Asap Kebakaran Hutan Meluas ke Jakarta, Warga Diimbau Tak Panik

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus berupaya mengendalikan polusi udara di Ibu Kota.

oleh Rifqy Alief AbiyyaDiterbitkan 17 Oktober 2026, 11:07 WIB
Pemandangan saat kabut asap menyelimuti Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (18/9/2019). Kebakaran hutan Indonesia menyebarkan kabut asap hingga Malaysia dan Singapura. Menurut BMKG, kabut asap akibat kebakaran hutan di Indonesia terbawa angin ke Malaysia dan Singapura. (AP Photo/Vincent Thian)

Liputan6.com, Jakarta - Sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Sumatra dan Kalimantan terdeteksi telah mencapai wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga sebagian Banten. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengimbau masyarakat tetap tenang dan menggunakan masker untuk mengurangi risiko paparan polusi udara.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengatakan, pemerintah daerah terus berupaya mengendalikan polusi udara di Ibu Kota, termasuk melalui penerapan teknologi penyemprotan air atau water mist di sejumlah wilayah.

"Yang pasti, kita enggak boleh panik. Ini situasi memang alam sedang seperti ini," kata Rano kepada wartawan, Sabtu (17/10/2026).

Menurut Rano, penggunaan teknologi tersebut merupakan salah satu langkah pengendalian polusi udara, meski bukan satu-satunya upaya yang dilakukan pemerintah.

"Water spray, itu salah satu juga, bukan satu-satunya. Salah satunya untuk mengendalikan di beberapa wilayah," katanya.

Selain upaya pemerintah, Rano meminta masyarakat melindungi diri dari paparan polusi udara dengan menggunakan masker. Ia juga mengingatkan bahwa masyarakat perlu mewaspadai penyakit flu yang berpotensi menyebar di tengah kondisi tersebut.

"Yang kedua, masker, barangkali memang harus, karena ya sekarang maaf ya, bukan hanya asap, juga mungkin di beberapa tempat sudah terjadi yang disebut flu," tutur Rano.

 

Informasi BMKG

Penampakan dari BMKG soal sebaran asap kebakaran hutan dan lahan. (Foto: BMKG).

Sebelumnya, Sekretaris Utama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Guswanto mengonfirmasi bahwa sebaran asap karhutla telah terdeteksi memasuki wilayah Jakarta, Jawa Barat, dan Banten berdasarkan citra pemantauan BMKG.

"Kalau kita lihat dari citra sebaran asap wilayah Indonesia yang dirilis BMKG jam 10.00 tadi ya, itu hasil deliniasi terdeteksi asap yang sudah masuk ke wilayah Banten, maupun Jawa Barat, ataupun di Jakarta sendiri," kata dia saat dikonfirmasi wartawan, Jumat, 16 Oktober 2026.

Guswanto menjelaskan, citra tersebut menunjukkan dua wilayah sebaran asap. Sebaran pertama berasal dari kebakaran hutan di Merauke, Papua Selatan, yang meluas hingga Maluku. Area ini ditandai dengan garis putus-putus berwarna merah muda.

Sementara itu, sebaran asap dari Sumatra dan Kalimantan terpantau meluas hingga sebagian wilayah Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta. Pergerakan asap lintas negara juga terdeteksi dari Sumatra menuju Semenanjung Malaysia dan Singapura, serta dari Kalimantan menuju Semenanjung Malaysia.

 

 

Cermati Arah Angin

Sebaran Titik Api dan Kabut Asap Kebakaran Hutan. Foto: ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC)

Guswanto menambahkan, arah angin di Indonesia secara umum bergerak dari timur hingga tenggara menuju barat laut. Kondisi tersebut perlu dicermati untuk memahami pergerakan asap serta dampaknya terhadap kualitas udara di wilayah yang dilintasi.

"Artinya ini sudah melintas di Jawa ya. Yang perlu dicermati itu adalah tingkat konsentrasi air quality. Jadi, dari gambar tersebut kita melihat arah pergerakan asap di Jawa itu bergerak ke arah tenggara hingga barat. Sehingga perlu dipantau terus, apakah konsentrasi yang di Jakarta ini benar-benar meningkat di permukaan, atau hanya melintas di lapisan atmosfer atas," jelas dia.

Menurut Guswanto, dampak asap terhadap kualitas udara di permukaan masih perlu dipantau lebih lanjut. Keberadaan asap di atmosfer tidak serta-merta menunjukkan bahwa konsentrasi polutan di permukaan telah meningkat secara signifikan.

Meski demikian, masyarakat di wilayah terdampak disarankan menggunakan masker dengan kemampuan filtrasi yang baik serta mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kualitas udara memburuk.

"Jadi imbauannya yaitu gunakan masker, baik yang KN95, KF94, atau N95, itu lebih efektif dalam menyaring partikel udara," kata dia.

Terkait tingkat keparahan karhutla dan dampak sebaran asapnya, BMKG masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Penilaian tersebut antara lain dilakukan dengan melihat jumlah titik panas (hotspot), luas area terbakar, serta kondisi kualitas udara di wilayah terdampak.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya