikan dengan pihak bank untuk mengetahui apakah tersedia opsi penyesuaian pembayaran atau restrukturisasi sesuai kebijakan bank.

Prioritas ketiga: Menghentikan kebiasaan berutang untuk menutup kebutuhan bulanan.

Walaupun meminjam kepada teman atau keluarga tidak selalu dikenakan bunga, kebiasaan ini tetap berisiko.

Mengapa?

Karena gaji bulan berikutnya sudah memiliki beban sebelum diterima.

Akhirnya muncul pola yang terus berulang:

Gajian → Bayar utang bulan lalu → Uang berkurang → Kebutuhan belum terpenuhi → Pinjam lagi.

Kalau pola ini tidak dihentikan, kenaikan penghasilan sekalipun belum tentu langsung menyelesaikan masalah.

Prioritas keempat: Membangun dana darurat secara bertahap.

Tidak perlu langsung memaksakan target dana darurat sebesar 6-12 kali dari pendapatan perbulan, Mulailah dengan target kecil yang realistis, misalnya Rp 500 ribu, kemudian Rp 1 juta.

Setelah kondisi arus kas membaik, tingkatkan secara bertahap hingga mencapai dana darurat yang sesuai dengan jumlah tanggungan dan risiko pekerjaan.

Dana darurat bukan hanya untuk menghadapi kehilangan pekerjaan, tetapi juga untuk mencegah keluarga kembali berutang ketika menghadapi pengeluaran tidak terduga.

 

Tidak Ada Lagi yang Bisa Dipangkas

Sejumlah orang berjalan di trotoar pada saat jam pulang kantor di Kawasan Sudirman, Jakarta. (Liputan6.com/Johan Tallo)

4. Bagaimana jika pengeluaran sudah sangat terbatas dan tidak ada lagi yang bisa dipangkas?

Ini bagian yang menurut saya paling penting.

Kalau seseorang sudah membawa bekal, mengurangi jajan, menekan biaya transportasi, dan hanya membeli kebutuhan pokok, tetapi gajinya tetap tidak cukup, jangan terus-menerus menjadikan penghematan sebagai satu-satunya solusi.

Ada batas kemampuan seseorang untuk berhemat.

Kita tidak bisa terus mengurangi biaya makan, kesehatan, atau kebutuhan anak hanya agar angka pengeluaran terlihat lebih kecil.

Dalam kondisi tersebut, ada dua hal yang perlu dievaluasi.

Pertama, apakah ada pengeluaran tetap yang terlalu besar dibandingkan kemampuan penghasilan?

Contohnya cicilan KPR.

Secara umum, total cicilan utang sebaiknya dijaga di kisaran maksimal 30% dari penghasilan bulanan. Namun, angka ini merupakan panduan, bukan jaminan bahwa kondisi keuangan pasti aman.

Bagi keluarga dengan banyak tanggungan, cicilan 30% pun bisa terasa berat.

Misalnya, gaji Rp 7 juta dengan cicilan KPR Rp 3 juta.

Artinya, sekitar 43% penghasilan sudah digunakan untuk membayar rumah.

Sisa Rp 4 juta harus digunakan untuk makan, listrik, transportasi, pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan keluarga.

Kalau kondisinya seperti ini, masalah keuangan tidak akan selesai hanya dengan berhenti membeli kopi atau mengurangi jajan.

Perlu dilakukan evaluasi lebih mendasar terhadap struktur pengeluaran, termasuk mempertimbangkan penyesuaian fasilitas kredit bersama bank, meninjau biaya transportasi, atau mengevaluasi pilihan tempat tinggal jika memang diperlukan dan memungkinkan.

Kedua, apakah penghasilan masih sebanding dengan biaya hidup?

Jika biaya hidup terus meningkat sementara gaji relatif tidak berubah, kemampuan keuangan keluarga secara riil akan semakin tertekan.

Karena itu, mencari tambahan penghasilan bukan berarti seseorang gagal mengelola uang.

Justru bisa menjadi langkah rasional untuk menjaga stabilitas keuangan keluarga.

 

Penghasilan Tambahan

Sejumlah orang berjalan di trotoar pada saat jam pulang kantor di Kawasan Sudirman, Jakarta. (Liputan6.com/Johan Tallo)

5. Kapan sebaiknya mulai mencari penghasilan tambahan?

Menurut saya, jangan menunggu sampai utang menumpuk.

Ada beberapa tanda bahwa seseorang perlu mulai mempertimbangkan tambahan penghasilan:

  • Gaji rutin habis sebelum periode gajian berikutnya.
  • Sudah berhemat, tetapi pengeluaran wajib tetap lebih besar daripada pendapatan
  • Tidak mampu menyisihkan dana darurat selama beberapa bulan.
  • Harus meminjam uang untuk membeli kebutuhan pokok.
  • Kenaikan biaya hidup tidak diimbangi kenaikan penghasilan.

Jika kondisi tersebut terus terjadi, berarti persoalannya sudah masuk kategori ketidakseimbangan arus kas yang membutuhkan perubahan.

Namun, mencari tambahan penghasilan juga harus realistis.

Tidak semua pekerja memiliki waktu, tenaga, atau modal untuk membuka usaha.

Mulailah dengan melihat keterampilan yang sudah dimiliki.

Misalnya mengambil pekerjaan lepas, mengajar, menawarkan jasa sesuai keahlian, atau mencari peluang peningkatan pendapatan dari pekerjaan utama.

Bahkan, dalam beberapa kasus, meningkatkan keterampilan untuk memperoleh pekerjaan dengan gaji lebih tinggi bisa lebih efektif daripada menjalankan usaha sampingan yang membutuhkan modal dan berisiko.

Yang perlu dihindari adalah menggunakan pinjaman untuk memulai usaha ketika kondisi keuangan keluarga sendiri belum stabil.

 

Langkah Realistis

Para pekerja berjalan di jam pulang kantor di Kawasan Thamrin, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

6. Apa langkah paling realistis yang bisa dilakukan mulai bulan depan?

Saya menyarankan untuk mengubah cara mengelola gaji.

Jangan hanya berfokus pada tanggal gajian, tetapi buat perencanaan untuk satu siklus gaji penuh.

Misalnya gajian tanggal 25.

Pada hari tersebut, langsung pisahkan uang untuk kewajiban tetap seperti KPR dan tagihan bulanan.

Kemudian hitung uang yang benar-benar tersedia untuk kebutuhan sehari-hari sampai tanggal 24 bulan berikutnya.

Contohnya:

Penghasilan bulanan: Rp 7.000.000

  • Cicilan KPR: Rp 2.000.000
  • Listrik, air, internet: Rp 600.000
  • Transportasi kerja: Rp 800.000
  • Kebutuhan keluarga dan makan: Rp 2.800.000
  • Kebutuhan lain yang penting: Rp 500.000

Total pengeluaran: Rp 6.700.000

Sisa uang: Rp 300.000

Dalam kondisi ini, jangan langsung memaksakan tabungan Rp 1 juta.

Lebih realistis mengalokasikan sebagian dari Rp 300 ribu tersebut untuk membangun dana darurat, sambil tetap menyediakan ruang untuk kebutuhan yang belum tercatat.

Untuk pengeluaran yang sifatnya harian, gunakan sistem anggaran mingguan agar uang tidak habis terlalu cepat.

Namun, perlu diingat bahwa sistem anggaran mingguan hanya membantu mengatur waktu penggunaan uang. Sistem ini tidak dapat menyelesaikan masalah jika total pengeluaran memang lebih besar daripada penghasilan.

 

Pesan untuk Pekerja

7. Apa pesan untuk pekerja yang merasa sudah berhemat tetapi tetap tidak bisa menabung?

Saya ingin menekankan bahwa kondisi keuangan seseorang tidak bisa dinilai hanya dari seberapa besar tabungannya.

Ada pekerja yang penghasilannya cukup besar, tetapi pengeluarannya juga besar karena gaya hidup.

Namun, ada pula pekerja yang penghasilannya terbatas dan hampir seluruhnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Keduanya membutuhkan solusi yang berbeda.

Untuk kelompok kedua, nasihat seperti mengurangi jajan, berhenti membeli kopi, atau menyisihkan 20% gaji tidak selalu relevan.

Yang lebih dibutuhkan adalah strategi untuk memperbaiki keseimbangan pendapatan dan pengeluaran.

Jangan mengukur keberhasilan mengelola keuangan hanya dari seberapa banyak uang yang berhasil ditabung.

Dalam kondisi yang sangat terbatas, keberhasilan pertama mungkin justru ketika seseorang mampu memenuhi kebutuhan keluarga selama satu bulan tanpa harus berutang.

Setelah itu, barulah membangun dana darurat, meningkatkan tabungan, dan mempersiapkan tujuan keuangan jangka panjang.

Karena pada akhirnya, tujuan perencanaan keuangan bukan membuat seseorang terus-menerus menahan kebutuhan hidup demi menabung.

Tujuan perencanaan keuangan adalah memastikan uang yang dimiliki mampu mendukung kehidupan hari ini, sekaligus secara bertahap membangun keamanan finansial untuk masa depan.

 

Rista Zwestika, CFP, WMI

Financial Planner

Founder Finante

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya